Keterbatasan Alat, Relawan Gumelar Padamkan Kebakaran Hutan dengan Cara Manual

  • 27 Jul 2026 13:41 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan Gumelar masih mengandalkan cara manual untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Ketua MPA Kecamatan Gumelar, Kasno Teguh Sanjaya, mengungkapkan hal ini dalam program Halo RRI, Senin (27/7/26) pagi. Ia menyebut minimnya peralatan membuat relawan sering turun ke lapangan hanya bermodal batang pisang basah dan alat seadanya untuk menahan laju api.

Kasno menjelaskan, MPA Gumelar bekerja dengan fasilitas sederhana. Pemadaman kebakaran hutan di wilayah pegunungan selama ini bergantung penuh pada tenaga manusia dan semangat gotong royong warga.

MPA Gumelar aktif berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, terutama Forkopimcam Gumelar. Sasaran utama koordinasi ini adalah pengelola perkebunan, baik perkebunan pinus maupun kebun kakao yang tersebar di wilayah Kecamatan Gumelar.

“Kami berkoordinasi dengan pemerintahan terkait, terutama Forkopimcam Kecamatan Gumelar. Sasaran kami perkebunan, baik perkebunan pinus maupun kebun kakao, supaya tidak ada yang membakar atau menyerahkan api di wilayah hutan yang rawan kebakaran,” kata Kasno.

Langkah ini menyasar sumber masalah sejak awal. Kebakaran hutan di Gumelar kerap dipicu aktivitas membuka lahan dengan cara membakar.

Tantangan terbesar datang dari kondisi geografis. Titik kebakaran hutan di Gumelar umumnya berada di area pegunungan yang jauh dari sumber air.

Kasno menyebut, saat kebakaran terjadi, relawan MPA bersama unsur ormas terkait naik langsung ke titik api. Mereka memadamkan api dengan tangan kosong dan alat manual, karena tidak ada akses air di lokasi.

“Titik kebakaran itu ada di pegunungan, jadi tidak ada air, apalagi di musim kemarau. Semak-semak sudah kering dan gampang terbakar. Kami sebisa mungkin memadamkan api agar tidak merambat ke lahan sebelahnya,” ujar Kasno.

Musim kemarau memperberat kondisi ini. Semak kering di lereng bukit menjadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api.

Kasno berharap Pemerintah Kabupaten Banyumas segera melengkapi peralatan MPA Gumelar. Ia menyebut dua kebutuhan mendesak: alat semprot punggung berisi air, dan toren atau tandon air portabel.

Alat semprot punggung yang dimaksud berbentuk ransel dengan wadah air fleksibel, mirip kantong balon. Alat ini memudahkan relawan membawa air langsung ke titik api di medan pegunungan.

Toren air juga menjadi kebutuhan penting. Alat ini berfungsi menampung air dari sungai terdekat, kemudian diletakkan di pinggir jalan agar mudah diakses relawan. Kasno juga menyebut kebutuhan mesin pompa atau tangki semprot bermesin, sejenis alat semprot hama pertanian, untuk mempercepat proses pemadaman.

Selain menangani kebakaran, MPA Gumelar rutin melakukan sosialisasi ke warga. Kasno kerap diundang dalam pertemuan warga di berbagai bidang untuk menyampaikan langkah pencegahan kebakaran hutan.

Melalui pertemuan ini, MPA mengajak warga berperan aktif mencegah kebakaran, terutama menghindari praktik membuka lahan dengan cara dibakar.

Kasno menjelaskan langkah awal yang dilakukan MPA sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Relawan lebih dulu fokus mengamankan lahan yang belum terbakar, melalui penyekatan area.

Penyekatan ini dilakukan dengan alat seadanya. Salah satu cara yang digunakan adalah mengepung titik api dengan batang tanaman yang masih basah, termasuk batang pisang.

“Kami fokus ke lahan yang belum terbakar, kami sekat agar api tidak menjalar. Caranya dengan alat seadanya, salah satunya batang-batang yang masih basah, seperti batang pisang,” jelas Kasno.

Cara sederhana ini menjadi garda depan sebelum bantuan resmi datang. Di tengah keterbatasan alat, semangat relawan MPA Gumelar tetap menjadi tumpuan warga saat kebakaran hutan mengancam. (Syafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....