Lulusan Ekonomi Sukses Kembangkan Inovasi Budidaya Melon Hidroponik

  • 08 Jul 2026 13:34 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga: Berbekal hobi berkebun, seorang lulusan ekonomi asal Kabupaten Purbalingga, Tri Bowo Pangestika, berhasil membuktikan bahwa latar belakang pendidikan bukan menjadi penghalang untuk berinovasi di sektor pertanian. Melalui riset dan pembelajaran secara otodidak, ia sukses mengembangkan budidaya melon hidroponik dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT).

Tidak hanya itu, ia juga dapat menciptakan pupuk bernutrisi AB Mix Sajiva yang mengantarkannya meraih penghargaan hingga tingkat nasional. Bowo mengaku tidak pernah membayangkan akan menekuni dunia pertanian.

Sebagai lulusan ekonomi, awalnya ia hanya menyalurkan kegemarannya berkebun dengan mencoba menanam melon menggunakan sistem hidroponik.

"Dari hobi berkebun, saya mulai belajar sendiri bagaimana cara membudidayakan melon hidroponik yang menghasilkan buah berkualitas," ujarnya.

Proses pengembangan budidaya tersebut tidak berlangsung instan. Bowo melakukan berbagai percobaan untuk menemukan formulasi terbaik, mulai dari pengaturan kadar oksigen, komposisi unsur hara, tingkat keasaman (pH), hingga sistem penanaman yang paling efektif.

Dari serangkaian eksperimen itu, lahirlah pupuk nutrisi AB Mix Sajiva yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan tanaman melon hidroponik. Tidak hanya menciptakan nutrisi tanaman, Bowo juga mengembangkan teknologi budidaya melalui pembangunan greenhouse yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Inovasi tersebut mampu menghasilkan buah melon dengan kualitas yang lebih baik, baik dari segi ukuran, rasa, maupun tingkat kemanisan. Keberhasilan inovasinya mendapat pengakuan dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Tahun 2023.

Bowo berhasil meraih Juara Terbaik tingkat Kabupaten, Juara I tingkat Provinsi, serta Juara Harapan I tingkat Nasional. Meski inovasinya berhak memperoleh fasilitas hak paten sebagai bagian dari penghargaan, Bowo memilih untuk tidak mengambilnya.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan secara luas oleh para petani di Indonesia. "Lomba TTG ini memberikan hadiah salah satunya hak paten, tetapi saya tidak mengambilnya karena inovasi tersebut saya harap bisa diterapkan oleh petani lain untuk bisa dikembangkan," kata Bowo.

Kini, lahan budidaya yang dikelolanya berkembang menjadi kawasan pertanian terpadu bernama Artansi Chandra Kahuripan. Selain menjadi sentra produksi melon, kawasan tersebut juga difungsikan sebagai tempat wisata edukasi sekaligus pusat pelatihan bagi petani dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Salah satu mahasiswa magang dari Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan di lokasi tersebut. "Di sini kami belajar mengenai sistem budidaya melon dengan berbagai varietas yang berbeda serta sistem penanaman yang diterapkan di tempat ini," ujarnya.

Melalui pengembangan kawasan edukasi tersebut, Bowo berharap semakin banyak generasi muda tertarik menekuni dunia pertanian modern. Ia juga ingin inovasi budidaya melon hidroponik yang dikembangkannya dapat terus disempurnakan dan diterapkan oleh lebih banyak petani.

Menurutnya, kolaborasi antara inovasi teknologi dan semangat berbagi pengetahuan akan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil pertanian Indonesia di masa mendatang. Dengan demikian, sektor pertanian tidak hanya mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....