Desa Wisata Karangpucung Padukan Edukasi dan Pemberdayaan

  • 19 Jun 2026 08:01 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga: Desa wisata tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat dan penggerak ekonomi lokal. Hal itu yang terus dikembangkan Desa Wisata Karangpucung, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga, melalui konsep pertanian terintegrasi yang melibatkan ratusan warga.

Pengelola Desa Wisata Karangpucung, Tri Bowo Pangestika, mengatakan pengembangan desa wisata berawal dari kawasan pertanian terintegrasi yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu lokasi. Konsep tersebut dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan.

"Awalnya kami memiliki satu lokasi pertanian terintegrasi yang di dalamnya ada pertanian, peternakan, dan perikanan dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Saat ini anggota yang terlibat kurang lebih 140 orang. Dari situlah kemudian berkembang hingga mendapatkan SK Desa Wisata pada tahun 2024," kata Tri Bowo kepada RRI.

Menurutnya, keberadaan desa wisata tidak hanya menawarkan aktivitas rekreasi, tetapi juga edukasi dan pelatihan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat maupun pengunjung.

Di kawasan wisata tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas seperti memetik hasil panen sayuran dan buah-buahan, melihat budidaya perikanan, hingga mengenal peternakan dalam satu lokasi yang terintegrasi.

Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan adalah melon hidroponik. Selain itu, tersedia pula semangka, pepaya, jamu, dan berbagai jenis tanaman hortikultura yang dapat dipanen langsung oleh pengunjung.

"Kalau yang menjadi unggulan kami adalah melon hidroponik. Dalam satu periode panen biasanya ada sekitar 10 varietas melon yang dibudidayakan di lima greenhouse yang kami miliki," ujarnya.

Selain wisata umum, Desa Wisata Karangpucung juga menjadi tujuan kegiatan edukasi bagi anak-anak usia dini hingga sekolah dasar. Para peserta dapat belajar mengenal tanaman, peternakan, dan perikanan secara langsung melalui praktik di lapangan.

Tidak hanya itu, lokasi tersebut juga kerap menjadi tujuan studi tiru bagi kelompok tani, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), perangkat desa, hingga organisasi perangkat daerah dari berbagai wilayah.

Tri Bowo menambahkan, pihaknya juga rutin menyelenggarakan berbagai pelatihan, mulai dari budidaya melon hidroponik, peternakan sapi, hingga program magang yang bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

"Jadi hampir setiap saat ada aktivitas pelatihan di tempat kami. Selain wisata, kami juga fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan," katanya.

Meski demikian, pengelolaan desa wisata yang melibatkan banyak pihak masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kebutuhan investasi untuk pengembangan sarana dan prasarana wisata.

"Yang saat ini terus kami perbaiki adalah kemampuan SDM. Karena berada di desa, jumlah dan kualitas sumber daya manusia yang tersedia masih terbatas. Itu yang terus kami tingkatkan secara bertahap," jelasnya.

Terkait kunjungan wisata, Desa Wisata Karangpucung terbuka setiap hari bagi masyarakat yang ingin berkunjung. Sementara untuk menikmati momen panen melon secara lengkap, biasanya berlangsung setiap dua bulan sekali.

Tri Bowo mengajak masyarakat Purbalingga, Banyumas, dan daerah sekitarnya untuk datang langsung dan merasakan pengalaman wisata edukasi berbasis pertanian yang berbeda dari tempat lain.

"Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, silakan datang ke Artansi Agro Edu Wisata. Kami menawarkan pengalaman unik berupa pertanian terintegrasi dengan berbagai jenis tanaman dan buah yang bisa dipetik langsung di lokasi," tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....