Hadapi Tantangan Digital, UMP Perkuat Karakter Inklusif
- 10 Jun 2026 16:18 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menghadirkan berbagai tantangan baru bagi generasi muda, mulai dari maraknya disinformasi, polarisasi sosial, hingga menurunnya kualitas dialog di ruang publik.
Kondisi tersebut dinilai perlu direspons oleh perguruan tinggi melalui penguatan karakter mahasiswa agar mampu hidup di tengah keberagaman dan perubahan yang terus berlangsung.
Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Prof. Dr. Jebul Suroso menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini tidak cukup berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan semata.
Kampus juga harus menjadi ruang pembentukan karakter yang mampu melahirkan generasi yang terbuka terhadap perbedaan, memiliki empati sosial, serta mampu berkolaborasi dalam kehidupan yang semakin kompleks.
| Baca juga: UMP Perkuat Ekosistem Riset Bersama BRIN |
Menurut Prof. Jebul, tantangan yang dihadapi Generasi Z berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi membuat mereka hidup dalam arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang besar untuk belajar, berkreasi, dan berinovasi. Namun di sisi lain, generasi muda juga rentan terpapar disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai bentuk polarisasi yang berkembang di ruang digital.
“Kampus memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial. Mereka harus mampu menghargai perbedaan, membangun dialog, dan bekerja sama dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun budaya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima RRI, Rabu (10/6/2026).
Rektor menjelaskan bahwa keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, pendidikan tinggi perlu menghadirkan lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk belajar hidup berdampingan, saling memahami, dan menghargai perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
Menurutnya, konsep toleransi saja tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Generasi muda perlu didorong untuk memiliki sikap yang lebih inklusif, yakni kemampuan untuk berinteraksi secara aktif, berkolaborasi, dan membangun pemahaman bersama dengan kelompok yang memiliki latar belakang berbeda.
“Di masa depan, dunia kerja dan kehidupan sosial akan semakin mengandalkan kolaborasi lintas budaya dan lintas negara. Karena itu, kemampuan memahami keberagaman menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa,” kata Rektor.
Prof. Jebul menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai laboratorium sosial yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah, latar belakang ekonomi, budaya, hingga pandangan yang beragam. Keberagaman tersebut, menurutnya, harus dimanfaatkan sebagai proses pembelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan materi yang diperoleh di ruang kelas.
Selain penguatan karakter inklusif, ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi digital di kalangan mahasiswa. Kemampuan berpikir kritis diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
“Kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan sosial dan moral. Jika tidak, kemajuan teknologi justru bisa memperbesar konflik dan kesenjangan di masyarakat,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia yang adaptif dan mampu bekerja sama dalam lingkungan yang beragam, gagasan mengenai kampus inklusif dinilai semakin relevan. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang kompeten secara profesional, tetapi juga individu yang mampu menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Bagi Prof. Jebul, keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau capaian akademik yang diraih. Lebih dari itu, keberhasilan kampus juga tercermin dari kemampuannya melahirkan generasi yang memiliki kepedulian sosial, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan. Kampus harus hadir untuk menyiapkan generasi seperti itu,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....