Petani Cabai Banyumas Waspadai Ancaman Kemarau Panjang

  • 02 Jun 2026 11:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Menjelang musim kemarau, petani cabai di Kabupaten Banyumas mulai melakukan berbagai persiapan untuk menjaga produktivitas tanaman. Terutama di tengah prediksi kemarau panjang dan potensi dampak fenomena El Nino.

Petani Cabai di Banyumas, Rangga menyatakan bahwa kondisi pertanian cabai di Banyumas saat ini masih bervariasi. Sebagian petani masih berada dalam fase panen, meski sudah memasuki tahap akhir dengan produktivitas yang mulai menurun.

Sementara sebagian besar lainnya justru baru memulai masa tanam.

“Rata-rata petani sekarang ada yang masih panen, tapi panen akhir, produktivitasnya sudah tidak sebanyak saat awal panen. Sebagian besar lainnya justru baru mulai tanam, ada yang masih olah lahan, ada yang tanaman cabainya baru berusia sekitar 30 hari,” katanya.

Menurutnya, pola tanam menjelang musim kemarau memang kerap dimanfaatkan petani untuk mengambil momentum produksi di masa off-season. Khususnya pada periode Juli hingga Agustus, saat pasokan cabai biasanya mulai berkurang di pasaran.

Di sisi lain, kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang mulai berkurang justru membawa keuntungan tersendiri bagi petani yang masih memasuki masa panen. Berkurangnya kelembapan udara dinilai mampu menekan risiko serangan jamur dan penyakit patogen yang selama ini menjadi ancaman utama tanaman cabai saat musim hujan.

Meski demikian, ancaman lain tetap mengintai, terutama serangan hama seperti trips dan kutu-kutuan yang cenderung meningkat saat cuaca lebih kering. Untuk menghadapi musim kemarau, petani mulai memperkuat pengolahan lahan dengan menambah penggunaan pupuk organik, baik kompos maupun pupuk kandang yang telah difermentasi dengan baik.

Langkah tersebut dilakukan agar tanah mampu menyimpan cadangan air lebih lama. “Pupuk kandang atau kompos itu seperti spons. Fungsinya membantu menyimpan air di tanah. Biasanya jumlahnya diperbanyak saat mau kemarau, tapi memang harus sudah difermentasi dengan baik,” katanya.

Selain itu, petani juga mulai menambahkan unsur mikroba ke dalam tanah guna menjaga kesuburan lahan sekaligus membantu mempertahankan kelembapan tanah selama musim kering berlangsung. Persiapan lain yang dilakukan yakni penyediaan sumber air cadangan.

Bagi lahan yang jauh dari akses air, petani harus menyiapkan biaya tambahan untuk membuat sumur bor, sumur resapan, hingga kolam penampungan air. Sementara petani yang memiliki akses dekat sumber air umumnya memilih membuat tandon atau drum penyimpanan air untuk kebutuhan penyiraman.

Di tengah tantangan cuaca, petani berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu ekstrem sehingga kebutuhan air untuk tanaman tetap dapat terpenuhi. Selain itu, stabilitas harga cabai juga menjadi perhatian penting bagi petani.

Pasalnya, biaya perawatan tanaman selama musim kemarau diperkirakan meningkat dibanding musim biasa, terutama untuk kebutuhan pengairan dan pengendalian hama. Sehingga petani juga berharap adanya dukungan dari pemerintah dan pihak terkait dalam memastikan ketersediaan air pertanian apabila musim kemarau panjang benar-benar terjadi di wilayah Banyumas.

“Harapannya harga cabai tetap stabil dan bersahabat dengan petani, supaya biaya produksi yang lebih tinggi saat musim kemarau tetap bisa tertutupi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....