Kolaborasi Pentahelix Dinilai Jadi Kunci Penguatan Industri Jamu Nasional

  • 03 Jul 2026 22:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, perguruan tinggi, regulator, masyarakat, dan media dinilai menjadi kunci dalam memperkuat industri jamu nasional. Sinergi tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Pentahelix 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Jamu ke-18 dengan mengusung tema "Modernizing Heritage, Jamu Sebagai Solusi Wellness Masa Depan Bangsa". Berbagai pemangku kepentingan hadir, mulai dari perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, BPOM Banyumas, tokoh pendiri jamu, pelaku industri, hingga pelaku UMKM jamu se-Banyumas Raya.

Ketua Umum PPJAI Apt. Heri Susanto mengatakan, forum pentahelix menjadi wadah kolaborasi seluruh elemen yang memiliki peran dalam pengembangan industri jamu, mulai dari pelaku usaha, regulator, akademisi, tokoh masyarakat, hingga media.

"Pentahelix ini adalah wujud nyata kolaborasi PPJAI sebagai wadah pelaku usaha dengan regulator seperti BPOM dan dinas terkait, akademisi, tokoh masyarakat, serta media. Seluruh elemen memiliki peran penting dalam memperkuat industri jamu Indonesia," ujarnya.

Menurut Heri, keterlibatan perguruan tinggi juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan regenerasi pelaku industri jamu. Salah satunya diwujudkan melalui lomba meracik jamu yang diikuti sembilan perguruan tinggi dari berbagai daerah.

"Ada sembilan perguruan tinggi yang mengikuti lomba meracik jamu. Ini merupakan proses kaderisasi di dunia jamu. Jangan sampai jamu tidak memiliki generasi penerus. Karena itu, generasi muda harus mulai mengenal, mencintai, dan mengembangkan jamu dengan pendekatan yang lebih modern dan ilmiah," katanya.

Ia optimistis pelaku usaha yang tergabung dalam PPJAI mampu menghasilkan produk jamu yang berkualitas dan berdaya saing. Karena itu, Heri berharap kolaborasi yang telah terbangun melalui forum pentahelix dapat terus diperkuat.

"Kami mohon dukungan dari bapak dan ibu sekalian agar kolaborasi ini terus berjalan dan semakin besar. Dengan kerja sama yang kuat antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media, saya yakin masa depan jamu Indonesia akan semakin cerah," ujarnya.

Ketua Dewan Pembina PPJAI Mukit Hendrayatno menilai jamu memiliki potensi ekonomi yang besar, namun membutuhkan keterlibatan generasi muda agar mampu terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

"Jamu adalah produk bernilai tambah tinggi yang harus didorong oleh kaum muda. Jika tidak dilestarikan oleh para penerus, bukan tidak mungkin jamu hanya akan bergeser dari kekayaan alam menjadi sekadar cagar budaya," katanya.

Mukit menambahkan, inovasi dalam pemasaran juga perlu terus dilakukan agar produk jamu mampu bersaing sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama UMP Assoc. Prof. Saefurrohman yang mewakili Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso menegaskan kesiapan UMP mendukung pengembangan industri jamu melalui pendidikan, riset, dan inovasi.

Menurutnya, UMP memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui Fakultas Kedokteran yang memiliki keunggulan di bidang kedokteran herbal beserta kebun herbalnya, serta Fakultas Farmasi yang berperan dalam pengembangan obat herbal.

"Dalam konsep pentahelix, peran UMP sangat krusial, terutama melalui Fakultas Kedokteran dengan keunggulan kedokteran herbal dan memiliki kebun herbal serta Fakultas Farmasi yang memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan obat herbal unggulan," ujarnya.

Ia menambahkan, UMP terbuka untuk menjalin kolaborasi riset guna meningkatkan kualitas sekaligus daya saing jamu Banyumas hingga ke pasar internasional.

Dukungan juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Asisten Administrasi Umum Sekda Banyumas Amrin Ma'ruf menilai pengembangan industri jamu sejalan dengan potensi daerah yang berbasis sektor pertanian. Menurut Amrin, Pemkab Banyumas terus mendorong pengembangan sektor herbal, salah satunya melalui program petani milenial yang kini mulai membudidayakan berbagai tanaman obat.

"Banyumas lebih cocok dikembangkan melalui industri berbasis agro, dan jamu adalah salah satu pilar utamanya," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....