UGM Terapkan Teknologi Tepat Guna untuk Tingkatkan Mutu Gula Semut Banyumas
- 01 Jun 2026 20:27 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi gula semut untuk kebutuhan ekspor dilakukan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penerapan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas.
Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini ditujukan untuk menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten, proses produksi yang lebih terstandar, serta daya saing yang lebih kuat di pasar internasional.
Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., mengatakan pelatihan bertajuk "Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas" berlangsung selama tiga hari, 31 Mei hingga 2 Juni 2026. Kegiatan yang digelar di Desa Pageraji tersebut diikuti puluhan petani penderes dari berbagai desa di Kecamatan Cilongok.
"Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan Kopipo (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya Kopipo," ujarnya.
Sri Rahayoe menjelaskan, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki sejumlah keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki masa simpan lebih lama, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik.
Menurutnya, salah satu sentra produksi utama gula semut nasional berada di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada 2024 dan menyumbang sekitar 40–50 persen produksi gula kelapa nasional, menjadikannya wilayah penting dalam rantai pasok gula semut Indonesia
"Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan gula semut terus tumbuh. Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, sehingga menjadi eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut," ucapnya.

Meski memiliki potensi pasar yang besar, produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya adalah ketidakseragaman mutu produk, terbatasnya pengendalian proses produksi, serta tingginya ketergantungan terhadap keterampilan operator. Proses evaporasi nira masih banyak dilakukan secara konvensional, sedangkan proses kristalisasi umumnya mengandalkan pengalaman produsen.
"Kondisi tersebut menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar agar mampu menghasilkan gula semut berkualitas sesuai kebutuhan pasar nasional maupun internasional," tuturnya.
Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar. Kedua alat tersebut dirancang untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator berfungsi mengentalkan nira hingga siap dikristalkan dengan suhu yang lebih terkendali, sedangkan kristalisator membantu mempercepat dan menyeragamkan pembentukan kristal gula semut.
"Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM," ucapnya.

Pelatihan ini juga menghadirkan mitra internasional UGM, yakni Universiti Putra Malaysia (UPM), yang berbagi praktik terbaik pengolahan kelapa di Malaysia. Sementara itu, PT IMC sebagai eksportir yang membina pengrajin gula kelapa di wilayah Cilongok memberikan sesi berbagi pengalaman mengenai tantangan ekspor gula semut.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai produksi gula semut dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pengendalian mutu produk akhir.
"Penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani," kata Sri Rahayoe.
Dengan proses produksi yang lebih terkendali, kualitas gula semut diharapkan menjadi lebih seragam, mampu mengurangi produk off-grade, dan semakin kompetitif di pasar ekspor.
Program ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....