Pelajar Purbalingga Telusuri Jejak Pabrik Gula Kalimanah dalam Jelajah Budaya
- 07 Mei 2026 18:06 WIB
- Purwokerto
REI.CO.ID, PURBALINGGA – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Bidang Pembinaan Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga kembali menggelar kegiatan rutin "Jelajah Budaya". Tahun ini, eksplorasi sejarah difokuskan pada sisa-sisa kemegahan masa lalu di Kecamatan Kalimanah, tepatnya di kompleks eks SMA Santo Agustinus.
Tenaga Teknis Museum Bidang Pembinaan Kebudayaan Dindikbud Purbalingga, Anita Ika Cahyani, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi tahun ini bertujuan untuk mengungkap sejarah yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas bahwa di kecamatan Kalimanah pernah berdiri Pabrik Gula Kalimanah yang cukup luas.
"Setiap tahun lokasi cagar budaya yang kita kunjungi selalu berpindah. Sebelumnya kita pernah ke wilayah kolonial di Kelurahan Bancar, lalu ke Desa Onje. Tahun ini kita pilih jalur Kalimanah karena banyak yang belum tahu bahwa di sini pernah berdiri Pabrik Gula Kalimanah yang cukup luas," ujar Anita di sela-sela kegiatan.
Melalui kegiatan Jelajah Budaya, sebanyak 70 peserta yang terdiri dari pelajar SMA/SMK di wilayah Kalimanah serta mahasiswa, diajak melihat langsung bukti fisik peninggalan pabrik gula tersebut.
Lokasi utama yang dikunjungi adalah bangunan yang kini menjadi ruang pertemuan Yayasan Santo Agustinus, yang dulunya merupakan rumah administrator pabrik, kemudian bangunan mangkrak di samping eks SMA Santo Agustinus yang menjadi saksi bisu kejayaan industri gula masa lalu.
Selaian itu, peserta juga menyusuri area di sekitar Panti Wreda, di mana sisa-sisa rel kereta api untuk distribusi gula masih bisa dijumpai.
"Kita ingin generasi muda tahu bahwa di Purbalingga kita ini ada cagar budaya. Lewat media sosial, mereka bisa membantu mengenalkan dan menjaga bangunan ini agar tidak rusak," tambah Anita.
Selain pengenalan fisik bangunan, para peserta juga diperkenalkan pada budaya menganyam khas Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari. Aktivitas menganyam ini diharapkan bisa diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Purbalingga.
Meskipun pada tahun 2026 ini kegiatan Jelajah Budaya oleh Dindikbud hanya dilaksanakan satu kali, Anita Ika Cahyani berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah untuk berinisiatif melakukan hal serupa secara mandiri.
"Semoga sekolah-sekolah tergerak untuk jelajah budaya sendiri. Kegiatan ini dibolehkan dan sangat edukatif. Kami ingin para pelajar merasa bangga dan memiliki kepedulian terhadap sejarah yang ada di sekitar mereka," tutup Anita.
Kegiatan ini mendapat apresiasi positif dari para tenaga pendidik. Destiani, Guru Sejarah di SMK YPT 1 Purbalingga, menyatakan bahwa Jelajah Budaya ini sangat relevan dengan kurikulum sejarah lokal yang ia ajarkan di sekolah.
"Saya sangat mendukung kegiatan ini. Dalam pembelajaran, saya selalu mengangkat sejarah lokal Purbalingga. Dengan melihat langsung peninggalannya, anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi juga bisa melakukan penelitian sejarah langsung," ungkap Destiani.
Ia menambahkan bahwa para siswa biasanya diberi tugas membuat dokumentasi kreatif berupa vlog maupun laporan tertulis.
Destiani menilai eksplorasi sejarah lokal Purbalingga penting, karena menurutnya bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.
"Ini penting, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya," tegasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....