Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Berdampak Signifikan pada Angkutan Umum di Banyumas

  • 29 Apr 2026 07:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada April 2026 mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Banyumas. Meski demikian, kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap operasional angkutan umum.

Ketua Organda Kabupaten Banyumas, Sugiyanto, menyampaikan bahwa hingga saat ini angkutan umum masih bergantung pada BBM subsidi, yakni Pertalite dan solar, yang belum mengalami kenaikan harga.

“Alhamdulillah, kenaikan BBM yang terjadi saat ini bukan pada jenis yang digunakan oleh angkutan umum. Pertalite dan solar masih tetap, sehingga belum ada dampak langsung terhadap operasional kami,” ujar Sugiyanto.

Ia menjelaskan, belum adanya kenaikan pada BBM subsidi membuat tarif angkutan umum juga masih stabil. Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta meningkatkan jumlah penumpang.

“Untuk jumlah penumpang, sejauh ini belum ada peningkatan. Justru masih cenderung menurun dan belum menunjukkan perubahan signifikan,” katanya.

Meski belum terdampak secara langsung, Sugiyanto mengakui adanya kekhawatiran di kalangan pengusaha dan pengemudi angkutan umum terhadap potensi kenaikan BBM subsidi di masa mendatang.

“Kekhawatiran pasti ada, karena kenaikan BBM nonsubsidi cukup tinggi. Kami berharap pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite dan solar, khususnya untuk mendukung operasional angkutan umum,” ungkapnya.

Ia menambahkan, apabila terjadi kenaikan pada BBM subsidi, maka dampaknya akan cukup besar bagi keberlangsungan usaha angkutan umum. Salah satu kemungkinan yang tak terhindarkan adalah penyesuaian tarif angkutan.

“Kalau sampai Pertalite atau solar naik, tentu akan berdampak langsung. Kemungkinan tarif juga harus disesuaikan. Tapi kami tidak mengharapkan itu, karena meskipun tarif naik, belum tentu kondisi di lapangan membaik,” jelasnya.

Selain itu, Sugiyanto juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi angkutan umum, seperti penurunan jumlah penumpang serta kebijakan terkait umur teknis kendaraan yang dinilai semakin memberatkan.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya menyebut akan melakukan upaya mitigasi untuk menjaga keberlangsungan angkutan umum, sembari berharap adanya kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor transportasi darat.

“Harapan kami, pemerintah bisa mempertimbangkan kondisi angkutan umum agar tetap bisa bertahan di tengah berbagai tantangan yang ada,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....