Makna Kartini Bukan Sekadar Kebaya, tetapi Keberanian

  • 21 Apr 2026 10:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Peringatan Hari Kartini dinilai tidak boleh hanya dimaknai sebatas simbolisasi budaya seperti mengenakan kebaya. Lebih dari itu, semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini perlu dihidupkan dalam bentuk keberanian berpikir kritis, bersuara, dan melawan ketimpangan sosial.

Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan III FISIP Unsoed Purwokerto, Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos,. Menurutnya, selama ini peringatan Hari Kartini kerap direduksi hanya pada aspek simbolik.

Padahal, ada nilai-nilai substantif yang jauh lebih penting untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Ada tiga hal utama dari sosok Kartini, yaitu berpikir kritis di tengah budaya patriarki, keberanian untuk bersuara, dan keberanian melawan ketimpangan struktural,” ucapnya.

Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut perlu terus digaungkan agar peran Kartini tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi benar-benar hadir dalam realitas sosial. Khususnya dalam mendorong keberanian generasi muda menyuarakan berbagai persoalan di masyarakat.

Dalam konteks pendidikan tinggi, Tiaz menjelaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan pemberdayaan. Di lingkungan kampus, mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan diberikan ruang yang sama untuk berkembang.

Di FISIP Unsoed, misalnya, terdapat puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkreasi. Bahkan, mereka menyampaikan ide, serta melakukan pemberdayaan masyarakat.

“Kami tidak membedakan posisi laki-laki dan perempuan. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersuara,” katanya.

Selain itu, pihak kampus juga menyediakan ruang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, termasuk dalam menangani kasus kekerasan seksual. Kampus telah membentuk satuan tugas (satgas) guna memastikan perlindungan dan penanganan yang tepat terhadap korban.

Upaya penanaman nilai emansipasi juga diintegrasikan dalam kurikulum. Berbagai mata kuliah yang mengangkat isu gender, seperti sosiologi, komunikasi gender, hingga kesejahteraan gender dan inklusi sosial, menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa.

“Harapannya mahasiswa memiliki kesadaran bahwa kampus harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi,” katanya.

Tyas juga berpesan kepada generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus meningkatkan kapasitas dan keterampilan sesuai minat masing-masing. Menurutnya, kemampuan dan keahlian menjadi kunci untuk meningkatkan posisi tawar di masyarakat.

“Ketika perempuan punya kapasitas dan skill, mereka akan lebih dihargai dan tidak mudah dipandang sebelah mata. Dari situ, mereka bisa berkontribusi dalam pembangunan,” ujarnya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk terus semangat melanjutkan perjuangan Kartini dengan cara yang relevan di era saat ini. Yakni dengan berkarya, berani bersuara, dan menjadi pribadi yang berdaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....