BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Jawa Tengah Dimulai Mei
- 17 Mar 2026 13:40 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah merilis prediksi musim kemarau tahun 2026 untuk wilayah Jawa Tengah. Dalam rilis tersebut, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026, dengan sejumlah wilayah mengalami perbedaan waktu awal kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa prediksi ini disusun berdasarkan analisis dinamika atmosfer regional dan global. Termasuk fenomena iklim seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD).
Dalam rilis tersebut disebutkan, kondisi ENSO saat ini berada pada fase netral dengan indeks -0,28 dan diperkirakan bertahan hingga Semester I tahun 2026. Namun terdapat peluang munculnya El Niño pada awal Semester II tahun 2026. Sementara itu, IOD juga berada pada kondisi netral dan diprediksi berlanjut hingga pertengahan tahun.
Selain itu, suhu permukaan laut di perairan Indonesia pada periode Maret hingga Agustus 2026 diperkirakan berada pada kondisi normal hingga lebih hangat, dengan anomali berkisar antara +0,5 hingga +2,0 derajat Celsius. Monsun Australia juga diprediksi mulai dominan pada Mei 2026, yang menjadi salah satu penanda masuknya musim kemarau di Indonesia.

Secara umum, awal musim kemarau di Jawa Tengah diprediksi terjadi pada Mei 2026. Namun, terdapat variasi waktu di sejumlah daerah. Wilayah yang mengalami awal kemarau paling lambat diperkirakan terjadi pada pertengahan Juni 2026, termasuk sebagian wilayah Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Dengan demikian, wilayah Banyumas Raya diprediksi masih akan mengalami kondisi peralihan dari musim hujan ke kemarau hingga pertengahan Juni 2026. BMKG juga memprediksi sifat hujan pada musim kemarau tahun ini umumnya berada di bawah normal, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Dari sisi durasi, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian atau sekitar 5 hingga 6 bulan. Bahkan di beberapa wilayah, durasi kemarau bisa lebih panjang, mencapai 8 hingga 9 bulan.
Secara umum, panjang musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang 1 hingga 3 dasarian dibandingkan kondisi klimatologis normal. Memasuki masa peralihan musim, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Fenomena seperti hujan lebat berdurasi singkat, petir, angin kencang, hingga puting beliung berpotensi terjadi dan dapat memicu bencana hidrometeorologi. Masyarakat di wilayah Banyumas Raya dan sekitarnya diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah antisipasi terhadap dampak perubahan cuaca, terutama di masa pancaroba yang cenderung tidak menentu
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....