Cap Go Meh Perkuat Toleransi Banyumas
- 04 Mar 2026 12:03 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Perayaan Cap Go Meh tahun ini di Purwokerto terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Momentum ini menjadi simbol kuatnya toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di Banyumas. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam satu waktu yang sakral menunjukkan wajah daerah yang rukun dan terbuka.
Kepala Kantor Kementerian Agama Banyumas Ibnu Asaddudin menyampaikan bahwa kedekatan umat dengan ajaran agamanya menjadi kunci utama terciptanya kedamaian. Ia menekankan bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Ketika nilai itu dijalankan, yang muncul adalah sikap saling menghormati.
“Ketika umat dekat dengan ajarannya, maka yang keluar adalah kalimat-kalimat Tuhan, bukan hal-hal negatif,” ujarnya saat menghadiri perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto pada Selasa (3/3/2026).
Ibnu juga menambahkan bahwa kehadiran umat Konghucu di Purwokerto menjadi potensi kekuatan dalam membangun harmoni sosial. Menurutnya, peran Kementerian Agama adalah memastikan setiap pemeluk agama merasa dirangkul dan difasilitasi. Jika kondisi daerah aman dan rukun, maka pembangunan akan berjalan lebih mudah.
Bentuk dukungan nyata itu salah satunya diwujudkan melalui pengangkatan pegawai dari unsur Konghucu oleh pemerintah. Langkah tersebut dinilai sebagai bukti bahwa negara hadir untuk semua golongan, bukan sekadar wacana. Di tingkat nasional, jumlahnya memang masih terbatas, namun di Banyumas sudah ada perwakilannya.
“Bukan hanya ngomong-ngomong, tapi ini bukti nyata. Di Indonesia hanya lima, dan salah satunya ada di Banyumas,” ucapnya.
Camat Purwokerto, Oka Yudhistira Pranayudha menyoroti nilai akulturasi budaya dalam perayaan Cap Go Meh yang digelar 15 hari setelah Imlek. Ia menyebut perpaduan budaya lokal dan tradisi Tionghoa terlihat dari partisipasi warga asli Purwokerto dalam pawai dan kegiatan bersama, tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Oka juga menegaskan bahwa umat Muslim turut diundang, terlebih karena bertepatan dengan buka puasa bersama. Menurutnya, hal ini menunjukkan toleransi yang tidak sekadar simbolik, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Di Purwokerto semuanya menyatu. Tidak ada konflik suku atau agama, semuanya rukun dan bersama-sama membangun,” tuturnya.
Data sementara mencatat jumlah umat Konghucu di Banyumas sekitar 300 orang. Meski tidak banyak, menurut Oka, mereka tetap menjadi bagian penting dari keberagaman daerah.
“Perayaan Cap Go Meh tahun ini pun menegaskan bahwa perbedaan adalah kekuatan untuk menjaga Purwokerto tetap rukun dan harmonis,” kata Oka. (Ilham Ramdhani).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....