Mahasiswa PPL SPI UIN Saizu Terjun ke Industri Kreatif Batik
- 04 Mar 2026 01:03 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Program Praktik Pengalaman Lapang (PPL) tidak selalu identik dengan ruang kelas sekolah. Hal itu dibuktikan oleh mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) yang menjalani PPL di Rumah Batik Rajasa Mas, sebuah rumah produksi batik khas Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Selama 38 hari, terhitung sejak 8 Januari hingga 12 Februari 2026, lima mahasiswa diterjunkan langsung ke industri kreatif batik. Mereka tidak sekadar melakukan observasi, tetapi terlibat aktif dalam seluruh proses produksi batik tulis tradisional.
Penempatan mahasiswa di Rumah Batik Rajasa Mas bukan tanpa alasan. Industri kreatif ini tidak hanya berfokus pada produksi tekstil, tetapi juga mengedepankan nilai sejarah lokal dan filosofi budaya dalam setiap karya yang dihasilkan.
Setiap pemilihan bahan, desain motif, hingga corak warna selalu didasarkan pada nilai simbolik yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pendekatan inilah yang dinilai selaras dengan kompetensi mahasiswa SPI yang mempelajari sejarah dan kebudayaan Islam.
Selama pelaksanaan PPL, mahasiswa mempelajari proses membatik secara menyeluruh, mulai dari perancangan motif, proses nyanting menggunakan malam, hingga teknik pewarnaan kain. Seluruh tahapan dilakukan dengan metode batik tulis tradisional yang menjadi ciri khas rumah produksi tersebut.
Pemilik Rumah Batik Rajasa Mas, Tonik, menekankan bahwa setiap motif batik memiliki makna simbol budaya, sejarah, dan asal-usul tertentu. Motif dan warna tidak dipilih secara acak, melainkan melalui pertimbangan filosofis yang mendalam.
Mahasiswa didorong untuk menggali latar belakang historis dan makna simbolik sebelum menuangkannya ke dalam desain batik. Proses ini menjadi ruang belajar kontekstual yang mempertemukan teori sejarah dengan praktik budaya secara langsung.
Salah satu motif yang dihasilkan mahasiswa adalah motif Peksi Wijayakusuma. Motif ini memadukan unsur burung dan bunga dengan latar warna hitam dan emas, dipadukan sentuhan hijau yang memperkuat kesan elegan sekaligus sakral.
Selain itu, mahasiswa juga mengembangkan motif orisinal yang dirancang melalui bimbingan langsung dari para pengrajin batik setempat. Program PPL ini dinilai telah menghasilkan capaian konkret.
Mahasiswa berhasil memproduksi dua kain batik tulis berukuran besar yang dinilai layak jual. Selain itu, masing-masing mahasiswa juga merancang satu karya batik berukuran kecil sebagai hasil desain personal.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa PPL berbasis industri budaya mampu memberikan pengalaman autentik sekaligus kompetensi praktis. Mahasiswa tidak hanya memahami teori sejarah dan kebudayaan, tetapi juga menguasai keterampilan teknis serta proses kreatif dalam industri batik.
Melalui PPL berbasis industri budaya ini, mahasiswa SPI memperoleh pengalaman yang melampaui kompetensi akademik dan pedagogis. Mereka juga mengasah keterampilan kultural dan kewirausahaan yang relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif di daerah.
Rumah Batik Rajasa Mas di Maos menjadi ruang belajar alternatif yang mempertemukan sejarah, budaya lokal, dan praktik ekonomi kreatif. Model PPL seperti ini membuka peluang pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai calon pendidik yang adaptif dan kontekstual.
Dengan pengalaman tersebut, PPL tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban akademik bagi mahasiswa. Program ini menjadi proses pembelajaran nyata yang membekali mereka dengan kompetensi multidimensional untuk menghadapi tantangan dunia kerja maupun pengabdian kepada masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....