Mahasiswa KKN UIN Saizu 149 Sosialisasikan Pengelolaan dan Bank Sampah

  • 09 Agt 2026 19:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Pangandaran: Sampah tidak selalu harus berakhir menjadi limbah. Jika dikelola dan dipilah dengan tepat, sampah justru dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin utama dalam sosialisasi pengelolaan sampah dan pengenalan bank sampah. Kegiatan digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 149 di Aula Desa Mekarwangi, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang dihadiri puluhan warga tersebut menjadi salah satu program unggulan KKN Kelompok 149 untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah. Sekaligus juga memperkenalkan bank sampah sebagai solusi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi warga.

Acara dibuka oleh Kepala Desa Mekarwangi Jajang Ali bersama Ketua KKN Kelompok 149 Daniel Fikardo. Dalam sambutannya, Jajang menyambut baik inisiatif mahasiswa dan berharap pengetahuan yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Semoga ilmu yang disampaikan hari ini bisa benar-benar diterapkan oleh warga di kehidupan sehari-hari,” ujar Jajang Ali.

Sementara itu, Daniel Fikardo mengatakan, sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program kerja KKN Kelompok 149 yang berfokus pada persoalan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Materi sosialisasi kemudian dibagi dalam dua sesi.

Pada sesi pertama, mahasiswa KKN Kelompok 149, Imron, mengajak warga mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, sampah bukanlah musuh yang harus sekadar dibuang, melainkan sesuatu yang perlu dikelola dengan benar.

Ia memaparkan gambaran volume sampah yang dihasilkan masyarakat, mulai dari skala harian hingga tahunan. Imron juga menjelaskan tiga kategori utama sampah, yakni organik, anorganik, dan residu, termasuk waktu yang dibutuhkan masing-masing jenis sampah untuk terurai di alam.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah botol plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Tak hanya berdampak terhadap lingkungan, Imron mengingatkan bahwa pengelolaan sampah yang tidak tepat juga dapat menimbulkan persoalan kesehatan.

Pembakaran sampah secara sembarangan, misalnya, berpotensi mencemari udara, sementara sampah yang dibuang tanpa pengelolaan dapat mencemari tanah dan sumber air. Sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, ia memperkenalkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Imron juga mengenalkan Rocket Stove, alat pembakaran sampah yang dirancang lebih efisien dan menghasilkan lebih sedikit asap, sekaligus menjelaskan prinsip kerja dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya.

“Botol plastik itu sebenarnya bisa jadi beban lingkungan atau tabungan masa depan, tergantung bagaimana kita memilahnya,” ujar Imron.

Memasuki sesi kedua, materi disampaikan Sirojul Fauzi, S.Pd., atau yang akrab disapa Aa Siroj, selaku Direktur Bank Sampah Indah Lestari Desa Mekarwangi. Aa Siroj memaparkan dasar hukum pengelolaan sampah, di antaranya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017, serta Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 10 tentang Pengelolaan Sampah.

Selain aspek regulasi, ia menjelaskan pengertian sampah, dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan, serta berbagai jenis sampah, termasuk sampah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. Di hadapan warga, Aa Siroj kemudian menekankan pentingnya memulai pengelolaan sampah dari lingkungan paling kecil, yakni rumah tangga.

Masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah sebelum kemudian menyalurkannya ke bank sampah.

“Sampah kalau dikelola dengan baik akan menjadi berkah, sebaliknya kalau tidak dikelola dengan baik akan menjadi musibah. Dulu terkesan menjijikan, sekarang justru menjanjikan. Yuk, pilah sampah dari rumah, lalu tabungkan di Bank Sampah,” kata Aa Siroj.

Keberadaan bank sampah juga diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih sekaligus membuka peluang nilai ekonomi dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....