RRI Kemarin,Kini,dan Nanti: Menjawab Tantangan Digital, Pertahankan Kepercayaan
- 09 Sep 2026 16:07 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Delapan puluh satu tahun perjalanan Radio Republik Indonesia (RRI) tidak hanya mencatat perubahan sebuah lembaga penyiaran, tetapi juga perjalanan bangsa Indonesia dalam menemukan, menjaga, dan menyuarakan identitasnya. Dari menjadi suara perjuangan pada masa awal kemerdekaan hingga menghadapi derasnya arus informasi digital, RRI dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Sarasehan RRI bertajuk “RRI Kemarin, Kini, dan Nanti” pada Rabu (9/9/2026) di Auditorium Yusuf Ronodipuro. Kegiatan yang disiarkan melalui Pro 3 RRI tersebut dipandu Risty Rustarto dan menghadirkan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Dr. Muhammad Qodari, S.Psi., M.A., Direktur Utama LPP RRI I Hendrasmo, pengamat media Paulus Widyanto, serta Irawan Ronodipuro, putra tokoh penyiar RRI Yusuf Ronodipuro.
Membicarakan masa depan RRI tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahirannya. Bagi Irawan Ronodipuro, keberadaan RRI memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar institusi penyiaran.
“Sejarah RRI bukan hanya sejarah sebuah lembaga penyiaran, sejarah RRI adalah bagian dari sejarah perjuangan,” ujar Irawan.
RRI lahir ketika Republik Indonesia masih sangat muda dan membutuhkan sarana untuk menyampaikan keberadaan Indonesia kepada masyarakat di berbagai daerah maupun dunia internasional.
Pada masa tersebut Indonesia berada dalam keterbatasan. Peralatan maupun sumber daya untuk mempertahankan kemerdekaan belum memadai. Namun, bangsa Indonesia memiliki suara yang harus didengar.
“Indonesia memiliki suara, dan suara itu harus didengar. Di tengah keterbatasan ancaman dan ketidakpastian, RRI menjalankan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan berita,” ujar Irawan.
Sejak awal, fungsi RRI berkaitan dengan kebutuhan bangsa untuk memiliki suara sendiri. RRI menjadi medium yang mengabarkan bahwa Republik Indonesia berdiri dan tidak menyerah setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Semangat tersebut kemudian melekat dalam semboyan “Sekali di udara tetap di udara” yang oleh Irawan dipandang bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bahwa bangsa Indonesia membutuhkan suara.
Namun, suara yang dahulu harus diperjuangkan agar dapat menjangkau masyarakat kini justru berada di tengah kelimpahan informasi. Perubahan tersebut menjadi titik penting yang membedakan tantangan RRI pada masa lalu dan masa sekarang.
Jika dahulu masyarakat menunggu informasi dari radio, kini informasi hadir setiap saat melalui portal berita, media sosial, podcast, video, hingga kecerdasan artifisial. Kondisi itu membuat RRI tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana memastikan informasi yang disampaikan tetap memiliki nilai, akurasi, dan kepercayaan.
“Sekarang ini bukan kekurangan informasi, tapi justru berkelimpahan informasi. Mungkin kalau pakai istilah yang lebih superlatif, airbah informasi atau tsunami informasi,” ujar Qodari.
Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup telah membuat saluran informasi tidak lagi sederhana seperti ketika RRI pertama kali berdiri. Masyarakat kini memiliki banyak pilihan sumber informasi, sehingga posisi media publik juga ikut berubah.
“Kalau kita berada dalam satu echo chamber, enggak ada keberagaman itu. Nah, ini mungkin yang harus kita taklukkan. Caranya menurut saya tetap menjaga integritas informasi,” ujar Nezar.
Pernyataan tersebut menjadi penting bagi RRI karena keberagaman merupakan salah satu kekuatan yang melekat dalam karakter penyiarannya. Ketika algoritma cenderung menghadirkan konten berdasarkan kesukaan pengguna, RRI justru memiliki tugas untuk tetap menghadirkan beragam perspektif dan suara masyarakat.
RRI perlu mempertahankan integritas informasi sekaligus menjalankan peran sebagai clearing house of information di tengah maraknya misinformasi dan disinformasi. Ia melihat potensi RRI sudah cukup besar, tetapi masih harus berhadapan dengan gelombang informasi yang semakin kuat, termasuk konten yang diproduksi menggunakan AI.
Di sinilah tantangan transformasi digital RRI menjadi lebih kompleks. Berada di media sosial bukan hanya berarti memindahkan materi siaran radio ke platform digital. RRI harus memahami karakter setiap platform, pola konsumsi audiens, hingga cara algoritma bekerja.
Informasi yang benar juga harus mampu bersaing dalam ruang digital yang mengutamakan keterlibatan pengguna. konten yang tidak akurat tetapi menarik secara emosional dapat lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan informasi yang benar namun tidak dikemas secara menarik.
Hal tersebut menuntut RRI untuk mempertemukan dua hal yang selama ini kerap dipertentangkan, yakni kredibilitas dan daya tarik. Informasi yang benar tetap menjadi fondasi, tetapi penyajiannya harus mampu menjangkau masyarakat digital.
“Faktor kuncinya ada di human capital, maka bagaimana kita ini terus memperjuangkan capacity building untuk memperkuat human capital ini adalah satu strategi yang bisa diharapkan bisa menjawab, merespons tantangan-tantangan tadi,” ujar Hendrasmo.
Transformasi RRI tidak cukup hanya dilakukan dengan menghadirkan platform baru. Kemampuan orang-orang di dalam RRI menjadi bagian penting agar perubahan teknologi dapat diikuti dengan perubahan kompetensi dan cara kerja.
Hendrasmo juga menempatkan relevansi, dampak, dan public trust sebagai kata kunci dalam perjalanan RRI ke depan. Menurutnya, tantangan RRI adalah bagaimana tetap relevan dan memberikan dampak sebagaimana semangat para pendiri RRI ketika lembaga tersebut dibangun.
“Kita relevan, berdampak, dan kita terus memperjuangkan public trust. Nah, ini kata kunci yang sekarang kita perjuangkan,” tegasnya.
Transformasi digital dengan demikian bukan berarti meninggalkan karakter lama RRI. Justru teknologi digunakan untuk membawa nilai-nilai RRI agar tetap hadir dalam pola komunikasi masyarakat yang terus berubah.
“Kata kuncinya cuma satu, tetap pada jati diri. RRI tetap pada jati diri,” ujar Paulus.
Perubahan itu tidak boleh membuat RRI kehilangan akar keindonesiaannya.
“RRI, Indonesia menjadi kata kunci. Paradigma Indonesia, the Indonesian way itu kata kuncinya. Saya tetap percaya bahwa Indonesia akan tetap eksis, karena Indonesia eksis maka RRI eksis,” lanjut Paulus.
Platform dapat berubah, cara kerja dapat berkembang, dan masyarakat dapat berpindah dari radio ke media digital, tetapi nilai yang menjadi dasar RRI tetap harus dipertahankan.
Karena itu, identitas RRI di era digital tidak cukup dibangun melalui logo, aplikasi, atau keberadaan di berbagai media sosial. Identitas justru harus tercermin melalui kualitas konten yang diproduksi dan nilai Indonesia yang dibawanya.
“Bagaimana RRI mempertahankan relevansinya bagi Indonesia? Jadi radio tetap harus ada, tetapi RRI tidak boleh berhenti sebagai radio,” ujar Irawan.
Ia kemudian menegaskan bahwa RRI perlu hadir sebagai public media platform Indonesia yang dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai bentuk, mulai dari digital, streaming, podcast, video, media sosial, hingga perkembangan AI. Di balik seluruh perubahan tersebut, Irawan menekankan bahwa DNA RRI tidak boleh berubah, yakni kredibilitas, independensi, pelayanan publik, dan kepentingan nasional.
Salah satu tantangan terbesar yang muncul dalam sarasehan adalah bagaimana membuat generasi muda kembali mengenal dan mendengarkan RRI.
“Tantangannya adalah bagaimana membuat generasi muda mendengarkan RRI. Kita tidak bisa meminta mereka kembali ke masa lalu. Kita lah yang harus mendatangi mereka,” ujar Irawan.
Kehadiran RRI harus mengikuti tempat masyarakat muda mengonsumsi informasi.
“Kalau mereka menggunakan AI, RRI harus memahami dan memanfaatkan AI. Tapi sekali lagi, kita jangan hanya mengejar teknologi, kita tetap harus mengejar kepercayaan. Credibility tadi itu Pak Paulus,” kata Irawan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu penegasan paling kuat dalam sarasehan. Teknologi dapat membantu informasi menjadi viral, tetapi viralitas tidak otomatis menghasilkan kepercayaan. Bagi RRI yang telah melewati perjalanan panjang selama 81 tahun, kredibilitas menjadi modal yang harus dipertahankan ketika masuk ke dalam ruang digital. Dengan kata lain, generasi muda tidak cukup hanya menemukan RRI di media sosial. Mereka juga harus memiliki alasan untuk mempercayai informasi yang disampaikan RRI.
Kekuatan RRI terletak pada kemampuannya menghadirkan suara dari berbagai wilayah Indonesia, bukan hanya menjadikan Jakarta sebagai pusat informasi. RRI harus mampu membawa informasi dari daerah ke Jakarta dan dari seluruh Indonesia kepada dunia. Suara Indonesia tidak hanya berasal dari pusat pemerintahan, tetapi juga dari petani di Papua, nelayan di Maluku, anak muda di Kalimantan, pelaku UMKM di Jawa, hingga masyarakat di wilayah perbatasan.
Melalui jaringan yang dimiliki, RRI memiliki modal untuk menjadi ruang yang mempertemukan keberagaman Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana keberagaman tersebut dikemas menjadi konten yang relevan dan menarik bagi masyarakat digital.
Pada akhirnya, perjalanan “kemarin, kini, dan nanti” membawa RRI kembali pada semboyan yang telah lama melekat dalam sejarahnya. “Sekali di udara tetap di udara” dahulu menggambarkan tekad untuk terus menyuarakan keberadaan Republik Indonesia di tengah keterbatasan. Dalam era digital, semangat tersebut dapat dimaknai kembali dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Sekali di udara tetap di udara itu. Jadi di era digital ini saya membayangkan semangat itu menjadi sekali dipercaya. Tetap dipercaya. Sekali dipercaya,” tegas Irawan.
Pemaknaan tersebut sekaligus menjadi titik temu berbagai pandangan yang muncul dalam sarasehan. Teknologi dapat berubah, platform dapat berganti, pola konsumsi media dapat berkembang, dan algoritma dapat menentukan bagaimana informasi beredar. Namun, kepercayaan menjadi nilai yang tidak boleh hilang.
Karena itu, masa depan RRI bukan sekadar tentang seberapa jauh lembaga tersebut mampu mengikuti perkembangan teknologi. Masa depan RRI juga ditentukan oleh seberapa kuat lembaga tersebut mempertahankan identitasnya sebagai media publik yang menghadirkan informasi yang benar, relevan, beragam, dan berakar pada kepentingan Indonesia.
RRI kemarin adalah suara perjuangan. RRI kini adalah suara masyarakat. Dan RRI nanti diharapkan mampu menjadi suara Indonesia kepada dunia. Semangatnya tetap sama: hadir, menyuarakan, dan menjaga kepercayaan. (Novita Widya Putri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....