Kopi Terlalu Manis, Ancaman Kesehatan bagi Generasi Muda

  • 15 Sep 2026 18:29 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwot— Tren minum kopi semakin lekat dengan kehidupan generasi muda. Kopi tidak hanya dikonsumsi untuk mengusir rasa kantuk, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari menemani belajar dan bekerja hingga berkumpul bersama teman.

Namun, di balik tren tersebut, ada hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika kopi dikonsumsi dengan tambahan gula, sirup, krimer, maupun berbagai topping dalam jumlah berlebihan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam salah satu srtikelnya mengingatkan bahwa konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.

Termasuk obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Informasi tersebut disampaikan melalui laman resmi Kementerian Kesehatan RI dan kanal edukasi kesehatan

Kopi susu dan berbagai minuman kopi kekinian kini mudah ditemukan. Rasanya yang manis serta variasi tambahan seperti krim, sirup, jelly, hingga boba membuat minuman tersebut semakin digemari. Namun, berbagai tambahan tersebut juga dapat meningkatkan kandungan gula dan kalori dalam satu gelas.

Kementerian Kesehatan menyebut minuman kopi dan teh kekinian sebagai salah satu kelompok minuman yang perlu diwaspadai karena tambahan bahan seperti krim, sirup, jelly, atau boba dapat membuat kadar gulanya menjadi tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena konsumsi gula berlebihan secara terus-menerus dapat menyebabkan kelebihan asupan energi dan meningkatkan risiko berat badan berlebih atau obesitas.

Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat membatasi konsumsi gula maksimal 50-gram atau setara empat sendok makan per orang setiap hari. Batas tersebut mencakup gula yang berasal dari makanan maupun minuman yang dikonsumsi sepanjang hari.

Artinya, konsumsi satu minuman kopi yang sangat manis perlu diperhitungkan sebagai bagian dari keseluruhan asupan gula harian. Jika kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula berlangsung dalam jangka panjang, risiko berbagai penyakit tidak menular dapat meningkat.

Kemenkes menyebut konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dapat mendekatkan seseorang pada risiko penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Selain itu, Kemenkes juga mengingatkan bahwa lingkungan dengan banyak pilihan makanan dan minuman tinggi gula dan lemak, termasuk kopi susu dan minuman kekinian, dapat mendorong pola konsumsi yang kurang sehat pada generasi muda.

Konsumsi kopi tidak serta-merta harus dihentikan. Yang lebih penting adalah memperhatikan jenis kopi, jumlah konsumsi, serta bahan tambahan yang digunakan.

Kementerian Kesehatan melalui salah satu publikasinya mengenai konsumsi kopi juga menyebut kopi dapat memberikan manfaat tertentu, tetapi kandungan gula dan krim sebaiknya diminimalkan. Generasi muda dapat mulai membiasakan diri memilih minuman dengan kadar gula lebih rendah, mengurangi tambahan pemanis, serta memperhatikan informasi kandungan gizi pada produk yang dikonsumsi.

Kemenkes juga mendorong masyarakat untuk lebih sadar terhadap kandungan gula, garam, dan lemak dalam makanan serta minuman. Pada 2026, Kemenkes bahkan menerbitkan kebijakan pencantuman label gizi Nutri-Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis, sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat memilih konsumsi yang lebih sehat.

Bagi generasi muda, menikmati kopi tetap dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Namun, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak membuat konsumsi gula menjadi berlebihan. Memilih kopi dengan sedikit gula, mengurangi penggunaan sirup dan topping, serta tidak menjadikan minuman manis sebagai konsumsi harian berlebihan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan.

Kementrian kesehatan mengeaskan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar pada kopi, tetapi pada seberapa banyak gula yang ditambahkan dan seberapa sering minuman tersebut dikonsumsi. Dengan lebih bijak memilih dan mengatur konsumsi, tren minum kopi di kalangan generasi muda dapat tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....