Bulan Bakti Perdami 2026, JEC Anwari Purwokerto Gelar Operasi Katarak Gratis

  • 13 Jul 2026 20:13 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Klinik Utama Mata JEC Anwari Purwokerto berpartisipasi dalam bakti sosial operasi katarak yang digelar dalam rangka Bulan Bakti Perdami 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan mata bagi masyarakat, khususnya penderita katarak.

Bakti sosial yang mengusung tema "Satu Hari Sejuta Harapan untuk Indonesia Kembali Melihat, One Doctor One Sight" itu merupakan program yang diinisiasi Perdami atau Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Pelaksanaannya di Klinik Utama Mata JEC Anwari Purwokerto berlangsung pada 7–9 Juli 2026.

Sebagai bagian dari jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics, Klinik Utama Mata JEC Anwari Purwokerto mendukung pelaksanaan bakti sosial tersebut melalui layanan yang mencakup pendataan dan skrining calon pasien, pemeriksaan mata, pemeriksaan penunjang, tindakan operasi bagi pasien yang memenuhi syarat medis, hingga kontrol pascaoperasi.

Kepala Klinik Utama Mata JEC Anwari Purwokerto, dr. Kukuh Prasetyo, SpM, ChM, (Hon.)FIOF, mengatakan partisipasi dalam Bulan Bakti Perdami 2026 merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap semakin banyak pasien yang mendapatkan kesempatan untuk kembali melihat dengan lebih baik, beraktivitas dengan lebih mandiri, dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik," ujar dr. Kukuh, Senin (13/7/2026).

Ia menambahkan, kemampuan melihat kembali tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan, tetapi juga meningkatkan kemandirian pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, membaca, beribadah, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“JEC Eye Hospitals and Clinics sendiri telah memberikan layanan kesehatan mata sejak 1984. Selama lebih dari empat dekade, jaringan rumah sakit dan klinik mata tersebut telah menangani lebih dari 200 ribu operasi katarak dengan berbagai metode, mulai dari phacoemulsification hingga Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS),” tuturnya.

Menurut dr. Kukuh, kolaborasi dalam Bulan Bakti Perdami diharapkan dapat membantu menekan angka kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan penanganan katarak.

"Bagi kami, setiap pasien yang kembali melihat adalah harapan baru. Karena itu, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi layanan medis, tetapi juga bentuk dukungan nyata agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih percaya diri," ucapnya.

Kukuh menjelaskan. Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata mengalami kekeruhan sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal dan menyebabkan penglihatan menjadi buram.

Gejalanya berkembang secara bertahap, mulai dari pandangan berkabut, warna terlihat memudar, mata lebih sensitif terhadap cahaya, kesulitan melihat pada malam hari, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari seperti membaca.

“Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat proses penuaan, namun juga dapat dipicu faktor lain, seperti riwayat cedera mata, diabetes, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, paparan sinar ultraviolet, maupun faktor bawaan,” ujar dr. Kukuh.

Kukuh menambahkan, di Indonesia, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan. Berdasarkan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014–2016 yang dilakukan Perdami bersama Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi, angka kebutaan pada penduduk berusia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 81,2 persen disebabkan oleh katarak.

Meski menjadi penyebab utama kebutaan, katarak dapat ditangani melalui operasi. Dalam prosedur tersebut, lensa mata yang keruh diganti dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL) sehingga kualitas penglihatan pasien dapat kembali membaik.

“Perkembangan teknologi juga memungkinkan penanganan yang lebih presisi dengan pilihan metode operasi dan jenis lensa yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” kata dr. Kukuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....