Strategi Psikolog Kelola Stres dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 29 Apr 2026 13:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Stres sering kali dianggap sebagai beban negatif yang mengganggu produktivitas, padahal dalam perspektif psikologi, stres merupakan reaksi alami tubuh terhadap tekanan yang bisa diubah menjadi energi positif. Seperti penuturan psikolog Dr. Ugung Dwi Ario W. yang akrab disapa Mas Ugung dalam program Ruang Psikologi RRI Pro 1 FM Purwokerto, Senin (27/4/2026)

Sebagai psikolog Mas Ugung menyampaikan pentingnya pengelolaan stres melalui keseimbangan pola fisik, pengaturan pola pikir, serta pemanfaatan sistem pendukung (support system) guna menjaga kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan sehari-hari.

Mas Ugung menjelaskan bahwa stres terbagi menjadi dua kategori, yakni eustress (stres positif yang memotivasi) dan distress (stres negatif yang merusak). Menurutnya, stres adalah bagian tak terpisahkan dari fase pertumbuhan manusia, mulai dari tantangan masa sekolah hingga tuntutan pekerjaan dan finansial di masa dewasa.

"Jangan menganggap stres selalu sebagai ancaman, selama stres dianggap sebagai tantangan, ia menjadi hal positif yang membuat kita semakin tangguh," ujar Mas Ugung. Ia menambahkan bahwa manajemen stres dapat dilakukan dengan dua cara utama: mengurangi sumber stres (stressor) atau meningkatkan ambang batas ketahanan diri terhadap tekanan.

Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa pengelolaan stres harus dimulai dari pembenahan kondisi fisik yang mencakup tiga pilar utama: pola makan, pola tidur, dan olahraga. Mas Ugung menekankan bahwa waktu tidur ideal bagi usia produktif adalah sekitar 6 jam berkualitas.

Selain itu, teknik pernapasan sederhana seperti rumus 4-7-8 (tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, dan buang 8 detik) sangat efektif untuk menyuplai oksigen ke otak guna meredakan kecemasan secara instan. Dari sisi kognitif, pengelolaan pola pikir atau metakognisi berperan penting dalam mengontrol narasi negatif dalam diri.

Mas Ugung menyarankan pentingnya sikap asertif atau keberanian untuk berkata "tidak" pada tuntutan yang tidak sesuai hati nurani guna menghindari kelelahan mental. "Orang yang 'tidak enakan' cenderung lebih mudah mengalami stres karena beban emosional yang menumpuk," jelasnya.

Lebih lanjut, Mas Ugung memberikan tips praktis bagi masyarakat untuk mereduksi stres sehari-hari, di antaranya:

  • Menulis Jurnal: Mengeluarkan unek-unek melalui tulisan atau diari sebagai bentuk katarsis emosional.
  • Diet Gadget: Membatasi paparan media sosial agar tidak terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan validasi berlebih dari orang lain.
  • Mengubah Sudut Pandang: Berhenti membandingkan diri dengan standar orang lain dan fokus pada kesejahteraan diri sendiri (well-being).
  • Support System: Membangun relasi yang nyata dengan pasangan, sahabat, atau tenaga profesional seperti psikolog untuk mendapatkan umpan balik yang sehat.

Kunci utama dalam menghadapi tekanan hidup bukanlah dengan menghindari stres sepenuhnya, melainkan dengan memaafkan ketidaksempurnaan diri dan memilih cara merespons yang lebih bijak. Dengan tubuh yang bugar dan pikiran yang jernih, stres justru dapat menjadi katalisator bagi kedewasaan dan ketangguhan mental seseorang.

"Stres adalah pembelajaran yang membuat kita lebih dewasa," pungkas Mas Ugung di akhir sesi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....