Istilah Mental Health yang Populer di Kalangan GenZ

  • 09 Feb 2026 06:57 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Generasi Z semakin menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan mental. Isu seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan kepribadian kini lebih terbuka dibicarakan. Namun di sisi lain, masih terdapat stigma dari sebagian orang tua yang memandang masalah kesehatan mental semata-mata sebagai persoalan iman dan agama. Pandangan ini kerap membuat anak justru merasa semakin jauh dari lingkungan religius.

Dalam diskusi di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ., atau yang akrab disapa dokter Vivi, menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental tidak bisa disederhanakan. Ia menegaskan bahwa mental illness memiliki penyebab multifaktor, mulai dari biologis, psikologis, sosial, hingga pengalaman hidup seseorang.

Narcissistic Personality Disorder (NPD)

NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa percaya diri berlebihan, kebutuhan tinggi akan pengakuan, serta minim empati terhadap orang lain. Penderita NPD cenderung merasa dirinya paling benar, sulit menerima kritik, dan sering memanipulasi orang lain demi kepentingan pribadi. Meski terlihat percaya diri, di baliknya sering tersembunyi rasa rapuh dan kebutuhan validasi yang besar.

Anxiety (Gangguan Kecemasan)

Anxiety adalah kondisi ketika seseorang merasakan cemas berlebihan dan terus-menerus, bahkan tanpa pemicu yang jelas. Gejalanya dapat berupa jantung berdebar, sulit bernapas, pikiran negatif yang berulang, sulit tidur, hingga sulit fokus. Anxiety bukan sekadar “overthinking”, tetapi kondisi psikologis yang nyata dan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Depresi

Depresi bukan hanya soal merasa sedih. Kondisi ini ditandai dengan perasaan hampa berkepanjangan, kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, kelelahan emosional, gangguan tidur dan makan, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Depresi membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang tepat, bukan sekadar nasihat untuk “lebih kuat”.

dr. Vivi juga menyoroti peran besar pola asuh orang tua dalam kesehatan mental anak. Metode parenting yang terlalu menekan, tidak validatif, atau penuh tuntutan dapat menimbulkan luka batin dan trauma psikologis. Luka ini sering kali tidak disadari, namun berdampak jangka panjang hingga dewasa.

“Masalah kesehatan mental tidak selalu terlihat dari luar. Banyak luka batin terbentuk dari rumah, dari cara anak dibesarkan,” ungkap dr. Vivi dalam diskusi tersebut.

Ia menekankan bahwa mencari bantuan psikolog atau psikiater bukan tanda lemahnya iman, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Pemahaman yang keliru justru berisiko membuat masalah semakin dalam dan tidak tertangani.

Meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap mental health menjadi langkah awal yang positif. Namun, diperlukan keterbukaan lintas generasi agar kesehatan mental tidak lagi dipandang sebagai tabu, melainkan sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia secara utuh. (Nisrina)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....