Self-Improvement Blueprint: AI Bantu ASN Rancang Pembelajaran Mandiri

  • 22 Sep 2026 12:56 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Pengembangan komptensi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak harus selalu dilakukan melalui pelatihan konvensional di dalam kelas. Pemanfaatan artificial intelligience (AI) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu ASN menyusun pembelajaran yang lebih personal, sesuai kebutuhan kompetensi dan pengalaman kerja masing-masing.

Hal tersebut dibahas dalam sesi ke-9 pada Peningkatan Kompetensi Digital dan Produktivitas ASN Berbasis AI yang merupakan pelatihan kolaborasi Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Badan Kepegawaian Negara (Pusbang SDM BKN) bersama Microsoft Elevate dan Alkademi. Pada sesi ke-9 kali ini, BKN mengangkat tema Self-Improvement Blueprint: Kurikulum Belajar ASN, yang turut mengundang Alfan Hidayatullah sebagai pembicara, pada Senin (21/9/2026).

Dalam sesi tersebut, Alfan menjelaskan konsep transformasi pengembangan kompetensi ASN berbasis AI melalui pembelajaran yang terintegrasi dengan pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, kebutuhan pengembangan yang terintegrasi dengan pendekatan belajar yang lebih fleksibel. Pelatihan konvensional dinilai memiliki tantangan dari sisi biaya maupun waktu, terutama karena ASN tetap memiliki berbagai tanggung jawab pekerjaan.

“Jadi dibutuhkan pendekatan model pembelajaran yang baru mungkin yang berbasis pengalaman kerja,” ujar Alfan.

Pendekatan yang diperkenalkan dalam sesi tersebut adalah work-experience-based learning, yaitu pembelajaran yang memanfaatkan pengalaman nyata dalam pekerjaan sebagai bagian dari proses belajar. Dengan pendekatan ini, ASN tidak harus selalu memisahkan kegiatan belajar dari pekerjaan.

Model tersebut menggunakan konsep 70:20:10. Sebanyak 70% pembelajaran berasal dari pengalaman kerja, seperti mengerjakan tugas, menjalankan SOP, melakukan analisis kebijakan, maupun penugasan tertentu. Kemudian 20% berasal dari pembelajaran kolaboratif melalui coaching, mentoring, dan komunitas praktik. Sementara 10% sisanya berasal dari pembelajaran formal seperti membaca regulasi, mengikuti seminar, e-learning, maupun modul.

“Jadi belajar sambil bekerja,” jelas Alfan.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan proses pembelajaran tersebut memungkinkan proses pembelajaran dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan tanpa harus selalu membentuk kelas atau program pelatihan khusus. ASN dapat menyusun sendiri kurikulum pembelajarannya berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan.

Dalam proses tersebut, AI digunakan sebagai intelligent tutorial system atau tutor pribadi. Sebelum menyusun pembelajaran, ASN terlebih dahulu perlu mengetahui kesenjangan kompetensi yang dimiliki. Analisis kesenjangan kompetensi dilakukan dengan membandingkan profil kompetensi berdasarkan hasil asesmen individu dengan standar kompetensi jabatan (SKJ).

ASN dapat menentukan kompetensi apa yang mash perlu ditingkatkan dan menjadikannya sebagai dasar penyusunan pembelajaran. AI kemudian dapat membantu mengolah informasi seperti deskripsi tugas, laporan kinerja, maupun indikator SKJ untuk menghasilkan alur belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu.

Alfan menjelaskan, AI dapat membantu mengubah indikator kompetensi yang masih bersifat abstrak menjadi tindakan yang lebih konkret. Misalnya, komptensi “mengelola perubahan” dapat diterjemahkan menjadi aktivitas pembelajaran, daftar tugas, simulasi, hingga langkah-langkah yang dapat diterapkan di lingkungan kerja.

“AI akan kita gunakan sebagai tutor kita dan tentunya kita akan menggunakan Microsoft Copilot untuk memproses deskripsi tugas kita, laporan kinerja atau indikator SKJ untuk menyusun alur belajar khusus yang kita perlu secara adaptif,” jelasnya.

Agar hasi yang diberikan oleh AI lebih sesuai dengan kebutuhan, peserta diperkenalkan kembali dengan framework RCTF, yaitu Role, Context, Task, dan Format. Role digunakan untuk menentukan peran ataua keahlian yang perlu digunakan AI. Context berisi latar belakang, kondisim permasalahan, dan kualifikasi pengguna.

Selanjutnya, Task menjelaskan tindakan spesifik yang harus dilakukan AI, sedangkan Format menentukan bentuk dan gaya keluaran yang diharapkan. Menurut Alfan, pemberian konteks menjadi penting agar AI tidak memberikan jawaban yang terlalu umum.

“Konteks itu memberikan latar belakang kondisi yang kita hadapi, kualifikasi yang kita harapkan. Jadi konteks itu mencegah AI untuk memberikan jawaban yang terlalu umum,” ujarnya.

Dengan kerangka tersebut, ASN dapat meminta AI untuk menyusun tahapan pembelajaran secara lebih spesifik, kemudian mengembangkan setiap tahapan menjadi aktivitas yang dapat dipraktikkan dalam pekerjaan.

Meskipun dapat membantu menyusun pembelajaran secara personal, penggunaan AI tetap membutuhkan pengawasan manusia. Narasumber mengingatkan bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang keliru tetap terlihat meyakinkan.

“AI itu pasti berhalusinasi. Cara mitigasinya satu-satunya adalah kita double checking, kita memeriksa hasil dari AI,” tegas Alfan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pengguna disarankan untuk memberikan dokumen dan regulasi pendukung yang relevan agar informasi yang digunakan AI lebih sesuai konteks. Dalam Microsoft Copilot Project, misalnya, pengguna dapat memasukkan dokumen tertentu sebagai sumber acuan sehingga proses pembelajaran dapat didasarkan pada informasi yang telah dipilih.

Selain itu, aspek keamanan data juga perlu diperhatikan. Informasi rahasia, data pribadi seperti NIK, nomor telepon, alamat, maupun dokumen yang belum dipublikasikan tidak dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam AI.

Melalui pendekataan ini, pengembangan kompetensi ASN diarahkan menjadi proses yang lebih personal, terintegrasi dengan pekerjaan, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. AI berperan sebagai alat bantu untuk menyusun jalur belajar, sementara ASN tetap menjadi pihak yang menentukan kebutuhan, memvalidasi informasi, dan menerapkan hasil pembelajaran dalam pekerjaan.

Pada akhirnya, pembelajaran tidak lagi hanya bergantung pada kurikulum terpusat. ASN dapat membangun learning path berdasarkan kesenjangan kompetensi yang dimiliki dan mengembangkan kemampuan melalui pengalaman nyata di lingkungan kerja. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....