Optimalisasi Kinerja ASN BKN melalui Pemanfaatan Berbasis AI

  • 04 Agt 2026 15:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto – Transformasi digital dalam birokrasi bukan sekedar peralihan dari dokumen fisik ke digital, melainkan perubahan paradigma dalam tata kelola manajemen ASN. Sebagaimana wujud diselenggarakannya acara webinar yang bertemakan "Dari Dokumen menjadi knowledge Base AI" bersama narasumber Agus Suparno selaku AI Academic Expert di kanal Live Streaming Youtube @Pusbangsdmbkn, pada Senin (3/8/2026).

Sejak 2014, BKN telah memelopori sistem rekrutmen berbasis Computer Assisted Test (CAT) untuk menjamin keadlian dan transparansi. Saat ini, fokus telah bergeser menuju pemanfaatan Artificial Intelegence (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pegawai dalam melayani masyarakat secara lebih cepat.

Salah satu tantangan utama menumpuknya dokumen seperti SOP, PDF, dan FAQ yang sulit diakses. Agus Suparno menekankan bahwa Generative AI dapat mengubah tumpukan dokumen tersebut menjadi Knowledge Base yang cerdas, seperti yang diungkapkannya:

"Kata kunci Genarative AI adalah bisa menghasilkan konten baru, bukan hanya memprediksi berdasarkan pola yang sudah ada,” ujarnya.

Dengan teknik Retrieval-Augmented Generation (RAG), AI menggunakan dokumen internal instansi sebagai sumber utama, bukan informasi umum di internet, sehingga meminimalisir kesalahan atau halusinasi AI. Penggunaan alat seperti Microsoft Copilot Studio atau Azure AI Foundry memungkinkan ASN mendapatkan jawaban yang akurat dan konsisten secara instan.

"Biar tidak salah, kita beri tahu AI tersebut dengan data kita. Ini loh jadwal saya, dokumen SOP saya. Setelah mengirim file tersebut bisa menanyainya, maka akan di jawab berdasarkan file yang dikirim. Maka tidak ada bias, tidak ada kesalahan karena mengambil datanya langsung dari file tersebut," pungkasnya.

Keamanan dan etika data menjadi prioritas utama. Penggunaan platform enterprise menjamin bahwa data internal instansi tidak digunakan untuk melatih model publik, melainkan terisolasi dalam lingkungan tenant masing-masing. Meskipun AI sangat membantu, screening dan review oleh manusia (human-in-the-loop) tetap krusial untuk menjaga integritas hasil keputusan, terutama agar keputusan yang diambil tetap memiliki akuntabilitas tinggi dan bebas dari bias

"Jangan semuanya diserahkan langsung pada AI tanpa adanya review. Karena AI tentunya berpotensi salah, kewenangan yang kita lakukan seharusnya untuk di review hasil keseluruhan tersebut,” unkapnya.

Namun juga tidak selalu perlu menggunakan model AI yang tercanggih dan termahal. Untuk kebuthan internal organisasi, Small Language Models (SLM) sering kali lebih efisien secara biaya dan tetap sangat cerdas untuk memproses data lokal perusahaan. Efektivitas AI digunakan dalam arah multi-agen, yang setiap departemen (HRD, keuangan, operasional) memiliki agen AI spesifik yang bisa saling berkomunikasi.

Dalam hal nilai bisnis tentunya sangat dimudahkan, seperti dalam penggunaan customer service berbasis AI memungkinkan perusahaan merespon real-time 24 jam penuh tanpa libur, yang meningkatkan pelayanan. Terutama memungkinkan personalisasi konten pemasaran secara cepat di berbagai pasar global, juga membantu desainer mensimulasikan material baru untuk mempercepat siklus pembuatan prototipe.

Secara praktis, adopsi AI dapat meningkatkan produktivitas, memangkas waktu pengerjaan laporan kinerja hingga 20 jam per bulan. AI juga mendukung sistem meritokrasi melalui pemetaan profil kompetensi ASN, juga berfungsi sebagai wadah penyimpanan best practice dari pegawai yang akan purna bakti, sehingga pengetahuan berharga tidak hilang. Pada akhirnya, bukan sebagai pengganti ASN, namun sebagai mitra (asisten) yang mempercepat proses pelayanan publik demi kemajuan negeri. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....