Membangun Rasa Aman dalam Tim Melalui Coaching
- 17 Sep 2026 15:20 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Membangun kinerja tim yang baik tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target, tetapi juga bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang membuat setiap anggota merasa aman untuk menyampaikan ide, bertanya, maupun mengakui kesalahan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sharing Session ke-42 bertema “Membangun Rasa Aman dalam Tim Melalui Coaching” yang ditayangkan melalui kanal YouTube @LembagaAdministrasiNegaraRI pada Selasa (15/9/2026). Dengan menghadirkan Coach Kamaria Latif dari Vanaya Institute sebagai narasumber dengan fokus pembahasan pada kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia.
“Jadi ketika hal ini kita bicara tentang bagaimana membangun rasa aman dalam tim melalui coaching, kita tentunya akan melihat bahwa coaching bukan hanya sebagai teknik bertanya, tetapi sebagai bagian dari proses pengembangan manusia. Pengembangan manusia dan kepemimpinan yang lebih utuh,” ujar Ria.
Pendekatan coaching dalam organisasi juga perlu ditempatkan sebagai sebuah kapabilitas yang dapat dikembangkan, baik pada tingkat individu, pemimpin, tim maupun organisasi. Dengan demikian, penerapan coaching tidak berhenti pada kemampuan personal seseorang, tetapi dapat menjadi bagian dari budaya organisasi.
Vanaya Institute sendiri mengembangkan coaching pada berbagai tingkatan, termasuk leadership coach, team coach, transformational coach hingga pembangunan coaching ecosystem. Pendekatan tersebut diarahkan agar coaching dapat memberikan dampak nyata bagi pemimpin maupun organisasi.
Pembahasan kemudian diarahkan pada situasi yang sering terjadi dalam lingkungan kerja, khususnya ketika rapat atau pertemuan berlangsung. Tidak sedikit anggota tim yang sebenarnya memiliki gagasan, melihat persoalan, atau memiliki pandangan berbeda, tetapi memilih untuk tidak menyampaikannya.
“Pernah nggak ya di dalam suatu meeting gitu ya, kita itu merasa bahwa kita itu punya ide. Ada ide yang ingin kita sampaikan, tapi akhirnya kita diem. Kemudian kita mungkin pernah berada pada suatu posisi di mana kita itu melihat suatu masalah tetapi ragu untuk menyampaikan,” ujar Ria.
Seseorang dapat memilih diam meskipun sebenarnya mempunyai pendapat yang berbeda. Kondisi tersebut dapat terjadi karena adanya kekhawatiran untuk melakukan kesalahan, dinilai tidak kompeten, atau merasa bahwa pendapat yang disampaikan tidak akan didengarkan.
“Tapi diam itu tentunya bukan berarti bahwa sudah setuju dengan apa yang dibahas di dalam meeting. Karena bisa jadi itu karena kita merasa takut salah. Daripada salah, ga usah lah, akhirnya dipendam. Kemudian mungkin takut dinilai, kalau nanya nanti kesannya saya tidak kompeten, misalnya seperti itu,” tambahnya.
Rasa aman dalam tim tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan dalam bekerja, tetapi juga berkaitan dengan keberanian anggota untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap penting. Ketika anggota tim merasa khawatir terhadap respons yang akan diterima, informasi yang sebenarnya dibutuhkan organisasi dapat tertahan.
Lingkungan yang tidak mendukung keterbukaan dapat membuat seseorang memilih diam meskipun mempunyai pengalaman atau pandangan yang relevan terhadap persoalan yang sedang dibahas.
Ria menjelaskan bahwa organisasi dapat kehilangan kesempatan untuk melakukan antisipasi apabila ruang untuk menyampaikan pendapat tidak dibuka secara luas. Menurutnya, keberanian berdiskusi menjadi bagian penting agar organisasi dapat mengetahui persoalan sejak awal dan belajar dari pengalaman.
“Padahal ketika tim di dalam organisasi itu memilih untuk diam, bisa jadi ada hal besar yang harus dibayar oleh organisasi ketika tim diam, yang pertama masalah jadi terlambat untuk diketahui karena keengganan untuk menyampaikan ide, keengganan untuk bertanya, mengklarifikasi sesuatu yang akhirnya masalah jadi terlambat untuk kita ketahui,” ujar Ria.
Menciptakan suasana harmonis bukan berarti seluruh anggota harus selalu memiliki pandangan yang sama. Perbedaan justru perlu diberikan ruang selama disampaikan secara profesional dan tidak diarahkan menjadi persoalan personal.
“Harmonis jangan disalahartikan. Harmonis itu bukan berarti kita tidak berani untuk berbeda pendapat. Tetapi bagaimana caranya kita bisa berbeda pendapat tetapi kita tidak membawa ke personal. Tidak menjadi baper oleh perbedaan. Karena kalau kita tidak berani berbeda, kita tidak berani berdiskusi secara tajam di internal, bisa jadi pada akhirnya kita dapat serangan dari luar yang kita tidak bisa mengantisipasi,” jelas Ria.
Dari kondisi tersebut, peran pemimpin menjadi penting dalam menentukan apakah anggota tim merasa cukup aman untuk berbicara. Pemimpin bukan hanya pihak yang memberikan arahan dan keputusan, tetapi juga memiliki peran dalam menciptakan suasana komunikasi yang terbuka.
Dalam konteks tersebut, coaching ditawarkan sebagai salah satu pendekatan untuk membantu pemimpin membangun ruang komunikasi yang lebih aman. Coaching mendorong pemimpin untuk tidak selalu menjadi pihak yang langsung memberikan jawaban, melainkan membantu anggota berpikir, melihat persoalan secara lebih jernih, dan menemukan solusi.
Ria menjelaskan bahwa perubahan tersebut membutuhkan kemampuan mendengarkan. Dalam coaching, mendengarkan menjadi salah satu kemampuan penting karena anggota tim perlu merasa bahwa perspektif mereka dihargai dan dipertimbangkan.
“Pergeseran kecil dari memberi jawaban menjadi membuka percakapan. Mengapa coaching membangun rasa aman? Yang pertama karena didengar. Kita bisa merasakan ya, kita sekadar didengerin saja itu membawa rasa nyaman buat kita. Karena didengar itu adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Kita itu ingin didengar,” ujar Ria.
Ketika seseorang merasa didengarkan, ia juga akan merasa bahwa perspektifnya memiliki nilai. Sebaliknya, pengalaman ketika pendapat tidak dihargai atau justru ditertawakan dapat membuat seseorang enggan menyampaikan gagasan pada kesempatan berikutnya.
Mendengarkan bukan sekadar membiarkan seseorang berbicara, tetapi juga memberikan ruang bagi anggota untuk mengeksplorasi pemikiran dan menemukan kemungkinan solusi. Dalam pendekatan coaching, pemimpin tidak langsung mengarahkan anggota kepada jawaban tertentu.
Seorang pemimpin perlu membangun percakapan yang membantu anggota memahami persoalan secara lebih jernih. Dengan cara tersebut, anggota tidak hanya menerima jawaban dari atasannya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan mengambil tanggung jawab terhadap solusi yang ditemukan.
“Karena salah satu basic di dalam coaching itu adalah listening. Bagaimana keterampilan kita untuk mendengar, menghargai perspektif dari klien kita atau coachee kita, dan kita menggali, mengeksplorasi solusi-solusi yang muncul dari coachee kita atau klien kita,” jelas Ria.
Ria menyebut coaching sebagai percakapan reflektif. Artinya, proses tersebut tidak berhenti pada aktivitas bertanya, tetapi diarahkan untuk membantu seseorang berpikir dan melihat berbagai kemungkinan yang ada.
“Melalui percakapan, kita itu membantu seseorang untuk berpikir, melihat solusinya dengan lebih jernih dan menemukan perspektif,” ujar Ria.
Penerapan coaching tersebut pada akhirnya berkaitan dengan perubahan cara pemimpin berinteraksi dengan anggota tim. Pemimpin yang terbiasa memberikan semua jawaban dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi, tetapi belum tentu membangun kemampuan anggota untuk menghadapi persoalan berikutnya.
Sebaliknya, ketika pemimpin memberikan ruang kepada anggota untuk berpikir dan menemukan solusi, proses tersebut dapat membantu membangun kapasitas tim dalam jangka panjang. Anggota pun memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman, menyampaikan perspektif, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.
Direktur Ekosistem Pembelajaran ASN, Hartoto, juga ikut berpendapat mengenai pentingnya psychological safety dalam lingkungan kerja.
“Psychological safety atau aman psikologis berarti setiap orang itu dapat berbicara terbuka, menyampaikan ide, bertanya. Kemudian kalau kita merasa salah, kita bisa mengambil kesalahannya. Kemudian menerima masukan tanpa takut dipermalukan atau dihukum yang tidak proporsional. Ini kira-kira kebutuhan kita bekerja di saat kontemporer saat ini,” jelas Hartoto.
Karena itu, membangun rasa aman melalui coaching membutuhkan konsistensi dari pemimpin. Ruang aman tidak terbentuk hanya melalui satu kali percakapan, tetapi melalui kebiasaan dalam merespons pendapat, menerima pertanyaan, mendengarkan perbedaan, serta memberikan kesempatan kepada anggota untuk ikut mencari solusi.
Coaching menempatkan pemimpin bukan hanya sebagai pemberi instruksi, tetapi sebagai pihak yang membantu anggota mengembangkan kapasitasnya. Ketika komunikasi dibangun melalui dialog dan mendengarkan, anggota tim memiliki ruang yang lebih besar untuk menyampaikan gagasan maupun persoalan yang dihadapi.
Membangun rasa aman dalam tim melalui coaching dapat dimulai dari perubahan sederhana dalam cara pemimpin berkomunikasi. Memberikan kesempatan untuk berbicara, mendengarkan tanpa buru-buru memotong, menghargai perspektif yang berbeda, serta membantu anggota menemukan solusi menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka.
Rasa aman tersebut pada akhirnya bukan sekadar menciptakan suasana kerja yang nyaman, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun tim yang berani belajar, berani menyampaikan ide, dan mampu berkembang bersama. Pemimpin yang membuka ruang bagi anggota untuk berpikir dan berbicara dapat membantu organisasi memperoleh lebih banyak informasi, mengenali persoalan lebih awal, sekaligus membuka peluang munculnya inovasi dari dalam tim. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....