Penguatan Pancasila Jadi Kunci Hadapi Tantangan Era Digital

  • 28 Jul 2026 16:04 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Di tengah pesatnya transformasi digital, penguatan ideologi Pancasila menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang turut menghadirkan berbagai tantangan baru, mulai dari hoaks, ujaran kebe ncian, judi online, penipuan digital, cyberbullying, hingga kebocoran data pribadi yang memengaruhi perilaku masyarakat di ruang digital.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Forum Diskusi Publik Penguatan Ideologi Pancasila di Era Transformasi Digital yang digelar pada Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Mahfudz Abdurrahman, S.Sos., anggota Komisi I DPR RI sebagai keynote speaker, Yeti Meriani, M.Pd., akademisi dan pegiat pendidikan, serta Dr. Rosita Niken Widiastuti, M.Si., Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Dewan Pers.

Dalam pemaparannya, Mahfudz Abdurrahman mengatakan bahwa Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia harus tetap dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan digital. Menurutnya, nilai toleransi, persatuan, musyawarah, keadilan, dan etika digital perlu terus dihidupkan agar ruang digital menjadi ruang yang sehat dan bermanfaat bagi semua.

"Tantangan yang kita hadapi juga semakin beragam, mulai dari hoaks, ujaran kebencian, judi online, penipuan digital, cyberbullying, hingga kebocoran data yang sedikit banyak memengaruhi perilaku masyarakat," ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya sikap kritis dan analitis dalam menggunakan media digital. Selain itu, pemerintah memiliki peran penting dalam penguatan literasi digital, penyediaan infrastruktur digital khususnya di daerah 3T, serta perlindungan dan penegakan hukum terhadap berbagai pelanggaran di ruang digital.

Sementara itu, Yeti Meriani menyampaikan bahwa pendidikan Pancasila perlu ditanamkan sejak dini dan tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keluarga menjadi benteng utama dalam mendampingi anak di era digital, terutama di tengah maraknya konten negatif yang mudah diakses melalui media sosial.

Ia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai, mengatur waktu penggunaan media digital, serta mengarahkan anak untuk mengakses dan menciptakan konten yang positif.

Di sisi lain, Dr. Rosita Niken Widiastuti menekankan pentingnya literasi digital di tengah tingginya penggunaan internet di Indonesia. Menurut data survei APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229 juta jiwa dengan penetrasi internet sebesar 80,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan memperoleh informasi.

Menurutnya, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, radikalisme, polarisasi, ujaran kebencian, hingga krisis identitas. Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media digital karena jejak digital yang ditinggalkan saat ini dapat memengaruhi masa depan seseorang.

Rosita juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menciptakan ruang digital yang sehat dengan melaporkan konten yang tidak pantas serta mendukung perlindungan anak dalam penggunaan media sosial. Ia menegaskan bahwa penguatan ideologi Pancasila dan literasi digital perlu berjalan beriringan dengan melibatkan peran pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Melalui penguatan nilai-nilai Pancasila di era transformasi digital, diharapkan masyarakat Indonesia tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga tetap menjunjung tinggi etika, persatuan, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....