Ketika Buku Menjadi Jalan Menuju Perubahan

  • 12 Nov 2025 08:01 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purwokerto : Buku telah menjadi salah satu sumber inspirasi dan pengetahuan yang paling berharga bagi manusia. Melalui buku, kita dapat memperoleh wawasan baru, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan kesadaran diri.

Dalam Siaran Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto menghadirkan Kak Gilang Tri Ananda, seorang pegiat literasi dan penulis muda, untuk berbagi inspirasi di balik karya perdananya, "Menyusuri Kisah Jalan Setapak." Dalam perbincangan tersebut, Gilang menyoroti pentingnya perjuangan dan proses yang membentuk karakter seseorang.

Setelah menamatkan pendidikan, Gilang mendirikan MD Creative Space, sebuah ruang kreatif yang unik. "aktivitas sekarang mungkin ngejalanin usaha sebetulnya ya kecil-kecilan, warung yang aku sediain buku yang niatnya nanti jadi creative space” jelasnya. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai warung, tetapi juga sebagai perpustakaan kecil yang bertujuan mendekatkan akses buku kepada anak-anak desa yang kian tergerus gawai.

Semangatnya tidak berhenti di literasi. Gilang juga membentuk kelompok tani muda, yang anggotanya adalah anak-anak muda desa yang ingin belajar dan mengembangkan sektor pertanian. Menurutnya, kegemaran membaca dan aksi nyata berjalan beriringan. Ia menjelaskan bahwa segala tindakan dan bayangan yang ia miliki berawal dari kebiasaan membaca buku. Gilang menambahkan, ia terinspirasi oleh para pendiri bangsa yang hebat, yang ia yakini memiliki fondasi bacaan yang kuat, sehingga hal itu mendorongnya untuk terus menumbuhkan semangat membaca.

Buku “Menyusuri Kisah Jalan Setapak” sendiri lahir di masa sulit ketika ia mengalami kejenuhan saat menyelesaikan tugas akhir kuliah. “Saya menulis buku ini sebenarnya karena jenuh mengerjakan skripsi,” kenangnya. Namun, proses itu justru menjadi pemantik semangatnya. “Alhamdulillah, sambil menulis buku ini, dalam dua bulan skripsi saya juga selesai,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia juga membagikan tips bagi penulis pemula: selain meningkatkan kemampuan menulis, hal terpenting adalah keberanian. "penulis itu harus punya dua bekal yaitu kemampuan menulis dan keberanian," tegasnya.

Pesan utama dalam bukunya dirangkum Gilang dalam kutipan di sampul depan:“Jika kalah adalah takdirmu, berikanlah perlawanan yang terbaik.” Menurutnya, kalimat tersebut menggambarkan semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai proses kehidupan. “Setiap hal yang kita lakukan pasti ada dampaknya untuk diri kita. Jadi, meskipun sesuatu terasa sulit atau seolah akan gagal, jalani saja dulu dan berikan yang terbaik. Karena kadang hasilnya memang terasa biasa saja, tapi prosesnya itulah yang benar-benar membentuk kita,” tutup Gilang, memberi pesan bahwa perjuangan dan proses jauh lebih berharga daripada hasil instan. (Fahim)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....