Kreativitas Mengolah Tas Kresek Menjadi Kerajinan Bernilai Jual

  • 07 Okt 2026 08:33 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Kantong kresek yang selama ini identik dengan barang sekali pakai dan sering berakhir menjadi sampah ternyata dapat diolah menjadi produk kerajinan bernilai jual. Hal tersebut dilakukan oleh Widyastri Oktarini, SE selaku pemilik W26 Shop di Purwokerto, yang memanfaatkan kantong kresek sebagai salah satu bahan dalam pembuatan ta dan berbagai produk kerajinan lainnya.

Dalam program UMKM Bicara Pro 1 RRI Purwokerto edisi Senin (5/10/2026) yang mengangkat tema Mengolah Tas Kresek Menjadi Kerajinan, bersama Widyastri yang menceritakan bahwa usaha yang dijalaninya berawal dari hobi membuat berbagai macam kerajinan. Sebelum memproduksi tas, ia lebih dahulu menekuni kegiatan menyulam, merajut, hingga membuat kerajinan dari kertas.

Widyastri mulai menyulam sejak 2010 dan kemudian mengembangkan produknya menjadi tas pada 2018. Awalnya, ia membuat sarung bantal untuk kebutuhan rumah sendiri. Namun, produk tersebut mendapat respons positif dari orang-orang di sekitarnya sehingga ia mulai menerima pesanan.

Seiring waktu, Widyastri melihat bahwa produk dekorasi rumah memiliki perputaran penjualan yang tidak terlalu cepat. Ia kemudian mencoba membuat produk yang lebih banyak diminati, khususnya oleh perempuan, hingga memilih tas sebagai salah satu produk utamanya.

“Saya bermula dari hobi. Saya hobi membuat aneka macam kerajinan. Jadi ada rajut, ada sulam, kemudian ada dari kertas-kertas,” ungkapnya

Dalam perkembangannya, Widyastri tidak hanya menggunakan kain kanvas sebagai bahan utama tas. Ia mulai memanfaatkan kantong kresek yang tersedia di rumah. Kantong kresek yang dipilih harus memiliki tekstur cukup tebal, bersih, dan tidak memiliki bekas minyak atau bahan yang sulit dibersihkan.

Proses pengolahannya pun membutuhkan ketelitian. Kantong kresek dipotong bagian pegangan dan bagian bawahnya, kemudian dilipat hingga menjadi empat lapisan. Setelah itu, plastic dirapikan dan disetrika menggunakan kertas pelapis berupa bagian belakang Kalender bekas untuk mencegah plastik menempel akibat panas.

Hasil proses tersebut membuat permukaan plastik menjadi bertekstur dan lebih tebal. Plastik kemudian dipadukan dengan sisa kain kanvas dan dihias menggunakan sulaman pita. Perpaduan tersebut menjadi salah satu ciri khas produk W26 Shop.

Menurut Widyastri, penggunaan kantong kresek bukan semata-mata karena ingin memanfaatkan bahan bekas, tetapi juga menjadi tantangan untuk menghasilkan produk yang memiliki tampilan menarik.

“Awalnya karena kehabisan ide. Terus yang kedua itu ada kantong kresek di rumah itu banyak daripada dipakai hanya untuk kantong sampah. Akhirnya saya coba-coba, saya browsing-browsing bisa dibuat tas,” lanjutnya.

Tidak hanya tas, W26 Shop juga memproduksi dompet, bros, gantungan kunci. cermin lipat, totebag, hingga produk berbahan kanvas lainnya. Produk juga dapat dibuat secara kustom, baik dari segala pola maupun desain sulaman sesuai permintaan pelanggan.

Untuk produk berbahan kantong kresek, tas menjadi salah satu produk yang diminati. Sementara itu, secara keseluruhan, produk berbahan kain kanvas masih menjadi produk yang paling banyak diminati konsumen. Harga produk bervariasi, mulai dari sekitar Rp40.000 untuk dompet hingga ratusan ribu rupiah untuk tas, tergantung model dan tingkat kerumitannya.

Widyastri juga menekankan bahwa nilai sebuah produk kerajinan tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan. Kreativitas dalam mengolah bahan menjadi produk yang menarik menjadi faktor penting agar produk berbahan bekas tetap memiliki nilai jual.

Dalam menjalankan usahanya, Widyastri tidak bekerja seorang diri. Ia dibantu oleh tiga hingga empat orang, tergantung jumlah pesanan. Salah satunya merupakan seorang ibu rumah tangga yang membantu menyulam dari rumah, sementara pekerjaan menjahit dibantu oleh seorang pensiunan office boy yang memiliki keterampilan menjahit.

Selain menciptakan produk, Widyastri juga aktif membagikan keterampilannya melalui media sosial. Ia memanfaatkan Instagram, TikTok, Shopee, dan YouTube untuk memasarkan produk sekaligus berbagi pengetahuan mengenai menyulam dan menjahit. Ia bahkan rutin melakukan siaran langsung di TikTok setiap Senin hingga Kamis.

Baginya, berbagai keterampilan memberikan kepuasan tersendiri ketika orang lain dapat mempraktikkan ilmu yang diberika hingga menghasilkan produk dan memperoleh penghasilan.

“Kreativitas itu tidak ada batas. Pokoknya selagi kita mau, selagi kita enjoy mengerjakan, jalan terus,” pungkasnya.

Perjalanan W26 Shop menunjukkan bahwa keterampilan yang berawal dari hobi dapat berkembang menjadi peluang ekonomi. Dengan kreativitas, bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi, estetika, dan nilai jual.

Widyastri pun mendorong masyarakat yang ingin memulai usaha kerajinan untuk berani mencoba dan memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran yang tersedia. Menurutnya, internet dapat menjadi sumber inspirasi untuk menemukan ide, desai, maupun teknik terbaru. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....