Kerajinan Bambu Banjarnegara Tembus Pasar Ekspor

  • 05 Okt 2026 10:59 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Kerajinan bambu tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masayarakat pedesaan, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Hal tersebut dilakukan oleh The Bantar Bambu Craft dari Mandiraja, Banjarnegara yang mengembangkan kerajinan bambu lokal melalui kreativitas, inovasi, serta penyesuaian terhadap kebutuhan pasar.

Pada program Ekonomi Digital Pro 1 RRI Purwokerto edisi Jum’at (2/10/2026) yang mengangkat tema Bambu Lokal Menembus Pasar Ekspor, bersama owner The Bantar Bambu Craft, Suwarso, mengatakan bahwa kerajinan bambu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Hampir 60% masyarakat di wilayah tersebut memiliki kerajinan bambu sebagai penghasilan tambahan. Bahkan, terdapat pasar khusu yang mempertemukan para pengrajin dan hasil produksinya.

Suwarso, atau yang akrab disapa Warsi, telah menekuni kerajinan bambu sejak tahun 1995. Ia memilih mengembangkan usaha tersebut dengan memanfaatkan potensi yang sudah ada di lingkugan sekitar. Menurutnya. Masyarakat tidak perlu selalu mencari pekerjaan ke luar daerah ketika peluang ekonomi dapat diciptakan dari potensi lokal.

Perkembangan usaha kerajinan bambu dia daerah tersebut kemudia membenruk pola prodysi yang melibatkan banyak pihak. Ada masyarakat yang menyediakan bahan baku, ada yang menganyam, sementara bagian lain menangani pemasaran. Pola tersebut membuat kegiatan produksi berjalan seperti sebuah pabrik, tetapi berbasis di tengah masyarakat.

Menurut Warsi, produk bambu Indonesia memiliki peluang di pasar internasional karena konsumen di Eripa dan Amerika memiliki ketertaeikan terhadap produk yang dibuat secara handmade dan menggunakan bahan natural.

Namun, untuk memasuki pasar ekspor, bahan baku bambu juga perlu diperhatikan. Bambu yang digunakan setidaknya harus berusia dua tahun. Selain itu, beberapa produk membutuhkan proses pengawetan atau perlakuan tertentu. Untuk produk yang berkaitan dengan makanan, perlakuan terhadap bambu harus memperhatikan penggunaan bahan baku yang aman dan bersifat natural.

Warso juga berupaya melakukan invoasi terhadap produk yang selama ini dibuat masyarakat. Jika sebelumnya kerajinan hanya berkutat pada tampah dan besek dengan ukuran tertentu, ia mencoba menghadirkan variasi ukutan, bentuk, dan fungsi.

“Kalau dulu di tempat kita produknya ya tampah dan besek aja, itupun satu ukuran. Nah, ketika kita masuk, kita mulai, kita buat ada tampah dengan diameter 25,30, 35,45 sampai sesuai standar sampai yang besar,” ujar Warso.

Inovasi tersebut dilakukan tanpa menjatuhkan harga produk yang sudah dibuat oleh pengrajin lokal. Salah satu caranya adalah dengan membuat produk berdasarkan pesamam atau made by order. Dengan sistem tersebut, produksi dilakukan ketika sudah ada permintaan dan uang muka dari pembeli.

Selain tampah dan besek, The Bantar Bambu Craft mengembangkan berbagai produk lain, seperti tutup saji, hamper, seserahan, souvenir khas Banjarnegara, tempat tisu, hingga produk berbahan kombinasi bambu dan rotan. Beberapa produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, dan Kalimantan. Produk tertentu juga telah mendapatkan pesanan maupun perminttaan sampel dari Amerika.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, kualitas dan konsistensi menjadi perhatian utama. Warso menilai kepercayaan pembeli harus dibangun melalui kualitas produk yang terjaga. Pengawasan atau quality control juga tetap diperlukan meskipun produksi melibatkan banyak pengrahin dari masyarakat.

Dalam proses pengembangan produk. Desain menjadi salah satu faktor penting. Produk tidak langsung dibuat tanpa perencanaan, tetapi terlebih dahulu dirancang berdasarkan ukuran, kapasitas, fungsi, hingga kebutuhan produksinya.

“Itu desain dan itu sangat penting. Kalau kami itu justru didesain dulu, baru ke produksi,” kata Warso.

Menurutnya, desaon yang jelas dapat membantu pengrajin menentukan ukuran produk sekaligus memperhitungkan harga pokok produksi. Dengan demikian, proses produksi menjadi lebih teraraj dan dapat mengurangi kesalahan dalam pengerjaan.

Menembus pasar ekspor juga tidak selalu berlangsung cepat. Warso mengatakan dirinya pernah mengalami kegagalan ketika mengerjakan pesanan dari Amerika akibat perbedaan ukuran beberapa milimeter. Perbedaan ukuran tersebut membuat produk harus kembali diamplas dan diperbaiki sehingga membutuhkan tambahan waktu dan biaya.

Karena iitu, pendekatan terhadap pasar internasional dilakukan secara bertahap. Warso memilih mengirimlan sampel dalam jumlah kecil ke toko-toko souvenir di luar negeri. Setelah itu, proses komunikasi dan pembangunan kepercayaan dilakukan secara konsisten. Bahkan, menurutnya, calon pembeli dapat membutuhkan waktu satu hingga dua tahun sebelum kembali memberikan perminataan.

Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi bagian dari strategi pemasaran. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan marketplace membuka peluang bagi pengrajin untuk memperkenalkan produknya lebih luas. Namun, untuk pasar ekspor, pertemuan langsung dengan calon pemberli tetap dibutuhkan karena terdapat spesifikasi dan kebutuhan tertentu yang harus dibicarakan.

“Kalau sekarang kan sudah sangat banyak peluangnya, harus diambil itu dengan dunia digital, di situ ada Facebook, Instagram, TikTok, ada marketplace dan itu harus dimanfaatkan oleh teman-teman pengrajin,” jelasnya.

Selain membuka akses pasar, penge,bangan kerajinan bambu juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses produksi. Warso kini mulai menerapkan pembagian pekerjaan berdasarkan kemampuan pengrajin agar produksi lebih efisien dan penggunaan bahan baku dapat diminimalkan.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan keberanian bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi lokal. Menurutnya, teknologi saat ini telah memberikan akses yang jauh lebih luas sehingga anak muda tidak harus menunggu kesempatan datang.

Potensi industri bambu sendiri dinilai cukup luas, mulai dari produk anyaman dan kebutuhan rumah tangga hingga kebutuhan hotel dan spa. Tantangannya adalah bagaimana pelaku UMKM menentukan bidang yang ingin ditekuni, kemudian meningkatkan kualitas produk tersebut agar mampu bersaing.

Di akhir perbincangan, Warso berpesan agar pelaku UMKM tidak hanya berpikir tentang pasar di lingkungan sendiri, tetapi mulai membangun produk dengan standar yang dapat diterima pasar yang lebih luas.

“Terakhir teman-teman semua UMKM, harus diingat. Satu, jangan membuat untuk dijual di lingkungan sendiri. Tapi kuasai dulu lingkungan itu, percaya dengan kita,” pesannya.

Menurut Warso, membangun kepercayaan di pasar lokal menjadi langkah awal sebelum membawa produk ke pasar yang lebih luas. Dengan kualitas, desain, konsistensi, serta pemanfaatan teknologi yang tepat, kerajinan bambu lokal memiliki peluang untuk berkembang dan menjangkau pasar internasional. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....