Wedang Ronde, Kuliner Tradisional di tengah Tren Kekinian
- 29 Sep 2026 13:02 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Di tengah maraknya minuman kekinian dengan beragam rasa dan tampilan, wedang ronde masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Minuman tradisional berbahan dasar kuah jahe hangat dengan ronde dan berbagai isian ini tidak hanya menawarkan rasa dan kehangatan, tetapi juga membawa nilai historis yang telah melekat selama puluhan tahun.
Salah satu pelaku usaha yang mempertahankan kuliner tradisional tersebut adalah Rochmat Sulistiono, pemilik Ronderohmat di kawasan Karangwangkal, Purwokerto. Rochmat membagikan kisah perjalanannya dalam mempertahankan kuliner wedang ronde tersebut dalam dialog UMKM Bicara Pro 1 RRI Purwokerto, pada Senin, (28/9/2026).
Di dalam dialog yang mengusung tema Wedang Ronde, Kuliner yang Tetap Diminati itu, Rochmat mengatakan bahwa usahanya yang telah berjalan sekitar 13 tahun itu berawal dari melihat peluan di lingkungan sekitar yang saat itu belum banyak menyediakan wedang ronde.
Rochmat mengaku pada awal merintis usaha, dirinya sempat mendapat cibiran dari orang-orang terdekat karena memilih menjual minuman tradisional di kawasan yang didominasi mahasiswa dan lebih banyak menawarkan minuman kekinian. Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa wedang ronde tetap memiliki peluang.
“Kalau menurut saya itu minuman tradisional punya kekuatan, Mbak. Itu kaya bajigur, kayak bandrek. Cuman masalahnya tinggal kita bisa menyesuaikan enggak dengan keadaan sekarang,” ujar Rochmat.
Salah satu strategi yang dilakukan Ronderohmat untuk mengikuti perubahan selera konsumen adalah dengan menghadirkan berbagai varian rasa. Selain rasa original, kini tersedia pilihan seperti cokelat, cappuccino, stroberi, matcha, dan durian. Inovasi tersebut dilakukan ketika minuman dengan beragam rasa mulai banyak diminati oleh masyarakat.
Rochmat mengatakan, varian baru tersebut dibuat setelah terlebih dahulu mencoba sampel kepada sejumlah orang untuk mengetahui penerimaan konsumen. Hasilnya, varian rasa jutru mendapat respons positif, terutama dari konsumen yang menyukai minuman dengan rasa yang lebih ringan.
Menurut Rochmat, kuliner tradisional harus bisa menyesuaikan perubahan selera konsumen. Namun, meski melakukan inovasi, Rochmat tetap mempertahankan wedang ronde original sebagai identitas utama produknya.
Menurutnya inovasi tidak seharusnya membuat konsumen kehilangan pemahaman mengenai produk yang ditawarkan. Karena itu, ronde original tetap menjadi menu utama, sementara varian rasa ditempatkan sebagai pilihan tambahan. Dengan cara tersebut, inovasi dapat berjalan tanpa menghilangkan karakter dasar wedang ronde.
Selain inovasi, konsistensi rasa menjadi salah satu perhatian utama dalam menjalankan usaha. Rochmat menggunakan takaran tertentu dalam proses pembuatan agar rasa produk tetap terjaga. Ia juga memilih bahan baku, khususnya jahe, dengan memperhatikan kualitasnya.
Untuk menjaga ketersediaan bahan sekaligus mempertahankan kualitas, Ronderohmat tidak hanya bergantung pada satu pemasok. Rochmat memiliki beberapa pemasok Cadangan yang telah memiliki kesepakatan mengenai kualitas bahan yang dibutuhkan.
Menurutnya, kualitas tidak boleh dikurangi hanya karena bahan baku meningkat. Ketika biaya produksi naik, ia memiliki menyesuaikan harga jual secara wajar daripada mengurangi kualitas rasa.
“Daripada mengurangi rasa, saya lebih baik menaikkan harga. Tapi masih batas wajarlah,” ungkapnya.
Bagi Rochmat, mempertahanlan konsumen tidak cukup hanya dengan menawarkan harga murah. Kualitas rasa, kebersihan tempat, serta pelayanan yang ramah menjadi bagian penting agar pelanggan datang karena memang menyukai produk, bukan sekadar karena merasa kasihan kepada pelaku usaha.
Perubahan zaman juga mendorong Ronderohmat untuk memanfaatkan sosial media dan layanan pesan-antar. Saat ini usaha tersebut menggunakan Instagram, TikTok, Facebook, serta sejumlah platform pemesanan makanan daring.
Media sosial tidak hanya digunakan untuk mempromosikan produk, tetapi juga menjadi bagain dari branding usaha. Menurut Rochmat, keberadaan media sosial membantu calon konsumen mengenal produk bahkan sebelum datang langsung ke lokasi.
Ia menyebutkan, sejumlah pelanggan baru mengetahu Ronderohmat melalui Instagram dan TikTok. Bahkan, tersapat pelanggan dari luar wilayah yang mengetahui keberadaan usahanya melalui konten media sosial.
Bagi Rochmat, pelaku usaha tradisional perlu mengikuti perkembangan teknologi karena kebiasaan konsumen juga berubah. Promosi melalui media sosial dinilai dapat memperluas jangkauan informasi tanpa harus bergantung pada promosi konvensional.
Keberadaan wedang ronde di tengah perkembangan minuman kekinian menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki peluang untuk bertahan selama pelaku usaha mampu memahami perubahan kebutuhan konsumennya.
Rochmat menilai rasa tetap harus menjadi dasar sebelum melakukan promosi. Menurutnya, promosi yang terlalu cepat tanpa memastikan kualitas produk justru dapat menjadi bumerang ketika konsumen datang dalam jumlah besar tetapi produk belum memiliki standar yang baik.
Ia juga menekankan pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam membangun usaha. Menurut pengalamannya, perjalanan sebuah usaha tidak selalu berjalan naik. Penjualan yang sebelumnya tinggi pun dapat kembali mengalami penurunan sehingga pelaku usaha tetap perlu menjaga kualitas dan fokus pada produk yang dijalankan.
“Jadi tetap harus sabarlah dan konsistensi,” tutur Rochmat.
Dengan mempertahankan rasa original, menghadirkan inovasi yang sesuai selera, menjaga kualitas bahan dan pelayanan, serta memanfaatkan media sosia, wedang ronde tetap sapat menemukan ruang di tengah persaingan kuliner masa kini.
Bagi Ronderohmat, perkembangan usaha bukan berarti meninggalkan identitas tradisional. Justru, tradisi dapat terus hidup ketika mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan karakter yang membuatnya dikenal. (Tiara Chelsea)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....