Budayawan Banyumas Nasirun Akan Pentaskan Begalan Jaka Kaiman

  • 19 Sep 2026 10:03 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas- Banyumas tidak hanya memiliki tradisi Begalan yang masih hidup di tengah masyarakat. Di balik kesenian tersebut, ada Gubrag Lesung yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat agraris, namun kini nyaris ditinggalkan.

Keprihatinan terhadap kondisi tersebut mendorong budayawan Banyumas, Nasirun Purwokartun, menggabungkan dua Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB Banyumas itu dalam sebuah pementasan bertajuk “Begalan Jaka Kaiman”. Pementasan akan digelar Sabtu, 26 September 2026, di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, dalam rangkaian Festival Babad Banyumas.

Nasirun kepada RRI Sabtu ( 19/9/2026) mengatakan, Begalan dan Gubrag Lesung sama-sama telah ditetapkan sebagai WBTB oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Begalan ditetapkan pada 2018, sedangkan Gubrag Lesung pada 2020.

Menurutnya, Begalan merupakan tradisi dalam upacara pernikahan adat Banyumas yang sarat dengan pitutur luhur. Nasihat kehidupan rumah tangga disampaikan melalui berbagai perangkat peralatan rumah tangga yang menjadi bagian dari pementasan.

Sementara Gubrag Lesung lahir dari kehidupan masyarakat agraris. Pada masa ketika belum tersedia mesin penggiling padi, lesung digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi hiburan, ketika para petani memukul alu pada lesung sambil berdendang setelah bekerja di sawah.

Namun, masuknya mesin penggiling padi sekitar dekade 1980-an membuat lesung semakin ditinggalkan. Banyak lesung dihancurkan atau dijadikan kayu bakar karena dianggap tidak lagi memiliki fungsi.

Nasirun, yang akrab disapa Kang Nass, mulai berupaya menghidupkan kembali Gubrag Lesung sejak 2019. Ia berkeliling ke sejumlah desa di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen untuk mencari lesung yang masih tersisa.

Setelah mendapatkan tiga buah lesung, ia mengajak masyarakat di sekitar tempat tinggalnya kembali memainkan kesenian tersebut. Kelompok itu kemudian diberi nama Pangastawa, yang berasal dari bahasa Jawa Kawi dan dimaknai sebagai berdoa, memohon, serta berharap.

“Dengan nama Pangastawa sebenarnya saya sedang mengajak para pelakunya untuk terus berdoa, memohon, dan berharap datangnya kebaikan dan kebahagiaan,” kata Nasirun.

Ia mengatakan, jika dahulu Gubrag Lesung dimainkan untuk melepas lelah setelah bekerja di sawah, kini kesenian tersebut dapat menjadi hiburan sekaligus ruang menyampaikan nasihat kehidupan.

“Kalau Begalan berisi pitutur luhur para leluhur untuk mereka yang baru menikah, gubrag lesung berisi nasihat-nasihat kehidupan setelah berumah tangga,” ujarnya.

Gagasan pementasan “Begalan Jaka Kaiman” berawal dari penelusuran Nasirun terhadap naskah-naskah Babad Banyumas yang telah diterjemahkannya. Ia menemukan kisah yang menghubungkan tradisi Begalan dengan pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman.

Temuan tersebut kemudian diolah menjadi sebuah pertunjukan yang tidak hanya menampilkan Begalan, tetapi juga menghadirkan kembali Gubrag Lesung sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyumas. Nasirun berharap pelestarian WBTB tidak berhenti pada pengakuan administratif. Menurutnya, pengakuan pemerintah harus diikuti dengan upaya nyata agar kesenian tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

“Saya ingin, gubrag lesung kembali mengalun merdu. Agar tidak sia-sia pengakuan yang telah didapatkan dari pemerintah,” katanya.

Melalui “Begalan Jaka Kaiman”, Nasirun mengajak masyarakat Banyumas tidak sekadar bangga memiliki warisan budaya, tetapi ikut menjaga, memainkan, dan mewariskannya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....