Unsoed Dorong Geguritan Banyumas Lestari
- 05 Jun 2026 15:51 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas- Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan budaya, geguritan sebagai salah satu warisan sastra Jawa, terus mencari ruang untuk tetap hidup dan relevan. Upaya itu menjadi tema utama dalam talkshow bertajuk "Membumikan Geguritan di Era Kini, Mungkinkah?" yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Kamis (4/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Bambang Lelono FIB Unsoed tersebut mempertemukan akademisi, budayawan, mahasiswa, dan pegiat seni untuk mendiskusikan masa depan geguritan di tengah perubahan zaman. Acara diselenggarakan oleh Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed bekerja sama dengan Pusat Riset Budaya, Kearifan Lokal, dan Agama LPPM Unsoed.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Prof. Ely Triasih Rahayu, menegaskan komitmen kampus dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya lokal agar tetap dekat dengan generasi muda.
"Fakultas Ilmu Budaya siap menjadi pusat diskusi bersama mengenai pelestarian dan pengembangan seni budaya, khususnya budaya Banyumasan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya agar tetap relevan bagi generasi masa kini," ujarnya saat membuka kegiatan.
Senada dengan itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed, Prof. Elly Tugiyanti, Eng., menekankan pentingnya sinergi antara riset dan kebudayaan.
"Riset dan budaya tidak dapat dipisahkan. Pengembangan kebudayaan memerlukan dukungan kajian ilmiah, sementara riset akan semakin bermakna ketika mampu memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian dan pengembangan budaya masyarakat," katanya.
Talkshow menghadirkan dua narasumber, yakni Jarot C. Setyoko dari Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas dan Wanto Tirta yang dikenal sebagai Presiden Geguritan. Diskusi dipandu oleh Dr. Lynda Susana dan berlangsung interaktif.
Dalam pemaparannya, Jarot C. Setyoko mengulas perjalanan panjang puisi Jawa, mulai dari tradisi macapat hingga lahirnya geguritan modern yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
"Geguritan merupakan bagian dari perjalanan panjang sastra Jawa. Ia terus berkembang mengikuti zaman, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya yang melahirkannya," jelasnya.
Sementara itu, Wanto Tirta menyoroti tantangan pelestarian geguritan berbahasa Banyumasan atau bahasa ngapak di tengah dominasi bahasa global dan budaya populer. Menurutnya, bahasa daerah harus terus diberi ruang dalam berbagai aktivitas kreatif agar tidak kehilangan penuturnya.
"Bahasa Banyumasan memiliki kekayaan ekspresi yang luar biasa. Tantangan kita hari ini bukan sekadar melestarikan, tetapi membuatnya tetap digunakan, dicintai, dan menjadi medium berkarya bagi generasi muda," ungkapnya.
Ketua Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed, Exwan Andriyan Verrysaputro, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus mendekatkan sastra lokal kepada generasi muda sekaligus membuka ruang dialog lintas kalangan.
"Melalui forum ini, kami ingin menghadirkan ruang perjumpaan antara akademisi, budayawan, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama memikirkan masa depan geguritan. Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi dan kreativitas," katanya.
Pada kesempatan itu juga diumumkan para pemenang Lomba Maca Geguritan yang menjadi bagian dari rangkaian Pawiyatan dan Pagelaran Tahun 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada generasi muda yang ikut menjaga keberlangsungan sastra daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....