UIN Saizu Dorong Pelestarian Manuskrip Penginyongan

  • 22 Mei 2026 18:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus memperkuat komitmennya dalam menjaga warisan budaya lokal melalui pelestarian manuskrip dan pengembangan kajian budaya Penginyongan. Komitmen itu ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026 yang digelar Pusat Studi dan Pengembangan Budaya Penginyongan, Rabu (20/5/2026).

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Saizu, Prof. Ansori mengatakan keberadaan pusat studi budaya Penginyongan memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya lokal Banyumasan. Ia juga mengajak masyarakat Banyumas dan sekitarnya turut berpartisipasi dalam pelestarian manuskrip, naskah kuno, dan buku budaya Penginyongan.

“Apabila terdapat buku-buku atau manuskrip yang berada di masyarakat Banyumas dan sekitarnya, kami sangat senang apabila berkenan diserahkan ke pusat Penginyongan UIN Saizu. Karena buku atau manuskrip Penginyongan akan lebih terjaga, terawat, dan dipergunakan untuk kepentingan akademik maupun masyarakat luas,” ujar Prof. Ansori.

Menurutnya, banyak manuskrip budaya lokal yang masih tersimpan di masyarakat dan berpotensi rusak apabila tidak mendapatkan perawatan memadai. Karena itu, kampus hadir sebagai ruang konservasi sekaligus pusat pengkajian budaya daerah melalui berbagai program dokumentasi budaya.

Selain mendorong pelestarian manuskrip, UIN Saizu juga telah menerbitkan sejumlah ensiklopedia budaya Penginyongan. Karya tersebut meliputi ensiklopedia seni, kuliner, hingga batik Penginyongan dan akan dilanjutkan dengan penyusunan ensiklopedia permainan tradisional anak.

Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Budaya Penginyongan LPPM UIN Saizu, Dr. Rahman Afandi mengatakan FGD menjadi wadah strategis untuk menghimpun gagasan dan masukan bagi pengembangan budaya Penginyongan berbasis akademik. “FGD ini bertujuan menggali berbagai masukan untuk kemajuan Pusat Studi dan Pengembangan Budaya Penginyongan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Saizu, Prof. Suwito menjelaskan filosofi logo kampus yang sarat nilai budaya Jawa dan identitas Penginyongan. Menurutnya, unsur budaya lokal harus terus dihadirkan dalam identitas perguruan tinggi agar nilai tradisi tetap hidup di lingkungan akademik.

FGD turut menghadirkan sejumlah budayawan seperti Ahmad Tohari, Atmo Tan Sidik, dan Kang Gobed yang membahas adat, simbol, hingga filosofi atribut budaya Penginyongan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Pojok Penginyongan sebagai ruang dokumentasi sejarah, bahasa, dan identitas budaya masyarakat Banyumasan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....