Dari Garis Menjadi Cerita, Memahami Arsitektur Tak Sekadar Bangunan

  • 17 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Arsitektur tidak hanya soal menggambar bangunan. Di balik garis dan sketsa yang terlihat sederhana, ada proses panjang hingga sebuah ide berkembang menjadi ruang yang memiliki bentuk, fungsi, dan cerita.

Hal tersebut dibahas dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto bertema “Dari Garis Menjadi Cerita”, Minggu (16/8/2026). Dua mahasiswa Arsitektur Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto W. Dimas Satriyo dan Triyono, membagikan pengalaman mereka dalam melihat proses di balik sebuah karya arsitektur.

Bagi Dimas, garis menjadi titik awal dalam proses tersebut. Dari garis, ide kemudian dikembangkan menjadi sketsa hingga rancangan bangunan. “Kenapa dari garis? Karena memang itu jadi salah satu guideline-nya, jadi salah satu dasar bisa dibilang. Jadi ketika kita lihat bangunan itu wah banget, ternyata proses di balik itu adalah dimulai dari garis,” ujarnya.

Namun, proses tersebut tidak berhenti pada bagaimana sebuah bangunan terlihat. Di balik bentuk yang dihasilkan, ada cerita yang ingin disampaikan melalui ruang dan suasana. Hal itu terlihat dari maket karya Triyono yang menggambarkan sebuah kawasan dengan berbagai pengalaman di dalamnya. “Di satu kawasan ini sangat banyak menyimpan cerita, di mana proses-proses dalam kita masuk ke kawasannya, terus bagaimana kita menikmati suasana di kawasan ini, semuanya mempunyai cerita,” ungkapnya.

Dari sini, pembicaraan kemudian mengarah pada hubungan arsitektur dengan seni dan sastra. Dimas menyebut, hal tersebut sebenarnya sudah lama ada dalam arsitektur Nusantara. Salah satunya arsitektur Minangkabau yang menggunakan syair dan pantun untuk menyampaikan pengetahuan tentang bangunan. Artinya, pengetahuan arsitektur tidak selalu disampaikan lewat buku atau gambar, tetapi juga bisa diwariskan melalui budaya dan tradisi.

Menurut Dimas, penggunaan unsur sastra dalam arsitektur menunjukkan bahwa sebuah bangunan juga bisa menyampaikan perasaan. Jika sastra menggunakan kata-kata untuk membuat pembacanya merasakan sesuatu, arsitektur menghadirkan pengalaman melalui ruang, cahaya, bentuk, dan suasana yang dirasakan secara langsung.

Karena itu, perkembangan arsitektur modern tidak harus membuat unsur tradisional ditinggalkan. Unsur budaya, ukiran, hingga material lokal masih dapat dipadukan dengan desain modern. Dimas pun mendorong generasi muda untuk kembali mempelajari arsitektur Nusantara agar perkembangan desain tetap memiliki hubungan dengan identitas budaya.

Pembahasan itu kemudian ditutup dengan pesan yang cukup sederhana. Triyono mengingatkan bahwa bangunan bukan sekadar struktur yang berdiri, tetapi juga karya yang menyimpan cerita. Sementara Dimas mengajak pendengar untuk bisa memberi manfaat bagi lingkungan. Ia mengutip pesan B.J. Habibie, “Jadilah mata air yang jernih yang memberikan kehidupan bagi sekitarmu.” (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....