Menemukan Ketenangan Batin dalam Buku Literasi Pengembangan Diri
- 03 Agt 2026 13:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Membaca buku pengembangan diri hadir sebagai sarana sebuah tempat berteduh agar batin kembali "bernapas". Dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto bersama Rahma Inayatul Azmi dan Taufik Fajar Ikhsan selaku Book Enthusiast, membedah mendalam bagaimana buku seif-improvement mampu menggeser cara pandang pada makna kebahagian dan pengelolaan energi hidup, pada Minggu (2/8/2026).
Bertemakan "Buku yang Membawamu untuk Bernapas (Self-improvement Book)" yang di mana berkaitan pada keterikatan seseorang dengan dunia literasi yang kerap kali berangkat dari latar belakang dan momentum yang berbeda. Di sini Azmi mengenang awal kecintaannya pada buku sejak masa sekolah dasar melalui kompetisi membaca. Ia mengungkapkan:
"Awalnya sering keluar masuk perpustakaan saat SMP, bertemu dengan orang-orang yang satu tujuan suka membaca buku menjadi berkompetisi. Dari hal itu justru mambawa untuk lebih dalam mencintai buku" ungkapnya.
Sementara itu, taufik menemukan momentumnya melalui keterlibatan sebagai Duta Baca Kabupaten Cirebon saat SMA, yang menuntutnya mengeksplorasi buku-buku pengembangan diri seperti Public Speaking.
"Awalnya sama sekali tidak expert, namun pada saat itu akhirnya dituntut untuk membaca banyak buku, dan kian lama makin suka. Dari sejak awal hingga sekarang temanya fokus ke pengembangan diri." ujar Taufik.
Memasuki bangku perkuliahan dan kedewasaan mereka, buku self-improvement menjadi navigasi penting ketika dinamika hidup mulai terasa membingungkan. Seperti yang ditegaskan Azmi saat kuliah banya cerita yang membuat hilang arah, maka peran buku membentuk suatu tujuan baru dan terarah.
Dalam diskusinya Azmi mengulas buku berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim, yang menawarkan perspektif penyembuhan situasi burnout yang kerap dialami masyarakat modern akibat tekanan kerja, akademis, maupun ekspestasi lingkungan. Pentingnya dalam hal ini menjaga jarak dari keriuah dan bijak dalam memilih lingkungan pertemanan (circle). Sebabnya sangat menentukan bagaimana batin seseorang terbentuk, seperti yang dipaparkan Azmi:
"Bentuklah diri kita, karena sebagai mahluk sosial meniru orang lain. Ketika mencoba merefleksikan atau mencoba untuk perlahan, kehidupan ini juga akan mengikuti batin. Maka itu yang ditegaskan di buku ini" terangnya.
Di sisi lain, Taufik membedah buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (The Subtle Art of Not Giving a Fck*) karya Mark Manson. Berbeda dari mayoritas buku self-improvement yang menuntut untuk berpikir positif dan mengejar kesempurnaan, yang justru memberikan tamparan realitas.
Dalam istilah "bodo amat" bukan berarti acuh tak acuh terhadap segala hal, melainkan keahlian dalam memilah dan mengalokasikan energi pada hal-hal yang benar-benar esensial. Taufik mengutip salah satu hukum paradoks penting dari buku ini:
"Ketika kita mengejar suatu hal yang positif, justru merupakan pengalaman negatif yang akan didapatkan. Tetapi jika kita menerima suatu pengalaman yang negaif, itu merupakan suatu pengalaman yang positif," tegasnya.
Menurut taufik semakin kita mengejar suatu hal, semakin mengejar kesuksesan, semakin kita ingin berproses menjadi orang yang sukses, maka harus menerima setidaknya tiap lapisan -lapisan prosesnya. Karena semuanya tidak bisa instan masuk didalamnya, harus membuka proses satu per satu dan bahkan juga harus siap untuk menangis melaluinya.
Melalui pemikiran dari dua buku tersebut, menekankan bahwa membaca buku terutama mengenai self-improvement bukan bertujuan mengubah seseorang menjai manusia sempurna tanpa cela. Sebaliknya, literasi pengembangan diri hadir sebagai cermin membantu manusia menerima keterbatasannya, berhenti membandingkan diri dengan standar orang lain terutama dalam media sosial, serta berani mengambil jeda di tengah berisiknya dunia. (Fattah Zakaria)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....