Festival Budaya Sulawesi Meriahkan Alun-Alun Purwokerto
- 09 Agt 2026 07:35 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Festival Budaya Sulawesi digelar di Alun-Alun Purwokerto, Sabtu (8/8/2026) malam. Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa dan masyarakat Sulawesi di Banyumas tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman budaya Sulawesi sekaligus mempererat persatuan di tanah rantau.
Festival ini sekaligus menjadi momentum perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Berbagai kesenian dari enam provinsi di Sulawesi ditampilkan, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.
Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Banyumas, Andi Ali Said Akbar, mengatakan gagasan festival berawal dari seminar kebudayaan yang digelar mahasiswa asal Sulawesi di Universitas Jenderal Soedirman sekitar satu bulan sebelumnya. Dari kegiatan tersebut, muncul gagasan untuk memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia melalui pertunjukan budaya di ruang publik.
" Awalnya, mahasiswa dari seluruh Sulawesi Selatan itu membuat seminar tentang kebudayaan dan jati diri negara. Kemudian disitu juga dicetuskan kepada pemerintah Kabupaten Banyumas, ingin merayakan hari adat sedunia. Kita memilih malam minggu dengan alun-alun ini karena lokasinya strategis dan bisa dinikmati banyak warga Banyumas untuk memperkenalkan warga Sulawesi," ujar Andi.
Menurut Andi, kegiatan tersebut merupakan festival budaya Sulawesi pertama yang digelar di Purwokerto. Persiapannya dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa asal Sulawesi dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Unsoed, UIN Saizu, Universitas Telkom, UMP, dan Universitas Harapan Bangsa.
Persiapan berlangsung sekitar dua bulan. Para mahasiswa berlatih setiap malam setelah kuliah dan melaksanakan gladi kotor selama dua hari.
Ketua Panitia Festival Budaya Sulawesi, Putra Mesila Hasri, mengatakan festival tidak hanya bertujuan memperkenalkan kesenian daerah, tetapi juga mempererat silaturahmi mahasiswa dan masyarakat Sulawesi yang berada di Banyumas.
"Tujuan kami menyatukan dan melestarikan budaya-budaya kami yang ada di Sulawesi," kata Putra.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian masyarakat adalah tari Malulo. Tarian tersebut dilakukan dengan membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan. Masyarakat Banyumas juga ikut bergabung dalam tarian bersama mahasiswa dan warga Sulawesi.
Putra berharap festival tersebut dapat menjadi agenda tahunan dengan konsep yang lebih besar. Ia menyebut kegiatan tahun ini menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan budaya Sulawesi di Banyumas.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyumas, Umar Mohari, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai festival mampu menciptakan suasana kebersamaan antara masyarakat Banyumas dan warga Sulawesi.
Menurut Umar, kegiatan budaya seperti ini perlu terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat dari daerah lain yang tinggal di Banyumas. Ia juga mengingatkan mahasiswa asal Sulawesi untuk menjaga kekompakan dan membawa nilai-nilai positif selama berada di tanah rantau.
"Kesan tentu saja sangat positif. mari kita jaga daerah masing-masing yang baik dibawa ke Banyumas yang jelek ditinggalkan, sehingga kita bersama-sama tetap menjaga NKRI ," ujar Umar.
Sementara itu, Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Bakesbangpol Banyumas, Raden Hermawan, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat.
Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya menghadirkan budaya Sulawesi, tetapi juga melibatkan berbagai suku yang tinggal di Banyumas. Menurutnya, Banyumas memiliki masyarakat dari berbagai latar belakang daerah yang dapat bersama-sama mengisi ruang budaya di wilayah tersebut.
"Harapan kami ke depannya ini tidak hanya dari Sulawesi, tetapi dari 14 suku yang ada di Kabupaten Banyumas," kata Raden.
Festival Budaya Sulawesi menjadi bentuk pemanfaatan Alun-Alun Purwokerto sebagai ruang publik untuk mempertemukan berbagai budaya. Keterlibatan masyarakat Banyumas dalam tari Malulo juga menunjukkan adanya interaksi langsung antara budaya Sulawesi dan masyarakat setempat.
Kegiatan ini diharapkan dapat berlanjut sebagai agenda tahunan sekaligus membuka ruang bagi kelompok masyarakat dari berbagai daerah untuk memperkenalkan budaya masing-masing di Banyumas. (Ilham Falih Qushoyyi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....