Mengenal Gondolio, Musik Khas Banyumas yang Tak Lekang oleh Zaman
- 20 Apr 2026 13:05 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID,Purwokerto - Gondolio, alat musik tradisional dengan suara nyaring yang dulunya digunakan untuk menemani petani berladang dan mengusir hama. Hingga kini, Gondolio masih dilestarikan di Desa Tambaknegara, satu-satunya di Kabupaten Banyumas dan bahkan dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Sanggar Seni Budaya SABAWANA, Rusdi, dalam Obrolan Budaya RRI Purwokerto.
Ia juga menambahkan, pada masa lalu, Gondolio hanya dimainkan oleh keturunan Ki Bangsa Setra, penemu alat musik tradisional ini. Namun, menyadari pentingnya regenerasi, komunitas seni setempat telah melakukan berbagai upaya dalam melibatkan generasi muda untuk mempertahankan tradisi ini tetap hidup dan tidak punah. Gondolio menggunakan bambu sebagai bahan utama. Hal ini membuat perawatan Gondolio cukup sulit.
“Suara yang dihasilkan cepat berubah, tergantung dari bahan bambunya,” ucap Rusdi.
Oleh karena itu, bambu yang digunakan haruslah yang berkualitas tinggi. Proses penebangan bambu hingga pembuatan alat musik ini juga harus mengikuti perhitungan tradisional Jawa agar suara yang dihasilkan bagus. Proses pengeringan bambu juga dilakukan secara alami, tanpa dipaksa dijemur dibawah sinar matahari.
Meskipun serupa angklung, kedua alat musik ini memiliki perbedaan, yakni dalam struktur dan fungsi musiknya. Angklung merupakan alat musik yang terdiri dari satu tabung bambu untuk satu nada. Sementara itu, Gondolio merupakan merupakan serangkaian alat yang terdiri dari empat nada dalam satu set, sehingga harmoni yang dihasilkan lebih kompleks.
Sementara itu Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat, Novi Utami, juga menyatakan dalam dialog bersama RRI bahwa pelestarian Gondolio patut dilakukan karena memiliki potensi yang unik dan dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata yang tidak dimiliki di tempat lain.
Kesenian Gondolio juga sudah seringkali ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung ke Desa Tambak Negara, seperti kunjungan dari Pusat Penyuluhan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga mahasiswa-mahasiswi yang datang dari berbagai daerah luar Jawa melalui program pertukaran mahasiswa.
Rusli, seorang seniman Gondolio mengaku pertama kali mengenal Gondolio ketika duduk di angku kelas 4 SD melalui ajakan sang ayah, Rusdi. Pada awalnya, Rusli hanya ikut sebagai vokalis dalam grup musik tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, Ia mulai belajar memainkan alat musik tersebut.
Rusli juga menambahkan bahwa perjalanannya untuk memainkan Gondolio membutuhkan dedikasi dan latihan yang intensif. Ketekunan dan kesabaran merupakan kunci dalam mempelajari alat musik tradisional ini.
“Kalau saya sendiri membutuhkan waktu cukup lama, sekitar tiga tahun” ungkap Rusli.
Rusdi juga menjelaskan bahwa Ia tidak secara khusus mempersiapkan Rusli untuk meneruskan kesenian Gondolio. Meskipun begitu, Rusli tetap merasa senang setiap memainkan alat musik tersebut, juga bukan karena paksaan dari ayahnya, melainkan karena keinginan pribadi.
Rusli bukanlah satu-satunya orang di desa Tambak Negara yang peduli pada kesenian Gondolio. Ada banyak pelaku seni lainnya yang juga peduli terhadap alat musik tradisional ini. Namun, sanggar yang dikelola Rusli adalah satu-satunya yang secara aktif berusaha meregenerasi Gondolio, dengan melibatkan generasi muda dalam latihan dan pertunjukkan.
Komitmen yang kuat untuk menjaga dan melestarikan Gondolio ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya, tetapi juga memastikan bahwa generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....