Membangun Masa Depan Batik Purbalingga: Regenerasi Pengrajin yang Kreatif

  • 16 Mar 2026 08:01 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga - Batik, sebagai karya seni warisan Indonesia yang diakui UNESCO pada 2009, telah mencerminkan kebudayaan dan tradisi bangsa sejak dulu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak pengrajin batik yang bermunculan.

Batik Dwi Putro merupakan salah satu usaha batik di Purbalingga yang didirikan sejak Juni 2017 oleh Eka Mulyono dan Kukuh Wardoyo. Usaha ini menggunakan teknik kombinasi, cap, dan tulis dalam pembuatan batiknya.

Batik Dwi Putro membuat batik dengan berbagai motif, mulai dari motif batik khas Purbalingga hingga motif kustom. Produk Batik Dwi Putro mencakup berbagai item seperti kain, sepatu, baju ready to wear, hingga tas dengan konsep zero waste pattern, sehingga dalam proses produksinya tidak akan ada kain yang terbuang. Kisaran harga produk juga bervariasi, tergantung pada jenis dan proses pembuatan, mulai dari 125 ribu rupiah hingga di atas 500 ribu rupiah.

Para pengrajin batik optimis bahwa prospek usaha batik sendiri kedepannya masih tergolong bagus. Jumlah pengrajin batik di Purbalingga masih banyak dengan total kurang lebih 400 pengrajin.

Meskipun demikian, penurunan drastis dalam jumlah orderan dan isu regenerasi diakui sebagai masalah umum yang dihadapi oleh pengrajin batik seluruh Indonesia. Hal inilah yang membuat mereka membutuhkan dukungan dari pemerintah, terutama dalam meningkatkan produksi batik dan menangani isu harga bahan baku yang mahal karena sebagian besar masih impor.

“Kita bahan baku kebanyakan untuk kain 70% masih impor terutama bahan baku kapas, jadi sampai di Indonesia pun bahan baku sudah menjadi mahal sehingga kita juga kesulitan untuk menjual murah,” ujar Kukuh Wardoyo dalam program Mozaik Indonesia di Pro1 RRI Purwokerto.

Terlebih lagi tantangan untuk mempertahankan daya tarik dan keaslian batik di tengah persaingan dengan produk tekstil luar, terutama dari China yang mampu meniru corak batik Indonesia dengan harga yang lebih murah. Sementara itu, sumber daya manusia (sdm) pengrajin batik juga semakin berkurang karena regenerasi yang semakin sulit.

“Kebanyakan umur 40 keatas. Regenerasi sulit untuk dilakukan padahal kita sudah mencoba ke sekolah-sekolah untuk pengenalan batik. Sayangnya, begitu pelatihan selesai gak ada yang jadi,” tambah Kukuh Wardoyo.

Kesadaran generasi muda juga menjadi faktor yang penting dalam upaya melestarikan dan mempertahankan eksistensi batik. Menurut Kukuh Wardoyo, batik harus dikenalkan sejak dini karena sangat disayangkan jika batik harus dicabut dari Warisan Budaya Tak Benda UNESCO karena tidak ada generasi yang melanjutkan.

Di tengah situasi yang demikian, Eka Mulyono juga masih berharap para pembatik di Indonesia tetap semangat dan konsisten dalam menuangkan ide kreatifnya ke dalam karya batik agar tetap lestari dan diakui dunia sebagai warisan adi luhur bangsa Indonesia.

Selain itu, harapan dari Kukuh Wardoyo juga ditujukan kepada pemerintah agar lebih peduli dan memberikan dukungan, terutama dalam memperkenalkan batik ke generasi muda hingga pembentukan regulasi terkait subsidi bahan baku agar harga jual bisa lebih terjangkau untuk masyarakat menengah kebawah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....