Skill Jadi Bekal Perempuan untuk Lebih Mandiri dan Berdaya

  • 06 Okt 2026 09:18 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Memiliki keterampilan menjadi salah satu bekal penting bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri sekaligus meningkatkan kemandirian. Dalam program Podcast Cerita Rumah Pro 1 RRI Purwokerto bersama Siti Latifah, A.Md., Kepala Balai Latihan Kerja Kabupaten Purbalingga, membahas pentingnya perempuan memiliki skill untuk membuka kesempatan bekerja, membantu ekonomi keluarga, serta menjadi lebih berdaya, Minggu (4/10/2026).

Dengan mengusung tema “Perempuan Wajib Punya Skill?”, pembahasan menyoroti bahwa keterampilan tidak hanya dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan. Skill juga dapat menjadi modal bagi perempuan untuk memiliki nilai lebih, mengembangkan kemampuan diri, hingga memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan peran dalam keluarga.

“Kalau wanita enggak punya skill, enggak punya keterampilan, tidak punya value, itu tidak bisa banyak peran yang bisa diambil. Walaupun menjadi ibu rumah tangga itu juga bukan sebuah kesalahan. Tapi in this economy, kalau enggak punya keterampilan tidak ada yang bisa dilakukan untuk menambah income, paling tidak untuk dirinya sendiri ataupun untuk keluarganya,” ujar Siti Latifah.

Perubahan kondisi ekonomi juga menjadi salah satu alasan perempuan perlu memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi peluang. Ketika kebutuhan keluarga semakin meningkat, keterampilan yang dimiliki perempuan dapat menjadi salah satu cara untuk ikut menopang kondisi ekonomi keluarga.

“Sang ayah mungkin sudah maksimal, sudah triple job bahkan, tapi masih saja tergerus dengan desakan ekonomi yang sekarang maka perempuan kadang turun tangan. Nah, dengan keterampilan inilah perempuan bisa lebih bervalue, bisa lebih berdaya lagi untuk menciptakan walaupun mungkin pendapatan yang diraih atau yang didapat itu berasal dari rumah sendiri tanpa dia harus meninggalkan keluarganya,” jelas Siti Latifah.

Keterampilan tersebut dapat menjadi jalan bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas dalam kehidupan keluarga. Terlebih, peningkatan kebutuhan rumah tangga dapat terjadi seiring pertumbuhan anak dan perkembangan pendidikan yang dibutuhkan.

Dalam pembahasan tersebut, Siti Latifah juga menjelaskan berbagai pelatihan yang tersedia di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Purbalingga. Pelatihan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari teknik, otomotif, tata boga, kecantikan, digital marketing, desain grafis, hingga komputer.

“Di BLK Purbalingga sendiri ada beberapa pelatihan yang ada yaitu teknik kelas, kemudian teknik otomotif, tataboga, kecantikan, kemudian digital marketing, ada lagi desain grafis, kemudian komputer. Nah, untuk yang paling banyak untuk perempuan itu ada di tataboga sama kecantikan,” ungkap Siti Latifah.

Keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tidak selalu harus berujung pada pekerjaan formal. Ketika seseorang belum bekerja, keterampilan tetap dapat memiliki nilai jual dan dikembangkan menjadi peluang usaha.

Selain bidang tata boga dan kecantikan, perempuan juga memiliki kesempatan mengikuti pelatihan di bidang teknik. Perempuan tidak perlu ragu memilih bidang keterampilan yang selama ini lebih banyak diminati laki-laki. Salah satunya terlihat dari adanya perempuan yang mengikuti pelatihan teknik las di BLK Purbalingga.

“Kalau untuk teknik pun sebenarnya kita juga tidak bermasalah kalau perempuan memilih. Kemarin ada beberapa kelas yang teknik, teknik las itu ada perempuannya saya sampai wow. Tapi enggak apa-apa karena mereka berani dan alhamdulillah lulus uji kompetensi karena semua pelatihan di Balai Latihan Kerja Purbalingga itu terakhir itu diuji kompetensi, ada sertifikat kompetensinya,” ungkapnya.

Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan di BLK Purbalingga. Dengan adanya sertifikat, keterampilan peserta memiliki bukti kompetensi yang dapat menjadi nilai tambah ketika mereka mencari pekerjaan maupun mengembangkan usaha.

Siti Latifah menjelaskan bahwa peserta perempuan yang mengikuti pelatihan juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri. Perempuan yang sudah berumah tangga terkadang khawatir meninggalkan anak, sementara sebagian lainnya merasa tidak mampu karena latar belakang pendidikan yang belum memberikan keterampilan tertentu.

“Kalau mereka sebenarnya ya itu tantangan terberatnya justru di diri sendiri harus mau mengalahkan keraguannya bahwa aku tuh sebenarnya bisa loh menambah value. Mungkin memang karena situasi tertentu kemarin sekolah di sekolah biasa, sekolah umum, tidak ada keterampilan. Tapi semakin ke sini ternyata aku butuh. Aku pengin mempelajari ini. Kita bisa bantu mereka untuk mengembangkan dirinya dengan pelatihan di tempat kami,” jelasnya.

Untuk membantu peserta mengatasi keraguan tersebut, BLK memberikan pendekatan sejak sebelum pelatihan dimulai. Peserta diwawancarai terlebih dahulu untuk melihat kesiapan sekaligus membantu mereka membangun keyakinan terhadap kemampuan diri. Dalam proses pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan hard skill sesuai kompetensi, tetapi juga soft skill seperti motivasi dan literasi keuangan.

Pelatihan juga disesuaikan dengan kompetensi yang diambil. Lama pelatihan dapat berbeda-beda, mulai dari sekitar 20 hari untuk tata rias dan kecantikan hingga lebih dari 30 hari untuk kompetensi tertentu. Penyesuaian tersebut dilakukan agar lulusan memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Siti Latifah juga menekankan pentingnya peserta menyelesaikan pelatihan hingga tuntas. Menurutnya, peserta tidak hanya diharapkan mendapatkan sertifikat telah mengikuti pelatihan, tetapi juga memperoleh sertifikat kompetensi setelah mengikuti ujian.

Di sisi lain, pengembangan skill bagi perempuan tidak harus dimulai dari sesuatu yang dianggap sulit. Siti Latifah justru menyarankan perempuan mengenali terlebih dahulu hal yang disukai atau menjadi hobinya. Dari sana, hobi dapat dikembangkan menjadi kemampuan yang memiliki nilai.

Memulai dari sesuatu yang disukai dinilai dapat membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Ketika seseorang menikmati bidang yang dipelajarinya, ia akan lebih mudah bertahan, mendalami kemampuan, dan mengembangkan keterampilan tersebut.

“Ya, buat semua teman-teman di luar sana sebagai seorang perempuan mulai sekarang ayo teman-teman gali potensi diri. Apa nih yang bisa dijadikan value? Apa nih yang bisa dijadikan kompeten? Potensinya apa? Kalau suka masak ya ayo belajar masak. Kalau suka kecantikan ya ayo belajar kecantikan,” pesan Siti Latifah.

Pesan tersebut menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk berkembang melalui kemampuan yang dimilikinya. Tidak semua perempuan harus memiliki keterampilan yang sama karena setiap orang memiliki minat dan potensi berbeda.

Potensi yang telah ditemukan kemudian dapat dikembangkan menjadi peluang untuk menambah pendapatan. Keterampilan tersebut juga dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhan pribadinya maupun membantu keluarga.

Melalui pelatihan yang tepat, sertifikasi kompetensi, serta keberanian mengalahkan rasa ragu, perempuan memiliki peluang untuk menjadi lebih mandiri dan berdaya. Skill yang dimiliki juga dapat menjadi modal untuk menghadapi kebutuhan ekonomi yang terus berkembang. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....