Media Sosial dan Keraguan dalam Menentukan Pilihan Hidup

  • 01 Okt 2026 09:12 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan dan keputusan yang telah dibuat. Beragam unggahan tentang keberhasilan orang lain terkadang memunculkan keraguan terhadap pilihan hidup sendiri.

Hal tersebut dibahas dalam program Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto, Selasa (29/9/2026), dengan tema “Kok Aku Jadi Ragu Sama Pilihanku Sendiri?”. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Uswatun Hasanah, S.Psi., M.A., mengatakan keraguan dapat muncul ketika seseorang melihat berbagai pencapaian orang lain di media sosial.

Menurutnya, seseorang yang awalnya membuka media sosial untuk mencari hiburan setelah menjalani aktivitas justru dapat merasa cemas setelah melihat unggahan teman-temannya. Misalnya, melihat teman yang telah mendapat pekerjaan, melanjutkan pendidikan, menikah, atau membuka usaha.

“Padahal kita sebelumnya cukup yakin dengan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba muncul pertanyaan, jangan-jangan aku sudah gagal, jangan-jangan aku salah milih. Harusnya aku kerja biar bisa kayak dia. Harusnya aku nikah aja biar bisa kayak dia,” ujar Uswatun.

Uswatun menjelaskan, persoalan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa lama seseorang menggunakan media sosial. Hal yang perlu diperhatikan adalah jenis konten yang dilihat, bagaimana seseorang menafsirkan konten tersebut, serta kondisi psikologis ketika menerima informasi dari media sosial.

“Jadi persoalannya ini sering kali bukan semata berapa banyak waktu yang kita habiskan di media sosial, sebenarnya, tapi apa yang kita lihat, bagaimana kita menafsirkan apa yang kita lihat di layar tersebut dan bagaimana kondisi kita pada saat lihat,” jelasnya.

Ia menambahkan, media sosial saat ini telah menjadi salah satu ruang dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai platform menghadirkan banyak gambaran mengenai kehidupan orang lain secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat mendorong seseorang melakukan upward comparison atau membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap memiliki pencapaian lebih tinggi.

Menurut Uswatun, kecenderungan membandingkan diri juga dapat dialami remaja yang sedang berada dalam tahap pembentukan identitas. Kehadiran dunia digital membuat ruang pembanding menjadi semakin luas sehingga seseorang dapat membandingkan dirinya dengan lebih banyak orang dan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Overthinking sebenarnya pola pikir kita yang tidak hanya muncul karena pola perbandingan itu tadi, tapi dia adalah akumulasi dari banyak hal. Misalkan terlalu banyak stimulasi, terus kemudian sebenarnya ada luka-luka yang belum selesai,” ungkapnya.

Untuk menghadapi keraguan terhadap pilihan hidup, Uswatun menyarankan agar seseorang tidak terburu-buru mengubah keputusan hanya karena melihat kehidupan orang lain di media sosial. Pilihan yang telah dibuat perlu dipertimbangkan kembali secara matang dengan melihat alasan, kondisi, serta dampaknya bagi diri sendiri.

Jika sebuah pilihan masih dapat dipertahankan dan sesuai dengan kondisi diri, keputusan tersebut dapat dilanjutkan. Namun, apabila memang perlu dilakukan perubahan, seseorang dapat melihat sisi positif dari perubahan tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari proses perkembangan diri. (Dwi Anis)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....