Pilih Circle Positif, Remaja Terhindar Pengaruh Narkoba

  • 18 Sep 2026 13:58 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga: Remaja dinilai perlu lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan untuk mencegah pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba. Pertemanan yang sehat ditandai dengan adanya rasa nyaman, kebebasan menentukan pilihan, serta sikap saling mendukung untuk melakukan hal-hal positif.

Penyuluh sekaligus Ketua Tim Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNNK Purbalingga, Asni Setiyasih, S.Sos, dalam dialog SPADA Pro 2 RRI Purwokerto, Kamis (17/9/26), mengatakan, remaja sebagai makhluk sosial tetap membutuhkan teman untuk berbagi, memperoleh dukungan, maupun melakukan berbagai aktivitas. Namun, lingkungan pertemanan tidak selalu memberikan pengaruh yang positif sehingga perlu dikenali secara bertahap melalui komunikasi dan interaksi.

Menurutnya, salah satu tanda pertemanan mulai mengarah pada kondisi yang tidak sehat adalah munculnya paksaan untuk mengikuti keinginan teman. Tekanan juga dapat terlihat dari sikap tidak menghargai pilihan pribadi hingga ancaman akan dikucilkan apabila tidak mengikuti kemauan kelompok.

“Pertemanan yang baik tentunya kita saling support, saling dukung untuk menuju suatu kebaikan,” kata Asni.

Ia menjelaskan, tekanan dari lingkungan pertemanan perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Asni menyebut, berdasarkan hasil penelitian dan pengukuran angka prevalensi yang disampaikannya dalam dialog, sebagian besar orang yang pernah menggunakan narkoba mengaku memperoleh narkoba dari teman.

Karena itu, Asni mengingatkan remaja untuk tetap berpegang pada tujuan hidup dan tidak mengorbankan kenyamanan maupun prinsip pribadi hanya demi mempertahankan pertemanan. Menurutnya, kehilangan atau menjauh sementara dari sebuah kelompok bukan berarti seseorang tidak dapat memiliki teman lain.

Asni menyarankan agar remaja tidak harus langsung memutus hubungan ketika menghadapi lingkungan pertemanan yang kurang sehat. Intensitas pertemuan dan komunikasi dapat dikurangi secara bertahap, sembari mengarahkan pembicaraan maupun aktivitas ke hal-hal yang lebih positif.

Ia menambahkan, pertemanan yang suportif sebaiknya membuat setiap anggotanya dapat tumbuh bersama, bukan justru saling menjatuhkan. Teman yang memiliki minat atau hobi serupa, saling memahami, dan bersedia memberikan bantuan dinilai dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....