Menjalankan Amanah sebagai Bentuk Tanggung Jawab Kehidupan

  • 07 Sep 2026 09:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Amanah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak hanya berkaitan dengan menjaga titipan berupa barang atau harta, amanah juga hadir dalam berbagai peran, pekerjaan, jabatan, waktu, kesehatan, hingga kepercayaan yang diberikan orang lain. Karena itu, setiap amanah yang diterima tidak cukup hanya dijalankan, tetapi juga perlu dipertanggungjawabkan melalui kontribusi dan manfaat yang dihasilkan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I yang membahas “Amanah dalam Kehidupan: Antara Tanggung Jawab dan Pertanggungjawaban” pada Minggu, 6 September 2026. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa amanah merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalankan kehidupan.

Amanah kerap dipahami sebagai sesuatu yang dititipkan dan harus dijaga. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, makna amanah memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Menjadi orang tua, pasangan, pekerja, maupun pemegang jabatan merupakan bentuk amanah yang harus dijalankan dengan baik. Begitu pula dengan waktu, kesehatan, ilmu, harta, dan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain. Semua hal tersebut menjadi bagian dari amanah yang melekat pada kehidupan manusia.

Dalam pembahasan tersebut, narasumber menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi positif dalam kehidupan. Kontribusi tersebut tidak hanya ditujukan untuk kepentingan sendiri, tetapi juga dapat diperluas kepada orang lain, masyarakat bahkan negara.

Dengan demikian, amanah tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang telah menjalankan tugasnya atau belum. Lebih jauh, terdapat pertanyaan mengenai manfaat apa yang dihasilkan dari amanah tersebut.

Menurut Ustaz Shofiyulloh, kontribusi menjadi salah satu ukuran penting dalam menjalankan amanah. Setiap amanah yang diterima perlu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat sesuai dengan kapasitas dan peran masing-masing.

“Jadi inti dari amanah itu adalah kontribusi,” ujarnya.

Ia memberikan gambaran bahwa ketika seseorang memperoleh amanah untuk mengurus anak, misalnya, maka perlu dipikirkan kontribusi apa yang dapat diberikan melalui peran tersebut. Begitu pula dengan harta yang dimiliki. Harta bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga perlu dipertimbangkan manfaatnya bagi orang lain dan masyarakat.

Semakin luas kontribusi positif yang diberikan, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan. Karena itu, menjalankan amanah tidak hanya berkaitan dengan memenuhi kewajiban, tetapi juga bagaimana tanggung jawab tersebut menghasilkan kemaslahatan.

Amanah juga berkaitan erat dengan pertanggunjawaban. Setiap hal yang dilakukan manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana amanah tersebut dijalankan. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa amanah yang diberikan kepada manusia harus disampaikan dan dijalankan secara tepat sasaran. Karena itu, tidak boleh ada penyelewengan yang menyebabkan amanah kehilangan manfaatnya.

“Jadi amanah-amanah yang dilakukan itu harus tepat sasaran, tidak boleh kemudian ada penyelewengan dan lain sebagainya,” jelasnya.

Menurutnya, apabila sebuah amanah menghasilkan kontribusi positif, manfaat, serta dampak yang baik, maka pertanggungjawabannya juga akan mudah dilakukan. Konsep tersebut kemudian dianalogikan dengan laporan pertanggungjawaban atau LPJ dalam sebuah kegiatan.

Jika dalam sebuah program yang dinilai adalah pelaksanaan program, manfaat, serta dampaknya, maka kehidupan manusia juga memiliki bentuk “LPJ” yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Pertanyaan mengenai kontribusi juga muncul dari pendengar. Salah satunya mempertanyakan apakah seseorang yang memiliki keterbatasan kemampuan tetap dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan.

Menjawab hal tersebut, Ustaz Shofiyulloh menekankan bahwa kontribusi tidak harus selalui dimulai dari sesuatu yang besar. Dalam islam, seseorang dianjurkan melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi tetap memastikan adanya manfaat yang dihasilkan.

“Sekecil apapun asalkan memeri manfaat enggak masalah,” tuturnya.

Dengan demikian, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkontribusi. Seseorang dapat memulai dari hal sederhana yang mampu dilakukan dan kemudian berusaha memperluas manfaatnya. Kontribusi juga tidak harus selalu berbentuk materi. Waktu, tenaga, ilmu, perhatian, maupun kemampuan yang dimiliki dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Salah satu amanah yang memiliki peran penting dalam kehidupan adalah ilmu. Ilmu tidak hanya mnejadi sesuatu yang dimiliki untuk kepentingan pribadi, tetapi juga merupakan alat untuk memperluas kontribusi.

Menurut Ustaz Shofiyulloh, semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semestinya semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang digunakan dan menghasilkan kemanfaatan bagi orang lain.

“Ilmu yang bermanfaat itu ilmu yang memiliki kontribusi,” jelasnya.

Ia kemudian mencontohkan para ulama yang kontribusi keilmuannya tetap dirasakan hingga sekarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang diberikan kepada orang lain dapat terus menghasilkan manfaat, bahkan melampaui kehidupan orang yang menyampaikannya.

Kontribusi tersebut dapat menciptakan manfaat yang berkelanjutan. Seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada murid, misalnya, turut memberikan kontribusi ketika ilmu tersebut kembali digunakan oleh murid untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Amanah juga menjadi hal penting dalam menjalankan pekerjaan dan jabatan. Ketika seseorang menerima suatu posisi, terdapat tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai dengan peran yang telah diberikan. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang telah menerima pekerjaan, dikukuhkan dalam suatu posisi, serta menyatakan kesanggupan menjalankan tugas, maka terdapat peran yang harus dilaksanakan. Apabila janji tersebut tidak dijalankan, persoalan amanah pun muncul karena terdapat tanggung jawab yang tidak ditunaikan.

Dalam konteks pekerjaan, seseorang tidak hanya dituntut untuk hadir dan menerima haknya, tetapi juga memberikan kontribudi sesuai dengan tanggung jawab yang melekat pada posisinya. Karena itu, amanah dalam pekerjaan berkaitan erat dengan integritas, komitmen, dan kesediaan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Pembahasan mengenai amanah pada akhirnya mengajak setiap orang untuk kembali melihat peran yang dijalani dalam kehidupan. Setiap orang memiliki amanah, sekecil apa pun bentuknya, dan setiap amanah memiliki tanggung jawab yang menyertainya.

Pertanyaan yang perlu terus direnungkan bukan hanya mengenai amanah apa yang telah diterima, tetapi juga kontribusi apa yang telah diberikan melalui amanah tersebut. Apakah manfaatnya hanya dirasakan oleh diri sendiri, atau sudah memberikan dampak kepada orang lain dan lingkungan yang lebih luas?

Menjalankan amanah berarti berusaha melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya sekaligus memastikan adanya manfaat yang dihasilkan. Sebab, amanah bukan sekadar sesuatu yang diterima, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan,

Dengan memahami amanah sebagai bentuk tanggung jawab dan kontribusi, setiap peran dalam kehidupan dapat menjadi kesempatan untuk memberikan manfaat. Dari hal kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kontribusi dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas dan memberi dampak positif bagi kehidupan bersama. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....