Kekuasaan dan Kemewahan Memicu Kerusakan Moral

  • 14 Sep 2026 15:43 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kemajuan suatu masyarakat tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan moral. Ketika kemakmuran dan kekuasaan tidak diimbangi dengan nilai-nilai kebaikan, kehidupan masyarakat justru dapat bergeser menuju gaya hidup berlebihan, penyalahgunaan wewenang, hingga kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut disampaikan Ustaz Hendro Kuncoro, S.Pt. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Sabtu (12/9/2026).

Dengan mengusung tema “Kondisi Masyarakat Dunia Sebelum Kenabian Muhammad Saw Bagian 3” tersebut membahas kondisi masyarakat Romawi Timur sebelum kenabian Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengambil pelajaran dari perubahan kehidupan masyarakat pada masa tersebut.

“Romawi itu aslinya awal mulanya itu dibangun dengan konsep kemanusiaan yang bagus. Ada disiplin, ada kerja keras, ada hidup hemat, ada keluarga, begitu nilai-nilai kebaikan yang universal. Tapi kemudian ketika sudah berkembang semakin maju, semakin makmur, yang terjadi justru sebaliknya,” ujar Ustaz Hendro.

Pada awal perkembangannya, masyarakat Romawi justru dibangun dengan sejumlah nilai yang baik dan bersifat universal. Namun, kondisi tersebut mengalami perubahan ketika Romawi semakin berkembang dan makmur. Kemakmuran yang tidak disertai pengendalian diri akan mendorong munculnya gaya hidup hedonistik. Masyarakat, khususnya kalangan atas, mulai menjadikan kemewahan dan kesenangan dunia sebagai bagian penting dalam kehidupan. Kondisi tersebut kemudian beriringan dengan berbagai bentuk kerusakan moral dan penyalahgunaan kekuasaan.

Salah satu gambaran yang disampaikan Ustaz Hendro adalah kebiasaan pesta berlebihan di kalangan bangsawan Romawi. Ia menyebut kehidupan masyarakat kelas atas pada masa tersebut lekat dengan pesta makan yang dilakukan secara berlebihan. Kemewahan tidak lagi sekadar digunakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi simbol kesenangan dan status sosial.

Selain persoalan gaya hidup, kerusakan juga terlihat dari aspek moral. Ustaz Hendro menyebut adanya praktik perzinaan, prostitusi, dan hubungan seksual bebas yang menurut penjelasannya menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat kelas atas Romawi. Kondisi tersebut menunjukkan semakin melemahnya nilai keluarga sebagai institusi sosial yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kehidupan yang sehat dan bermartabat.

Kerusakan moral tersebut kemudian berjalan beriringan dengan persoalan politik dan ekonomi. Jabatan serta kekuasaan tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai amanah, tetapi dapat menjadi sarana memperoleh keuntungan pribadi.

“Jadi suap dan pemerasan, para gubernur di Provinsi Romawi memeras rakyat demi memperkaya diri sendiri. Sementara sistem hukum bisa disuap untuk melindungi orang kaya dari hukuman,” jelas Ustaz Hendro.

Kekuasaan dapat menjadi sumber persoalan ketika tidak disertai tanggung jawab moral. Jabatan yang seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat justru dapat berubah menjadi alat untuk memperoleh kekayaan dan mempertahankan kepentingan kelompok tertentu.

Kehidupan hedonistik membutuhkan sumber daya yang besar. Ketika keinginan untuk menikmati kemewahan semakin tinggi, berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan gaya hidup tersebut, termasuk pemerasan dan peperangan untuk memperoleh kekayaan dari wilayah lain.

“Kita diingatkan misalkan ayat-ayat yang awal kan alhakumut takasur hatta yurtumul maqobir, bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kalian masuk liang kubur,” ungkap Ustaz Hendro.

Ia menekankan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, termasuk jabatan yang pada akhirnya akan berakhir. Karena itu, seseorang yang memperoleh kedudukan tidak seharusnya merasa lebih istimewa dan bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat.

Ustaz Hendro kemudian memberikan gambaran melalui kehidupan Umar bin Khattab. Ia menceritakan bahwa Umar pernah diminta oleh majelis syura untuk menaikkan gajinya. Setelah mengikuti keputusan tersebut, Umar justru mempertanyakan apakah masih ada sisa uang dari gajinya ketika memasuki akhir bulan. Sikap tersebut menunjukkan cara pandang yang berbeda terhadap jabatan dan fasilitas. Kekuasaan bukan ditempatkan sebagai kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

“Kalau sampai akhir bulan itu masih punya duit kan berarti kan kebanyakan begitu lah. Ini kan luar biasa gitu. Beda dengan situasi di mana orang memanfaatkan jabatan kedudukan untuk menampung kekayaan kemudian diasumsikan mengenai pensiun hidup dari hal itu,” ujar Ustaz Hendro.

Pembahasan mengenai Romawi juga membawa Ustaz Hendro pada persoalan keberadaan agama dan tokoh agama di tengah masyarakat yang mengalami kerusakan moral. Menurutnya, kondisi masyarakat yang buruk bukan berarti pada masa tersebut tidak terdapat agama maupun orang-orang yang memahami agama.

Ia menjelaskan bahwa di berbagai wilayah pada masa itu terdapat ajaran dan tokoh agama. Di Romawi dikenal agama Nasrani, sementara di wilayah lain terdapat berbagai tradisi keagamaan. Namun, keberadaan agama tidak secara otomatis membuat seluruh masyarakat menjalankan nilai-nilai kebaikan.

Kisah Salman Al-Farisi menjadi salah satu contoh yang disampaikan dalam kajian. Ustaz Hendro menceritakan bagaimana Salman pernah bertemu dengan tokoh agama yang pada awalnya sangat dihormati masyarakat. Namun, setelah tokoh tersebut meninggal, diketahui bahwa harta yang diberikan masyarakat untuk kepentingan sosial justru disimpan untuk kepentingan pribadi.

Kisah tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa agama dapat kehilangan fungsi sosialnya apabila orang yang dipercaya memimpin justru menjadikannya sebagai sarana memperoleh keuntungan duniawi.

“Makanya wajar kalau kemudian di era di situasi seperti itu Allah Subhanahu wa taala membangkitkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam agar apa? Agar agama ini dikembalikan kepada fungsinya untuk orang-orang itu menjadi baik, taat, patuh kepada Allah Subhanahu wa taala,” jelas Ustaz Hendro.

Agama seharusnya mendorong manusia menjadi pribadi yang baik serta menjadikan kehidupan dunia sebagai sarana untuk beramal. Dengan demikian, nilai agama tidak berhenti pada simbol atau status seseorang, tetapi terlihat melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang pendengar juga menanyakan apakah kondisi Romawi kuno memiliki kemiripan dengan keadaan Indonesia saat ini. Menanggapi hal tersebut, Ustaz Hendro tidak secara langsung menyamakan keduanya. Namun, ia menjelaskan bahwa suatu negara perlu mewaspadai ketika terdapat penindasan dan kesenjangan yang terlalu besar antara pejabat dan masyarakat.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang pendengar juga menanyakan apakah kondisi Romawi kuno memiliki kemiripan dengan keadaan Indonesia saat ini. Menanggapi hal tersebut, Ustaz Hendro tidak secara langsung menyamakan keduanya. Namun, ia menjelaskan bahwa suatu negara perlu mewaspadai ketika terdapat penindasan dan kesenjangan yang terlalu besar antara pejabat dan masyarakat.

Persoalan kesenjangan juga berkaitan dengan bagaimana anggaran dan sumber daya publik digunakan. Ustaz Hendro menilai dana yang berasal dari masyarakat seharusnya kembali memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan digunakan untuk memenuhi gaya hidup berlebihan para pejabat.

“Kalau kemudian digunakan untuk bermewah-mewah para pejabat lah itu berarti problem gitu ya yang harus kita coba ingatkan dan kita perbaiki,” ujarnya.

Karena itu, perubahan tidak hanya bergantung pada pemimpin, tetapi juga pada masyarakat. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin dengan mempertimbangkan kualitas dan integritasnya. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu berani menolak praktik suap dan politik transaksional.

Perubahan besar akan sulit terjadi apabila masyarakat sendiri masih terbiasa menerima atau memberikan suap demi kepentingan tertentu. Perubahan moral harus berjalan dua arah, baik dari pemimpin maupun masyarakat.

Pada bagian akhir kajian, Ustaz Hendro kembali menekankan bahwa salah satu pelajaran penting dari kondisi Romawi kuno adalah bahaya gaya hidup hedonis, terlebih ketika melekat pada orang yang memiliki kekuasaan.

Menurutnya, jabatan, kedudukan, dan kehidupan dunia bukanlah tempat untuk mengejar kesenangan semata. Sebaliknya, semua itu seharusnya menjadi sarana untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Salah satu yang merusak kehidupan itu gaya hidup hedonis. Bersenang-senang kepada kehidupan dunia. Kalau ini melekat pada orang-orang yang disebut dengan pejabat, orang yang punya kekuasaan, kadang-kadang mereka memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya itu untuk mencari atau mendapatkan sumber-sumber kesenangan itu,” jelas Ustaz Hendro.

Ia menambahkan, kehadiran Rasulullah SAW membawa perubahan cara pandang terhadap dunia, termasuk terhadap jabatan dan kedudukan. Kehidupan dunia bukan menjadi tujuan akhir, tetapi tempat manusia menjalankan amal sebelum mempertanggungjawabkannya di akhirat.

“Maka kemudian dengan kehadiran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diingatkan dan dirubah bahwa yang namanya jabatan, kedudukan, dunia itu bukan tempat kesenangan, tapi tempat beramal saleh yang nanti kemudian hasilnya akan kita nikmati setelah kita meninggalkan dunia,” pungkasnya.

Melalui pembahasan mengenai Romawi kuno, kajian Mutiara Pagi mengajak pendengar melihat bahwa kemajuan dan kemakmuran perlu disertai dengan pengendalian diri serta nilai moral. Kekayaan, jabatan, dan berbagai fasilitas yang dimiliki seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjauh dari kepentingan masyarakat.

Sejarah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kerusakan dapat muncul ketika kesenangan dunia menjadi tujuan utama dan kekuasaan digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sebaliknya, kehidupan yang menempatkan jabatan sebagai amanah dan dunia sebagai sarana beramal dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....