Relasi antara Islam, Alam, dan Manusia: Amanah sebagai Fondasi Kehidupan
- 10 Jul 2026 14:28 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Dalam pandangan Islam, alam semesta bukanlah sekadar ruang hidup bagi manusia, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Relasi antara Islam, alam, dan manusia dibangun atas dasar amanah, keseimbangan, dan tanggung jawab moral. Manusia tidak ditempatkan sebagai pemilik mutlak alam, tetapi sebagai pengelola yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas segala tindakannya.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 29:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا
“Dialah Allah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa alam semesta diciptakan untuk manusia. Namun, pelimpahan tersebut tidak berarti manusia memiliki alam secara mutlak. Kepemilikan yang dimaksud adalah hak untuk mengambil manfaat, bukan hak untuk mengeksploitasi tanpa batas. Alam tetap milik Allah Swt, sementara manusia hanyalah penerima amanah.
Hal ini dibahas dalam dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto bersama Ismail, Lc., M.Hum selaku Dosen Tasawuf dan Psikoterapi Islam UIN Saizu Purwokerto. Tanah, udara, langit, laut, dan seluruh unsur alam merupakan ekspresi kebesaran Allah. Keberadaan alam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan material manusia, tetapi juga sebagai sarana mengenal Sang Pencipta. Dalam Islam, eksplorasi terhadap alam tidak dilarang, selama dilakukan dalam kerangka tadabbur, yaitu merenungi ciptaan Allah untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan keimanan.
Melalui tadabbur, manusia diajak untuk memahami bahwa eksplorasi alam seharusnya membuka wawasan, bukan merusak tatanan. Alam memiliki sistem dan batasan. Ketika manusia melampaui batas tersebut, keseimbangan akan terganggu. Di sinilah terjadi sistem simbiosis antara manusia dan alam: manusia bergantung pada alam, dan alam membutuhkan perlakuan yang bertanggung jawab dari manusia.
Islam secara tegas melarang perusakan lingkungan. Tindakan merusak alam mengandung unsur haram karena bertentangan dengan amanah Allah. Sebaliknya, menjaga dan melestarikan alam bernilai pahala. Bahkan, orang yang menjaga lingkungan dapat dipandang sedang menjalankan ibadah, karena ia menaati perintah Allah dan menjaga ciptaan-Nya.
Allah Swt. juga menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan dijadikan sebagai pemakmur bumi. Amanah ini mengandung makna bahwa manusia bertugas menjaga, merawat, dan mengelola alam demi keberlangsungan kehidupan. Allah memberikan alam sepenuhnya untuk kepentingan manusia, tetapi sekaligus membebani manusia dengan tanggung jawab moral agar tidak terjadi kerusakan.
Dalam kajiannya terhadap Surah Al-A’raf ayat 31, Ismail, Lc., M.Hum. memberikan catatan penting bahwa akar dari banyak bencana alam yang terjadi bersumber dari keserakahan manusia. Orientasi hidup yang hanya mengejar keuntungan, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, menjadi pemicu utama kerusakan alam. Pola pikir “yang penting untung” sering kali menutup mata terhadap akibat jangka panjang yang harus ditanggung bersama.
Padahal, sejauh apa pun manusia mengejar dunia, pada akhirnya semua akan kembali ke tanah ungkapnya. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan sikap bijak dan tanggung jawab dalam memperlakukan alam. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi persoalan mental dan etika manusia.
Kebijakan besar pemerintah pun pada dasarnya lahir dari mental manusia yang menjalankannya. Ketika mental serakah mendominasi, kebijakan berpotensi merusak. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya etika lingkungan, yaitu sikap sadar bahwa alam adalah milik Allah dan manusia wajib memperlakukannya dengan penuh tanggung jawab.
Dengan etika yang baik, manusia dapat menjalankan perannya sebagai pemakmur bumi, menjaga keseimbangan alam, dan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menjaga alam bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga panggilan iman. Sebab, siapa pun yang menjaga amanah Allah,
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....