Energi Surya dan Potensinya bagi Masa Depan Indonesia

  • 14 Sep 2026 08:28 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Kebutuhan energi listrik terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan aktivitas masyarakat. Di tengah kebutuhan tersebut, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, salah satu energi terbarukan yang besar, salah satunya energi surya. Dengan kondisi geografis sebagai negara tropis yang mendapatkan paparan matahari sepanjang tahun, energi surya dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan energi di masa depan.

Hal tesebut menjadi pembahasan dalam program Green Radio berjaringan Pro 1 Korwil 11 RRI pada Sabtu, (12/9/2026). Dalam program tersebut, hadir Suwatno Ibnusudiharjo dari PT. Khaira Energi Inovasi yang membahas potensi energi surya, tantangan ketahanan energi, hingga peluang pemanfaatannya bagi masyarakat.

Menurut Suwatno, energi merupakan kebutuhan mendasar dalam kehidupan modern. Perkembangan teknologi dan penggunaan kendaraan listrik turut meningkatkan kebutuhan terhadap pasokan listrik. Tidak hanya rumah tangga, kebutuhan listrik juga akan semakin besar untuk mendukung berbagai fasilitas, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik. Ia menilai peningkatan konsumsi listrik perlu diimbangi dengan pengembangan sumber energi yang mampu memenuhi kebutuhan dalam jangka panjang.

“Energi itu adalah permasalahan yang sangat mendasar,” ujar Suwatno dalam program tersebut.

Di sisi lain, Indonesia juga beberapa kali mengalami pemadaman listrik atau blackout. Menurut Suwatno, kondisi tersebut menunjukkan evaluasi terhadap sistem kelistrikan yang selama ini masih banyak mengandalkan pembangkit berskala besar dan terpusat.

Ketika terjadi gangguan pada pembangkit atau sistem utama, dampaknya dapat meluas ke banyak wilayah. Karena itu, sistem energi yang lebih tersebar dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko gangguan listrik dalam skala besar.

Indonesia memiliki keunggulan geografis karena berada di wilayah tropis. Matahari dapat ditemukan sepanjang tahun di berbagai wilayah tropis. Matahari dapat ditemukan sepanjang tahun di berbagai wilayah Indonesia sehingga energi surya memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Suwatno menyebut potensi energi surya Indonesia berdasarkan perhitungan pemerintah dapat mencapai sekitar 3.000 Gigawatt (GW). Namun, potensi tersebut menurutnya masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Indonesia itu kan kita salah satu negara tropis yang mataharinya hadir sepanjang tahun,” kata Suwatno.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sumber energi alternatif. Apalagi, penggunaan energi berbasis fosil menghadapi persoalan karena sumbernya terbatas, sementara kebutuhan energi terus meningkat.

Suwatno menilai energi surya ke depan berpotensi menjadi salah satu sumber energi utama. Perkembangan teknologi juga membuat panel surya, sistem digital, dan baterai penyimpangan energi semakin berkembang sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara lebih luas.

Salah satu keunggulan energi surya yang disoroti Suwatno adalah kemampuannya mendukung sistem pembangkit yang lebih terdistribusi. Panel surya dapat dipasang di berbagai lokasi, seperti rumah, sekolah, masjid, perkantoran, maupun fasilitas publik. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna listrik, tetapi juga memiliki peluang untuk berperan sebagai produsen energi.

“Dengan adanya energi surya ini artinya mencoba mengubah paradigma lama yang selama ini mereka hanya sekadar pengguna, mereka punya potensi juga menjadi produsen,” jelasnya.

Sistem pembangkit yang tersebar juga dinilai dapat membantu mengurangi dampak ketika terjadi gangguan listrik. Jika salah satu titik mengalami masalah, gangguan tersebut diharapkan tidak langsung berdampak luas seperti pada sistem pembangkit yang sangat terpusat.

Menurut Suwatno, energi surya bukan untuk menggantikan PLN, melainkan dapat menjadi bagian dari ekosistem energi yang saling melengkapi. Integrasi panel surya dengan baterai penyimpanan, smart grid, dan sistem digital dapat mendukung sistem kelisteikan yang lebih fleksibel.

Pengembangan energi surya tidak hanya berkaitan dengan penyediaan listrik, tetapi juga berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru. Menurut Suwatno, penggunaan panel surya akan membutuhkan berbagai komponen dan keahlian, mulai dari inverter, baterai, perangkat lunak pemantauan, hingga tenaga instalasi dan pemeliharaan.

Pengembangan tersebut juga dapat membuka ruang bagi UMKM, tenaga ahli, pelajar SMK, hingga akademisi untuk terlibat dalam rantai industri energi terbarukan.

“PLTS ini kan bukannya sekadar panel surya. Artinya ini akan membentuk mata rantai ekonomi dan mata rantai ekonomi akan membentuk rantai bisnis,” ujarnya.

Dengan demikian, pengembangan energi surya tidak hanya dipandang sebagai solusi terhadap kebutuhan listrik, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun industri pendukung di dalam negeri.

Pemanfaatan energi surya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Rumah tangga maupun pelaku usaha dapat memasang panel surya sesuai kebutuhan dan kapasitas yang tersedia. Suwatno menjelaskan bahwa perhitungan awal bahkan dapat dilakukan berdasarkan lokasi, daya listrik yang terpasang, serta tagihan listrik. Data lokasi dapat digunakan untuk memperkirakan luas atap dan potensi panel yang dapat dipasang.

Selain itu, sistem pemantauan berbasis perangkat lunak memungkinkan pengguna memantau kondisi panel, baterai, maupun jaringan secara berkala. Dengan sistem tersebut, gangguan dapat diketahui lebih awal sehingga langkah penanganan dapat dilakukan.

Energi surya juga dinilai memiliki fleksibilitas untuk menjangkau wilayah yang sulit memperoleh akses listeik melalui pembangunan jaringan konvesional. Kondisi ini menjadi relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah dengan karakteristik banyak wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda.

Meski memiliki potensi besar, peralihan meuju energi surya masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah persepsi masyarakat terhadap teknologi panel surya yang terkadang masih dipengaruhi pengalaman terhadap teknologi lama.

Menurut Suwatno, masyarakat membutuhkan edukasi agar memahami perkembangan teknologi energi surya saat ini. Ia menilai energi surya bukan teknologi baru, tetapi telah mengalami banyak perkembangan dari sisi kapasitas, baterai, hingga sistem digital.

“Jadi tantangannya memang harus edukasi, Mas. Walaupun ini bukan sesuatu yang baru,” tuturnya.

Karena itu, pemanfaatan energi surya membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, hingga tenaga terampil.

Bagi Suwatno, pengembangan energi terbarukan merupakan langkah antisipasi terhadap kemungkinan berkurangnya sumber energi fosil dan menurunnya ketersediaan sumber daya tertentu. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu terjadinya krisis atau pemadaman listrik sebelum mulai memikirkan alternatif energi.

“Jangan nunggu gelap dulu baru nyari terang,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia perlu mulai membangun ketangguhan energi melalui sumber energi yang beragam dan sistem pembangkit yang tidak sepenuhnya terpusat. Dengan potensi energi surya yang besar, pengembangannya dapat menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan kebutuhan energi Indonesia di masa depan.

Pada akhirnya, energi surya bukan hanya persoalan memasang panel di atas atap. Pengembangannya berkaitan dengan ketahanan energi, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat. Dengan pemanfaatan yang tepat serta dukungan edukasi dan kebijakan yang berkelanjutan, potensi energi surya Indonesia dapat menjadi salah satu modal penting menuju masa depan energi yang lebih tangguh. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....