Peran Masyarakat dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba
- 13 Sep 2026 21:00 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak dapat hanya mengandalkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan apparat penegak hukum. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan yang mampu melindungi keluarga, teman, dan generasi muda dari pengaruh penyalahgunaan narkoba.
Hal tersebut dibahas dalam segmen Spada Pro 2 RRI Purwokerto yang membahas tema “Nggak Cuma Jadi Penonton: Saatnya Masyarakat Bergerak Cegah Narkoba” pada Kamis (10/9/2026). Dalam dialog tersebut, hadir penyuluh BNN Kabupaten Banyumas, Siti Aminah, S.Sos atau yang akrab disapa Kak Mimin dan juga Putri Ika Pratiwi, A. Md yang akrab disapa Kak putri, menjelaskan berbagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN).
Pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan narkoba tidak berhenti pada pemberian informasi atau penyuluhan. Masyarakat juga didorong untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan sehingga dapat ikut menyampaikan edukasi kepada lingkungan di sekitarnya.
Kak Mimin menjelaskan bahwa BNNK Banyumas melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Menurutnya, masyarakat tidak hanya menjadi peserta pelatihan atau penyuluhan, tetapi juga dapat berperan menyebarkan edukasi kepada masyarakat lainnya.
Sementara itu, Kak Putri menegaskan bahwa ilmu yang diberikan kepada masyarakat diharapkan tidak berhenti pada individu yang menerima informasi tersebut.
“Jadi enggak cuma berhenti di dia ilmunya, tapi dibagikan,” ujar Kak Putri.
Salah satu contohnya dilakukan melalui pembimbingan teknis bagi penggiat P4GN yang melibatkan sekretaris desa dan sekretaris kelurahan, khususnya dari wilayah yang dikategorikan rawan, bahaya, dan waspada narkoba. Informasi mengenai P4GN juga disebarluaskan melalui komunitas Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di lingungan Rukun Tetangga (RT) di Kabupaten Banyumas untuk kemudian diteruskan dalam pertemuan rutin masyarakat.
| Baca juga: Generasi Produktif, Benteng Narkoba |
Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena persoalan narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan sosial. Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja sama dari berbagai lingkungan, mulai dari pendidikan, pemerintah, swasta, hingga masyarakat.
Kak Putri menyampaikan bahwa BNN tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi persoalan narkoba yang memiliki dampak luas.
“Memang sudah ada BNN dan aparat ya Mbak. Tapi yang namanya narkoba ini enggak cuma permasalahan hukum, tetapi juga permasalahan sosial yang harus melibatkan semua lini sector,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menerima dan menyebarluaskan informasi mengenai P4GN. Selain itu, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melaporkan apabila menemukan adanya penyalahgunaan narkoba kepada aparat atau BNN.
Kak Mimin kemudian menggambarkan masyarakat sebagai “mata dan tangan” BNN. Pasalnya, BNN tidak mungkin berada di setiap wilayah dan mengawasi lingkungan masyarakat selama 24 jam.
“Jadi kita memang membutuhkan mereka untuk menjadikan mata dan kaki kita. Jadi kalau ada informasi apapapun terkait dengan penyalahgunaan, ataupun terkait dengan peredaran, mereka bisa membantu kita ataupun melaporkan kepada kita,” lanjutnya.
Upaya pencegahan juga dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah memiliki keberanian untuk menolak ketika ditawari atau diajak menggunakan narkoba.
| Baca juga: Merdeka Dimulai dari Jauh dari Narkoba |
Kak Putri menjelaskan adanya tiga hal yang dapat menjadi bagian dari ketahanan diri, yaitu self-regulation, assertiveness, dan reaching out. Self-regulation berkaitan dengan kemampuan mengatur diri, assertiveness berarti berani mengatakan tidak ketika ditawari narkoba, sedangkan reaching out diwujudkan melalui keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan positif.
Selain itu, masyarakat juga perlu memiliki kepeduliaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketika menemukan teman atau anggota keluarga yang mulai terlibat menyalahgunaan narkoba, sikap yang dibutuhkan bukanlah membiarkan perhatian dan mengingatkan mengenai bahayanya.
Lingkungan pertemanan juga menjadi salah satu faktoe penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba, khususnya bagi generasi muda. Menurut Kak Mimin, pengaruh pertemanan dapat membawa seseorang kea rah positif maupun negatif.
Ia menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang disampaikan dalam dialog , 49% klien rehabilitasi mengalami penyalahgunaan narkoba karena bujukan teman. Tekanan dari lingkungan pertemanan dapat muncul dalam bentuk ajakan untuk mencoba atau anggapan bahwa seseorang tidak gaul apabila tidak mengikuti teman-temannya.
Karena itu, ia memilih lingkungan pertemanan yang baik menjadi langkah pencegahan yang penting. Hubungan pertemanan juga dapat diarahkan untuk saling menjaga dan mengingatkan ketika ada anggota berkelompok yang mulai berada dalam situasi berisiko.
Pencegahan narkoba juga dapat dilakukan melalui kegiatan positif seperti olahraga, musik, seni, maupun komunitas. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk menyalurkan minat sekaligus mengisi waktu dengan aktivitas yang sehat.
| Baca juga: DinkesPPKB Dorong Penguatan GenRe |
Komunitas bagkan dapat ikut bergerak bersama BNN melalui berbagai kegiatan sederhana, misalnya, membuat konten edukasi di media sosial, mengadakan penyalahgunaan dengan menghadirkan BNN, hingga mengikuti kegiatan tes urine.
BNNK Bayumas juga memiliki wadah bagi generasi muda yang ingin terlibat dalam gerakan antinarkoba, seperti Saka Anti Narkoba dan Kesatuan Aksi Pelajar Anti Narkoba (KAPA) yang telah tersedia di beberapa sekolah di Banyumas.
Pengguna media sosial juga perlu dilakukan secara bijak. Menurut Kak Mimin, media sosial dapat menjadi sarana edukasi mengenai bahaya narkoba, tetapi konten yang dibuat harus dikemas secara kreatif dan tidak justru membuat narkoba terlihat menarik. Kak Putri mengingatkan bahwa konten pencegahan sebaiknya lebih menonjolkan bahaya, akibat, serta ajakan untuk menolak penyalahgunaan narkoba.
Dalam mengajak masyarakat bergerak, BNNK Banyumas juga menekankan pentingnya pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing lingkungan. Pendekatan kekeluargaan dilakukan terlebih dahulu dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemerintah desa, sekolah, maupun pihak lain yang memiliki peran di lingkungan tersebut.
Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu menunggu adanya program besar untuk mulai berperan. Menurut Kak Mimin, kebiasaan sederhana seperti mengingatkan teman dan keluarga serta mengajak mereka mengikuti kegiatan positif dapat menjadi bagian dari pencegahan.
“Untuk melakukan sebuah penghargaan enggak perlu kegiatan yang besar, ya. Justru dari kebiasaan-kebiasaan yang kecil tapi dilakukan bersama dan rutin setiap hari,” ujarnya.
Kak Putri juga mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap cuek terhadap kondisi lingkungan. Kepedulian diperlukan agar orang-orang di sekitar dapat memperoleh bantuan dan tidak semakin jauh terjerumus dalaam penyalahgunaan narkoba.
Pencegahan narkoba pada akhirnya merupakan tanggung jawab bersama. Peran tersebut dapat dimulai dari keluarga, lingkungan pertemanan, sekolah, komunitas, tempat kerja, hingga medi sosial. Dengan masyarakat yang peduli dan saling menjaga, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan. (Tiara Chelsea)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....