Langkah Menghindari FOBO dari FOMO, dalam Bahaya Narkoba

  • 29 Agt 2026 11:24 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kini telah berkembang menjadi Fear of Being Out (FOBO) di kalangan remaja menjadi perhatian serius, terutama dalam konteks penyalahgunaan narkoba. Dalam diskusi bersama BNNK Cilacap di program SPADA Pro2 RRI Purwokerto Kamis 27 Agustus 2026, Kukuh Jamaludin, S.Kom selaku penyuluh BNNK Cilacap menekankan bahwa keinginan diterima dalam sebuah kelompok pertemanan/circle sering kali mengalahkan logika sehat anak muda.

"Jadi, untuk diterima, kita mungkin perlu membaur, kita perlu sama dengan mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka pakai," ucap Kukuh .

Sementara itu penyuluh BNNK Cilacap lainnya Annisa Prajna N., S.Psi selaku mengatakan keinginan ini muncul sebagai bagian dari fase alami manusia sebagai makhluk sosial yang mendambakan validasi. Usia remaja, yang berada dalam rentang 13 hingga 21 tahun, merupakan masa krusial dalam pencarian jati diri. Pada periode ini, pengaruh teman sebaya atau peer pressure memiliki daya tekan yang sangat kuat.

"Sebagian besar orang yang pakai narkoba itu nggak mungkin nggak tahu ya kalau narkoba itu berbahaya. Pasti tahu. Cuma itu tadi, keinginan untuk diterimanya itu mengalahkan logikanya gitu loh, Kak," tegas Annisa,

Banyak remaja merasa bahwa untuk dianggap solid atau tidak "cupu" oleh kelompoknya, mereka harus mengikuti gaya hidup yang ada, termasuk mencoba hal-hal berisiko seperti narkoba, meskipun mereka sebenarnya memahami bahayanya. Istilah FOBO, digambarkan level ekstrem dari FOMO, merujuk ketakutan mendalam untuk tersisih dari kelompok hingga bersedia melakukan tindakan berbahaya demi tetap diterima. Menjadi pintu gerbang utama masuknya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda, FOBO sering kali mengabaikan pertimbangan baik dan buruk karena prioritas utama mereka adalah pengakuan sosial.

Data dari BNNK Cilacap menunjukkan fakta yang cukup mencemaskan, di mana sekitar 80% klien remaja menjalani rehabilitasi yang memulai karena ajakan atau pengaruh teman sebaya. Pola ini ditemukan pada anak usia sekolah dasar, menunjukkan ancaman ini tidak mengenal batasan usia. Lingkungan toksik cenderung menormalisasi perilaku penyimpangan, sehingga anak muda merasa tindakan tersebut, hal yang lumrah.

Menanggapi tantangan ini, BNN kini lebih memfokuskan program pencegahan kepada remaja melalui inisiatif seperti "Ananda Bersinar" dan "Pendidik sebagai Anti Narkotika". Melalui program, remaja dibekali dengan tiga karakter utama: self-regulation atau kontrol penuh atas diri sendiri, assertiveness atau kemampuan untuk berani berkata tidak, serta reaching out atau keberanian untuk mencari bantuan profesional jika merasa kewalahan.

"Dimulai dari mampu berkata tidak atau assertiveness. Nah, kalau bisa dari dalam diri remaja bisa mengatakan tidak, itu kemungkinan akan bisa terhindar dari hal-hal yang kurang baik," tegas Kukuh.

Hal tersebut menjadi modal awal yang paling vital bagi seorang remaja untuk membentengi diri dari tekanan pertemanan. Remaja diajarkan menyadari alarm batin, menghadapi situasi yang merugikan. Jika pertemanan sudah mengarah tindakan berbahaya seperti narkoba, maka langkah terbaik mengambil jarak dan melakukan cut off demi melindungi masa depan diri sendiri.

Ciri-ciri circle yang sehat, menurut narasumber dari BNNK Cilacap, meliputi sikap saling menghargai batasan, keinginan untuk saling mengingatkan saat salah arah, mendukung perkembangan positif, dan memungkinkan setiap individu untuk menjadi diri sendiri dengan bahagia. Evaluasi pertemanan berkala sangat penting, memastikan lingkungan pergaulan dipilih benar-benar membawa dampak positif pertumbuhan diri, bukan justru menjerumuskan kehancuran.

Jika seorang terlanjur dalam lingkungan dekat dengan narkoba, langkah pertama harus dilakukan adalah berhenti menyangkal atau denial terhadap kenyataan. Tidak ada kata terlambat kembali ke jalan yang benar. Terutama berani mencari bantuan kepada pihak yang tepat seperti BNN.

"Hidup kamu berharga, anak muda. Jangan sampai karena keputusan yang salah di masa mudamu, kamu mempertaruhkan masa depanmu yang harusnya itu bernilai," pungkas Annisa.

Masa depan seorang anak muda sangatlah berharga dan tidak boleh dipertaruhkan hanya demi validasi pertemanan sesaat. Teman bisa berganti, namun masa depan adalah tanggung jawab pribadi. Dengan membentengi diri, memiliki hobi yang positif, serta berani mengambil keputusan yang benar, remaja dapat terhindar dari jeratan narkoba dan menjalani hidup dengan lebih bermakna. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....