Kebiasaan Rebahan dan Scrolling Dinilai Hambat Potensi Gen Z
- 11 Sep 2026 19:43 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Kebiasaan menghabiskan waktu dengan rebahan dan scrolling media sosial secara berlebihan dinilai dapat menghambat perkembangan potensi generasi Z. Kemudahan mengakses informasi melalui telepon pintar juga dapat membuat anak muda kehilangan fokus terhadap prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.
Kepala Jurusan Studi Agama dan Tasawuf UIN Saizu Purwokerto, Waliko, M.A, mengatakan penggunaan telepon pintar sebenarnya memberikan banyak manfaat, terutama dalam memperoleh pengetahuan dan mengikuti perkembangan informasi. Namun, penggunaan tanpa tujuan dapat memicu pergeseran perilaku yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.
“Waktunya banyak untuk sekolah kalau ada tujuan sih tidak apa-apa. Persoalannya adalah tanpa tujuan,” kata Waliko dalam Dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto, Jumat 11 September 2026.
Menurutnya, kebiasaan rebahan berlebihan dapat berkembang menjadi rasa malas yang berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat berbagai pekerjaan tertunda dan seseorang kehilangan arah karena waktu yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan diri justru habis untuk aktivitas yang kurang produktif.
Waliko menyebut terdapat tiga jebakan yang banyak dihadapi generasi Z, yakni scrolling, Fear of Missing Out (FOMO), dan overthinking. Kebiasaan scrolling dapat membuat waktu terbuang dan fokus terpecah, sedangkan FOMO membuat seseorang merasa tertinggal apabila tidak mengikuti sesuatu yang sedang viral.
Sementara itu, overthinking dapat membuat seseorang terlalu banyak menyusun rencana tanpa diikuti tindakan. Kondisi tersebut akhirnya membuat pekerjaan terus ditunda hingga waktu berlalu tanpa tujuan yang jelas.
Selain berdampak terhadap produktivitas, kebiasaan tersebut juga dinilai dapat memengaruhi kehidupan sosial dan spiritual. Kurangnya interaksi secara langsung dengan orang lain dapat memicu ketidakpercayaan diri, sementara kebiasaan menunda aktivitas juga dapat membuat seseorang menunda pelaksanaan ibadah.
Waliko menegaskan, istirahat tetap diperlukan untuk memulihkan tenaga dan menjaga kondisi mental. Namun, waktu istirahat seharusnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas sebelumnya, menyusun rencana, dan mempersiapkan diri kembali menjalankan berbagai kegiatan.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak membiarkan kemudahan teknologi membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan. Menurutnya, masa muda memiliki banyak peluang yang perlu dimanfaatkan melalui kegiatan produktif, pembelajaran, organisasi, maupun aktivitas sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....