Bijak Bermedia Sosial, Hindari Debat tanpa Substansi

  • 18 Sep 2026 14:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kebiasaan berkomentar di media sosial tanpa memahami persoalan secara menyeluruh dinilai dapat mendorong munculnya perdebatan. Pengguna media sosial perlu memahami substansi suatu isu dan mencari data maupun fakta sebelum menyampaikan pendapat.

Mizar Hilman P dari HMI Hukum Unsoed dalam dialog Academic Forum Pro 2 RRI Purwokerto, Kamis (17/9/26), mengatakan, media sosial memiliki dua sisi yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap cara seseorang berkomunikasi. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi ruang untuk melatih kemampuan menyampaikan argumen dan kritik, tetapi di sisi lain dapat menjadi tempat terjadinya perdebatan tanpa dasar yang kuat.

Menurutnya, persoalan muncul ketika seseorang langsung memberikan komentar terhadap sebuah isu tanpa memahami latar belakang dan substansinya. Perdebatan kemudian dapat berlanjut melalui saling balas komentar, sementara pihak yang terlibat belum tentu memahami persoalan secara utuh.

“Orang tidak mau mencari kebenarannya, tapi orang itu berlomba-lomba mempertahankan apa yang dia pahami. Mencari pembenaran yang belum tentu benar,” kata Mizar.

Ia menilai, media sosial seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencari sumber informasi secara komprehensif dan akurat sebelum seseorang menyampaikan pendapat. Dengan demikian, perdebatan tidak hanya menjadi upaya mempertahankan pendapat pribadi, tetapi dapat menghasilkan pembahasan yang lebih berbobot.

Mizar juga mengingatkan pengguna media sosial agar dapat membedakan kritik terhadap suatu persoalan dengan serangan terhadap pribadi. Menurutnya, dalam sejumlah perdebatan, orang justru menyerang pihak yang menyampaikan pendapat daripada membahas substansi persoalan yang sedang diperbincangkan.

“Kadang mengkritisi orangnya, atau attack person, karena kita sering lihat person attack itu jauh dari kata kritik yang positif,” ujarnya.

Menurut Mizar, kemampuan mendengarkan juga menjadi bagian penting dalam komunikasi. Mendengarkan tidak hanya berarti menerima suara melalui telinga, tetapi juga memahami argumen, pendapat, maupun persoalan yang disampaikan orang lain.

Ia menambahkan, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Karena itu, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, melainkan dapat menjadi bahan untuk bermusyawarah dan mencari solusi yang dapat diterima bersama.

Mizar mendorong anak muda untuk tetap berani menyampaikan argumentasi dan opini, tetapi dengan landasan yang kuat. Menurutnya, keberanian bersuara perlu diimbangi dengan kemampuan memahami persoalan, melakukan riset, serta menghargai pendapat orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....