FISIP Unsoed Radio Jadi Wadah Mahasiswa Asah Kemampuan Penyiaran
- 09 Sep 2026 11:30 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Ketertarikan terhadap dunia penyiaran dapat menjadi pintu bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik maupun organisasi. Tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan mikrofon, kegiatan penyiaran juga menuntut kemampuan mengolah informasi, berimprovisasi, bekerja sama, serta menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang terjadi selama siaran.
Dalam program Special Talk Pro 2 RRI Purwokerto bertema “Radio Day with Radio Crew” dengan rangka menyambut Hari Radio yang diperingati pada tanggal 11 September, hadir Anyahdiyani Salsabila dan Amanda Nur Eastia dari FISIP Unsoed Radio sebagai narasumber pada Selasa (8/9/2026).
Keberadaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP Unsoed Radio (FUR) memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh aktivitas penyiaran sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi melalui berbagai program yang disiarkan secara rutin. Hal tersebut juga menjadi salah satu pengalaman yang dirasakan Amanda dan Anya yang tergabung dalam UKM FUR.
Amanda mengaku pada mulanya belum memiliki ketertarikan terhadap dunia broadcasting. Namun, setelah melihat kegiatan yang dilakukan FUR, ia mulai tertarik untuk bergabung karena melihat lingkungan organisasi yang dianggap menarik dan menyenangkan.
“Dari awal aku tuh sebenarnya belum ada ketertarikan sama dunia broadcasting, cuman pas aku masuk ke Fisip itu aku langsung ngelihat wah ini UKM kayaknya menarik, kelihatannya friendly, asik dan benar aja pas aku join benar apa namanya ekspektasi aku terpenuhi banget sih,” ungkap Amanda.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap penyiaran tidak selalu menjadi alasan utama seseorang bergabung dalam sebuah radio kampus. Lingkungan organisasi dan kesempatan untuk mencoba pengalaman baru juga dapat menjadi faktor yang mendorong mahasiswa untuk mengenal dunia broadcasting lebih jauh.
Sementara itu, Anya memiliki pengalaman awal yang berbeda. Keterlibatannya di FUR berawal dari ketertarikannya terhadap aktivitas berbicara dan public speaking. Ia kemudian memilih bergabung sebagai announcer untuk menyalurkan ketertarikan tersebut sekaligus mendapatkan pengalaman baru dalam dunia penyiaran.
“Aku ini anaknya emang suka ngomong dan emang berkecimpung di dunia yang emang kaya public speaking gitu. Akhirnya aku nyobain dan beraniin diri aku buat join di Fisip Unsoed Radio (FUR),” ujar Anya.
Setelah bergabung, para anggota Fisip Unsoed Radio mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan siaran. Pengalaman pertama menjadi penyiar menjadi salah satu tahap yang cukup menantang karena mahasiswa harus mampu mengelola rasa gugup sekaligus menyampaikan informasi kepada pendengar secara lancar.
Baik Amanda maupun Anya sama-sama merasakan adanya rasa gugup ketika pertama kali menjalani siaran. Terlebih ketika harus melakukan siaran tanpa didampingi rekan yang sudah lebih berpengalaman. Kondisi tersebut membuat mereka harus mengandalkan kemampuan sendiri untuk tetap menjaga alur pembicaraan.
Anya bahkan pernah mendapatkan topik sosial politik ketika menjalani siaran. Menurutnya, topik tersebut cukup berat sehingga membutuhkan persiapan lebih agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.
“Pada saat aku internship juga di Fisip Unsoed Radio kaya beneran yang deg-deg an banget karena mungkin pada saat itu tiba-tiba pendamping aku juga engga ada...kita engga dapet briefingan apa-apa dan topiknya lumayan sensitif. Karena kebtulan pada saat itu aku ngebahas tentang dunia sosial politik,” ungkap Anya.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Dari setiap siaran, para announcer dituntut untuk semakin terbiasa berbicara secara spontan, memahami materi, serta menjaga komunikasi agar tetap menarik.
FISIP UNSOED Radio sendiri memiliki sejumlah program yang memberikan variasi topik kepada para pendengarnya. Program-program tersebut disiarkan dari Senin hingga Sabtu dengan karakter pembahasan yang berbeda-beda.
Salah satunya adalah AADC atau Ada Apa di Campus yang membahas berbagai hal berkaitan dengan kehidupan kampus. Program tersebut menjadi ruang bagi penyiar untuk mengangkat topik yang dekat dengan mahasiswa dan lingkungan perguruan tinggi. Selain itu terdapat Binsos atau Bincang Sospol yang mengangkat pembahasan mengenai isu sosial dan politik.
Program tersebut membuat penyiar tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga perlu memahami topik yang akan dibahas agar informasi yang diberikan tidak keluar dari konteks. Program lainnya adalah Under The Spotlight yang lebih banyak membahas musik, artis, film, serta berbagai hal yang berkaitan dengan dunia hiburan. Kemudian terdapat Pojok Misteri yang menghadirkan pembahasan bertema mistis dan horor.
Fisip Unsoed Radio juga memiliki Around The World yang membahas berbagai fakta unik serta budaya dari negara-negara di dunia. Sementara Sportiva menjadi salah satu program yang lebih baru dengan fokus pada dunia olahraga, termasuk membahas pemain hingga kisah kehidupan di balik dunia olahraga. Keberagaman program tersebut membuat anggota radio memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam berbagai jenis pembahasan.
Dalam proses produksi siaran, pekerjaan announcer juga tidak berdiri sendiri. Di balik sebuah program radio terdapat sejumlah anggota yang memiliki tanggung jawab berbeda untuk memastikan siaran dapat berjalan dengan baik.
Salah satunya adalah Program Director atau PD yang bertugas merancang script dan mencari informasi terkini melalui berbagai berita. Script yang telah disiapkan kemudian menjadi salah satu bahan yang digunakan penyiar sebagai panduan ketika berada di ruang siaran.
“Jadi di PD ini itu tuh mereka yang bakal ngerancang scriptnya gitu dan mereka yang bakal mencari tahu tentang info-info terkini lewat berita-berita yang memang lagi hangat banget dibicarain sama orang-orang gitu,” jelas Anya.
Selain PD, terdapat Technology Officer atau TO yang berhubungan dengan aspek teknis selama siaran berlangsung. TO membantu mengatur jalannya proses teknis, termasuk memberikan arahan kepada penyiar ketika harus memutar lagu maupun menjalankan bagian-bagian tertentu dalam program. Kemudian terdapat Music Director atau MD yang memiliki tanggung jawab berkaitan dengan musik yang digunakan dalam siaran. Keberadaan setiap posisi tersebut menunjukkan bahwa produksi radio membutuhkan kerja sama tim dan bukan hanya bergantung pada kemampuan penyiar.
Sementara bagi announcer sendiri, kemampuan membaca script bukan menjadi satu-satunya hal yang diperlukan. Penyiar harus mampu membuat percakapan terdengar natural, menjaga intonasi, serta melakukan improvisasi ketika kondisi di lapangan tidak sesuai dengan rencana.
“Fun fact announcer itu atau penyiar itu dia enggak cuman ngomong ya, Guys, dia juga kayak belajar banget buat improvisasi karena improvisasi itu menurut aku juga penting banget,” ungkap Amanda.
Kemampuan improvisasi membuat penyiar tidak terlalu bergantung pada script. Ketika terdapat perubahan situasi atau kendala tertentu, penyiar tetap harus mampu menjaga percakapan agar tidak terhenti dan pendengar tetap merasa nyaman mengikuti program.
Untuk mendukung kelancaran siaran, para announcer juga memiliki sejumlah persiapan sebelum memasuki ruang siaran. Salah satunya dengan mengecek kembali script yang akan digunakan. Hal tersebut dilakukan agar penyiar mengetahui materi yang akan dibahas dan memahami alur program.
“Kalau misalkan dari aku pastinya untuk ngecek script gitu ya, karena skripnya kita kan dibuat sama beda orang, jadi kayak kita harus tahu isinya itu kayak gimana dan nanti kita siarannya tuh kayak gimana,” tutur Anya.
Selain mengecek materi, persiapan juga dilakukan dengan melakukan pemanasan suara. Para announcer melakukan “senam mulut” untuk membantu mempersiapkan artikulasi sebelum mulai berbicara di depan mikrofon. Anya juga memiliki kebiasaan melakukan latihan suara dengan mengucapkan huruf vokal seperti “A I U E O”. Hal tersebut menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan suara sebelum siaran berlangsung.
Kegiatan sebagai announcer juga tidak berhenti ketika siaran selesai. Para anggota FISIP UNSOED Radio turut diberikan tugas untuk membuat konten media sosial. Konten tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan program radio sekaligus melatih kreativitas anggota dalam mengikuti perkembangan tren.
Melalui pembuatan konten, mahasiswa juga dituntut untuk memikirkan ide yang menarik dan sesuai dengan karakter audiens. Dengan demikian, pengalaman di radio tidak hanya mengembangkan kemampuan berbicara, tetapi juga dapat melatih kemampuan berpikir kreatif dan memahami penggunaan media digital.
Selain mengembangkan kreativitas, para anggota juga mendapatkan pengalaman menghadapi berbagai kondisi yang tidak terduga ketika siaran. Salah satu pengalaman yang cukup berkesan terjadi ketika Fisip Unsoed Radio melakukan siaran kolaborasi dengan Ilmu Komunikasi dalam rangkaian kegiatan OSPEK.
Pada saat itu, terjadi kendala teknis berupa gangguan sinyal hingga komputer yang digunakan mengalami blue screen. Kondisi tersebut membuat jalannya siaran tidak sesuai dengan rencana awal. Bahkan, mikrofon masih dalam keadaan menyala ketika kendala terjadi.
Situasi tersebut membuat para penyiar harus mengambil keputusan secara cepat. Mereka kemudian tetap berbicara dan mengembangkan pembahasan sambil menunggu permasalahan teknis dapat diselesaikan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan improvisasi tidak hanya dibutuhkan untuk membuat siaran lebih menarik, tetapi juga dapat membantu penyiar ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Situasi tersebut membuat para penyiar harus mengambil keputusan secara cepat. Mereka kemudian tetap berbicara dan mengembangkan pembahasan sambil menunggu permasalahan teknis dapat diselesaikan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan improvisasi tidak hanya dibutuhkan untuk membuat siaran lebih menarik, tetapi juga dapat membantu penyiar ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Melalui Fisip Unsoed Radio, mahasiswa memiliki ruang untuk mengasah kemampuan tersebut secara langsung. Pengalaman dari setiap program, interaksi dengan pendengar, hingga berbagai kendala selama siaran menjadi bagian dari proses yang membentuk kemampuan para anggota sebagai calon komunikator. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....