Berita Lelayu Edhon: Teater Gethek Angkat Makna Berbeda dari Kematian
- 21 Sep 2026 15:15 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Kematian kerap dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan dan identik dengan kesedihan. Namun, pandangan berbeda mengenai kematian diangkat Teater Gethek melalui pementasan bertajuk “Berita Lelayu Edhon” yang menjadi bagian dari Swaraning Banyumas 2026. Pementasan tersebut dibahas dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto bersama Kang Edhon selaku Director Teater Gethek dan Biyel selaku PR (produksi) Pentas Teater Gethek, Minggu (20/9/2026).
Dengan mengusung tema “Swaraning Banyumas 2026: Berita Lelayu Edhon”, pementasan ini mencoba melihat kematian dari sudut pandang yang berbeda. Jika kabar lelayu atau berita kematian umumnya identik dengan duka, Teater Gethek justru mengolahnya menjadi pertunjukan yang menghadirkan humor, refleksi, sekaligus pertanyaan mengenai bagaimana manusia memandang kehidupan dan kematian.
Teater Gethek sendiri memiliki filosofi yang berkaitan dengan gethek atau rakit sederhana yang umumnya dibuat dari bambu. Bagi kelompok tersebut, gethek menjadi simbol perjalanan dan upaya untuk bergerak dari satu tempat menuju tempat lainnya. Filosofi tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas kelompok seni yang terus berupaya mengembangkan kesenian di Banyumas.
Kang Edhon merupakan sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia teater. Sebelum mengembangkan kegiatan berkesenian di Banyumas, dirinya sempat tinggal selama sekitar delapan tahun di Yogyakarta. Pengalaman tersebut kemudian dibawa kembali ke daerah asalnya untuk mengembangkan kesenian di Banyumas dan Purwokerto. Menurutnya, kondisi ekosistem kesenian di Banyumas masih membutuhkan banyak ruang agar potensi seniman dapat berkembang dan dikenal masyarakat secara lebih luas.
Gagasan mengenai “Berita Lelayu Edhon” sendiri berawal dari keresahan Edhon terhadap cara pandang mengenai kematian yang selama ini lebih sering disampaikan dari sisi ketakutan.
“Jadi awalnya adalah saya agak marah ketika hampir setiap dai atau kiai atau ustadz ya kalau mengatakan tentang alam kubur itu kan siksa kubur yang disampaikan siksa kubur,” ujar Edhon.
Ide pementasan berangkat dari kegelisahan Edhon terhadap narasi mengenai kematian yang menurutnya terlalu sering diletakkan dalam kerangka ketakutan. Kegelisahan tersebut kemudian tidak berhenti sebagai kritik, tetapi dikembangkan menjadi gagasan artistik melalui pertunjukan teater.
“Padahal menurut saya Tuhan itu kan adil. Pasti ada dong nikmat kubur. Nah, saya ambil sisi nikmat. Saya ambil sisi nikmat biar imbang dengan para kiai suka bicara tentang siksa kubur. Maka ketika itu Berita Lelayu Edhon adalah berita kegembiraan. Bahwa okelah para manusia bahwa di alam kubur pun membahagiakan kok. Jadi jangan takut mati,” lanjut Edhon.
“Berita Lelayu Edon” tidak sekadar menjadikan kematian sebagai tema cerita, tetapi mencoba mengajak penonton memandang kematian sebagai bagian dari kehidupan yang dapat direnungkan dengan cara yang lebih ringan.
Kematian dalam pementasan tersebut juga tidak semata-mata digambarkan melalui suasana muram. Unsur komedi dan karakter-karakter yang berkaitan dengan gambaran masyarakat tentang makhluk gaib digunakan untuk membangun cerita.
Edhon menjelaskan bahwa konsep tersebut juga berangkat dari pandangannya mengenai istilah “arwah gentayangan”. Dalam pementasan, gagasan ini kemudian dikembangkan secara kreatif untuk menghadirkan karakter yang dapat menggoda sekaligus menghibur penonton. Gagasan pementasan tersebut kemudian dikembangkan bersama sejumlah pihak. Edhon sebelumnya memiliki gagasan untuk mengolah ide tersebut menjadi kumpulan naskah drama. Dari proses tersebut, muncul keputusan untuk terlebih dahulu menghadirkannya dalam bentuk pementasan.
“Awalnya aku kan surat sama Neo. Neo kan dominan di percetakan. Dia punya penerbitan sehingga aku punya gagasan seperti itu. Bagaimana kalau itu dibukukan menjadi sebuah kumpulan naskah drama dan sebagainya. Kemudian dipentaskan aja dulu. Nah, saya manut. Kemudian ketemulah Biyel ini,” ungkap Edhon.
Kemudian berkembang menjadi kolaborasi dengan sejumlah kelompok teater dari lingkungan perguruan tinggi. Kolaborasi tidak berarti seluruh kelompok menjadi pemain dalam satu pementasan, tetapi lebih banyak berperan sebagai fasilitator sesuai kebutuhan produksi.
Salah satunya adalah dukungan venue dari Teater Sianak di lingkungan UNSOED. Sementara itu, anggota dari Teater Perisai UMP turut bergabung dalam tim produksi, khususnya pada bagian tata cahaya. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pementasan teater tidak hanya dibangun oleh aktor di atas panggung, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai unsur di belakang pertunjukan.
Cerita “Berita Lelayu Edon” memiliki alur yang dikembangkan dari perjalanan rombongan Teater Gethek. Dalam ceritanya, rombongan yang melakukan perjalanan mengalami kecelakaan ketika melintasi wilayah Banyumas hingga akhirnya masuk ke Sungai Serayu. Peristiwa tersebut menjadi titik awal cerita mengenai kematian para tokoh di dalam pementasan. Setelah meninggalkan kehidupan dunia, mereka kemudian digambarkan saling berinteraksi dan mengalami berbagai kejadian di alam setelah kematian.
“Ban depan kanan meletus akhirnya oleng ke kanan dan masuk ke Serayu. Karena ini Swaraning Banyumas adalah pusatnya soal Serayu. Serayu itu dulu adalah Sira Ning Ayu. Sira Ayu berarti bening sekarang kan. Ini kemarahan berikutnya yang akhirnya kami semua itu meninggal karena budeknya Serayu karena nungsem. Nah, begitu meninggal semua itu kan ternyata yang meninggalkan raganya,” jelas Edhon.
Cerita kemudian berkembang menjadi perjalanan para tokoh setelah kematian. Mereka digambarkan saling berinteraksi di alam barzakh, sebelum kemudian cerita bergerak ke karakter-karakter yang mencoba menjadi memedi (setan) hingga sosok yang menggoda para pejabat.
Teater Gethek menggunakan humor untuk menyampaikan gagasan yang lebih luas. Kematian tidak hanya ditempatkan sebagai akhir kehidupan, tetapi menjadi pintu masuk untuk membicarakan berbagai persoalan sosial melalui bahasa teater yang lebih ringan.
Di sisi produksi, Biyel yang bertugas sebagai PR Pentas Teater Gethek menyebut persiapan pementasan telah berjalan cukup panjang. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah memperkenalkan Teater Gethek kepada masyarakat umum, khususnya di Purwokerto.
“Karena balik lagi ya Teater gethek itu kan biasanya memang di Ajibarang. Ketika kita mau pentas di Purwokerto, Biyel cukup kesulitan nih untuk menyebarluaskan berita bahwasanya kita nih ada pentas. Bahkan ketika sebar undangan pun masih banyak orang yang tanya gethek itu apa dan segala macamnya,” ujar Biyel.
Biyel bersama tim kemudian mulai membangun media sosial Teater Gethek dari awal. Konten mengenai pementasan, desain poster, tiket, hingga informasi kegiatan dibuat untuk memperkenalkan kelompok tersebut kepada masyarakat.
Upaya memperluas penonton juga dilakukan dengan menjual tiket secara langsung kepada mahasiswa dan menyebarkan undangan kepada berbagai kelompok teater di Purwokerto. Menurut Biyel, terdapat sekitar 14 kelompok teater yang turut dijangkau dalam proses penyebaran undangan.
Selain persoalan publikasi, Biyel juga menyoroti tantangan dalam menjangkau penonton di luar lingkungan mahasiswa. Menurutnya, kegiatan teater di Purwokerto sebenarnya cukup aktif, terutama di lingkungan perguruan tinggi. Namun, penontonnya masih banyak berasal dari kalangan mahasiswa.
“Karena di UNSOED sendiri itu banyak UKM teater yang setiap tahunnya itu setidaknya satu kali pentas. Cuma balik lagi ya, itu masih dalam ranah mahasiswa. Kebanyakan penonton pun ya penonton yang sama-sama mahasiswa, belum yang menyangkup ke mungkin teman-teman dari SMP, SMA atau bahkan masyarakat umum yang sudah usianya ke atas gitu. Itu jarang banget,” ungkap Biyel.
Bagi Biyel, keberadaan penonton dari berbagai kelompok usia penting agar teater tidak hanya berkembang sebagai kegiatan internal mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Persoalan lain yang muncul adalah keterbatasan ruang pertunjukan yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Edhon menilai keberadaan tempat pertunjukan yang dapat dimanfaatkan secara rutin akan membantu seniman membangun kebiasaan apresiasi seni di masyarakat.
Menurutnya, Purwokerto memiliki potensi seniman yang cukup besar, tetapi masih membutuhkan ekosistem yang dapat mempertemukan seniman dengan penonton secara konsisten.
Kondisi tersebut juga menjadi alasan penting mengapa pementasan “Berita Lelayu Edon” tidak hanya dimaknai sebagai sebuah pertunjukan. Pementasan menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali aktivitas teater kepada masyarakat sekaligus membuka percakapan mengenai kebutuhan ruang seni di Banyumas.
Dari sisi persiapan, Edhon menekankan bahwa kesiapan fisik menjadi hal penting sebelum naik ke atas panggung. Pertunjukan teater membutuhkan kemampuan vokal, daya ingat, serta stamina karena pemain harus tampil dan berkomunikasi dengan penonton selama pertunjukan berlangsung.
“Kalau dari saya sendiri itu persiapan paling prima adalah fisik, ya. Ini hampir sama dengan olahraga juga karena satu jam full harus gentawilan di panggung kan. Sehingga itu butuh fisik yang prima. Sementara saya perut semakin gendut, pusing juga. Tapi kami berusaha untuk selalu bagaimana agar sehat itu nempel di fisik saya,” ungkap Edhon.
Selain menjaga fisik, Edhon juga menjelaskan pentingnya menjaga kualitas vokal dan kemampuan menghafal naskah. Ia menyebut latihan membaca naskah secara serius menjadi salah satu cara yang digunakan untuk membantu pemain mengingat dialog.
Sementara itu, dari sisi produksi, Biyel bersama tim telah menjalankan berbagai persiapan selama sekitar dua bulan. Kegiatan tersebut mencakup pembuatan konten, desain materi promosi, penjualan tiket, penyebaran undangan, hingga persiapan venue.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan diskusi budaya dengan menghadirkan sejumlah seniman. Kehadiran diskusi menjadi bagian dari upaya memberikan ruang belajar bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang tertarik dengan seni pertunjukan.
“Teman-teman jangan lupa ya untuk hadir karena Teater Gethek akan ada pentas di hari Rabu 23 September 2026 bertempat di Aula FISIP. Kita open gate di jam 18.30 malam dan close gate di jam 19.30 malam. Jangan lupa teman-teman untuk datang karena dalam pentas kali ini akan sangat bermanfaat secara ilmu. Kenapa? Karena kita akan ada yang namanya diskusi budaya teman-teman,” ajak Biyel.
Melalui “Berita Lelayu Edon”, Teater Gethek tidak hanya menghadirkan cerita mengenai kematian. Pementasan tersebut menjadi ruang untuk mengolah keresahan, humor, kebudayaan Banyumas, sekaligus persoalan pengembangan seni pertunjukan di daerah.
Sebagaimana pesan Edhon pada akhir perbincangan, kehidupan dan kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Keduanya dapat dihadapi dengan kesadaran dan senyuman, sebagaimana semangat yang dibawa dalam pementasan “Berita Lelayu Edon”. (Novita Widya Putri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....