Radio Day with Radio Crew: Menyuarakan Kreativitas Anak Muda lewat Dunia Penyiaran

  • 09 Sep 2026 08:22 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Dunia penyiaran menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, sekaligus menyampaikan informasi kepada masyarakat. Di tengah perkembangan media sosial dan platform digital, radio tetap memiliki ruang untuk menjadi wadah bagi generasi muda dalam berkarya dan mengasah kemampuan.

Dalam program Special Talk Pro 2 Purwokerto dengan mengusung tema “Radio Day with Radio Crew” yang digelar dalam rangka menyambut Hari Radio. bersama Citra Purnamasari selaku General Manager dan Zulian Dwi Cahyo selaku Head of Broadcasting dari Radio Star UIN Saizu Purwokerto pada Senin (7/9/2026).

Radio Star sendiri merupakan komunitas yang berada di bawah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Saizu Purwokerto. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mempraktikkan kemampuan di bidang penyiaran. Hingga tahun ini, Radio Star telah memasuki usia 22 tahun.

Citra menjelaskan, keberadaan Radio Star tidak hanya ditujukan sebagai media untuk menyiarkan berbagai informasi, tetapi juga sebagai wadah bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa KPI, untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

“Kita ingin Radio Star itu sebagai wadah, khususnya teman-teman mahasiswa KPI, untuk melakukan praktik yang selaras dengan prodinya. Penyiaran nantinya bisa dipraktikkan di Radio Star dan Radio Star yang akan mewadahi itu,” ungkap Citra.

Mahasiswa yang bergabung dapat mempelajari berbagai teknik penyiaran sekaligus memahami bagaimana radio terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Karena mengarah ke generasi muda, program-program yang dibuat Radio Star juga dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter anak muda.

Pendekatan tersebut terlihat dari sejumlah program yang dimiliki Radio Star. Salah satunya menghadirkan obrolan mengenai isu yang dekat dengan generasi muda, sementara program lainnya mengangkat cerita, film, hingga pembahasan bernuansa horor dan motivasi.

“Makanya dari program-programnya kita lebih bersahabat dengan generasi-generasi sekarang yang lebih chill, lebih asik, dan lebih Gen Z,” ujar Citra.

Perkembangan media sosial turut menjadi perhatian dalam pengelolaan Radio Star. Citra mengatakan, keterbatasan siaran melalui frekuensi membuat Radio Star memanfaatkan platform digital yang lebih dekat dengan keseharian anak muda, terutama

Instagram dan TikTok. Melalui kedua platform tersebut, konten dan aktivitas Radio Star dapat menjangkau mahasiswa sekaligus membuka peluang agar radio tetap dikenal oleh generasi muda.

“Kita akhirnya alihkan kepada radiogram dengan memanfaatkan platform yang memang dekat dengan Gen Z, yaitu Instagram dan juga TikTok. Alhamdulillah interaksinya lumayan banyak yang suka. Kadang kan kita juga lebih seringnya scroll di ig atau tiktok.

Makanya kita beralih ke situ supaya tanpa sengaja mereka mendengarkan juga dan akhirnya jadi suka,” ujar Citra.

Pemanfaatan media sosial tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu harus dipandang sebagai pesaing radio. Sebaliknya, media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dan memperkenalkan kembali radio kepada generasi yang sehari-hari lebih banyak berinteraksi melalui platform digital.

Adapun keberadaan Radio Star tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengenai teknis penyiaran. Bagi anggotanya, keterlibatan dalam komunitas tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan keberanian tampil di depan publik.

Bagi Zulian Dwi Cahyo, ketertarikan terhadap dunia penyiaran tumbuh dari pengalaman panjang dalam kegiatan public speaking. Ketertarikannya berawal sejak duduk di bangku sekolah dasar ketika mengikuti lomba pidato bahasa Jawa. Pengalaman tersebut kemudian berlanjut melalui lomba pidato bahasa Inggris hingga debat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia saat SMA. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang hingga dirinya mengikuti ajang Duta Generasi Berencana pada 2023 dan meraih juara tiga Duta Genre Purbalingga.

“Berawal dari situ mulai muncul ketertarikan, ternyata seru dunia public speaking. Ngomong di depan umum ternyata seru ..... akhirnya ketertarikan itu semakin muncul, ditambah lagi ketika kuliah ada komunitas yang menurut saya bisa menjadi wadah untuk merealisasikan mimpi saya,” ujar Zulian.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya bergabung dengan Radio Star. Bagi Zulian, dunia radio menjadi salah satu ruang untuk merealisasikan ketertarikannya terhadap public speaking sekaligus mengembangkan kemampuan sebagai announcer.

Ia menilai, kemampuan public speaking menjadi salah satu keterampilan utama yang perlu dimiliki seseorang yang ingin terjun ke dunia penyiaran.

“Yang pertama yang paling harus dipunya atau kita pelajari itu pasti public speaking. Kita harus melebarkan lagi skill public speaking kita, karena announcer pasti berhubungan dengan audience, berbicara, dan komunikasi,” jelas Zulian.

Kemampuan tersebut bukan hanya dibutuhkan untuk membuat penyiar terdengar lancar ketika berbicara. Public speaking juga membantu penyiar menyampaikan informasi agar dapat dipahami oleh pendengar dari berbagai latar belakang.

Selain kemampuan berbicara, Citra menilai keinginan dan niat menjadi bagian penting ketika seseorang ingin bergabung dengan radio. Menurutnya, keterlibatan dalam dunia penyiaran perlu diawali dari kemauan untuk belajar dan berkembang.

Bagi mahasiswa yang ingin bergabung dengan Radio Star, pengalaman di radio juga tidak hanya terbatas pada menjadi announcer. Anggota muda diberikan kesempatan untuk mengenal berbagai divisi dan belajar bersama sebelum nantinya menentukan peran yang lebih spesifik.

Radio Star juga membuka kesempatan bagi mahasiswa baru untuk bergabung melalui rekrutmen anggota. Setelah menjadi anggota muda, mereka dapat mempelajari berbagai bidang yang ada di dalam komunitas tersebut.

Citra dan Zulian menilai radio masih memiliki relevansi di tengah perkembangan media digital. Radio dinilai tetap mampu menjadi sarana komunikasi sekaligus ruang untuk memperoleh informasi dan hiburan.

“Buat teman-teman Pro 2 dan crewstar yang ada di luar sana, ayo sama-sama kita dengarkan radio karena tentunya ini menjadi salah satu warisan siaran. Kita tidak hanya terbesit ke dalam media sosial ataupun visual yang ditampilkan melalui layar, tetapi kita juga bisa mendengarkan melalui radio,” tegas Zulian.

Sementara itu, Citra menekankan bahwa generasi muda juga memiliki peran dalam menjaga radio tetap hidup. Menurutnya, radio dapat menjadi media sekaligus wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan informasi dan menunjukkan eksistensi melalui karya.

“Kita sebagai mahasiswa terutama harus bisa menjadi pendengar ataupun penyampai informasi yang selektif, yang benar-benar informasinya benar. Radio itu sendiri menjadi sebuah media yang bisa kita gunakan untuk menyalurkan informasi tersebut dan menjadi wadah kita untuk bisa eksis,” ungkap Citra.

Keberadaan radio sebagai ruang bagi generasi muda juga perlu terus dihidupkan agar radio tetap menjadi media yang bersahabat, nyaman, dan dekat dengan masyarakat.

Program “Radio Day with Radio Crew” di Special Talk Pro 2 RRI Purwokerto menunjukkan bahwa dunia penyiaran masih memiliki tempat bagi kreativitas anak muda. Radio tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan public speaking, membangun kreativitas, serta menghasilkan karya.

Dengan memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari strategi menjangkau pendengar, radio dan generasi muda dapat berjalan beriringan. Kreativitas yang tumbuh dari ruang penyiaran pun dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga radio tetap dekat dengan generasi masa kini. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....