Radio Day With Radio Crew: Mengenal Dunia Radio dari Sisi Para Broadcaster
- 10 Sep 2026 13:31 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Radio tidak hanya tentang suara yang terdengar melalui frekuensi, tetapi juga tentang orang-orang di balik mikrofon yang menghadirkan informasi, hiburan, hingga teman bagi pendengarnya. Menjadi seorang broadcaster pun tidak selalu berawal dari cita-cita. Bagi sebagian orang, dunia radio justru menjadi ruang untuk mencoba hal baru, mengasah kemampuan komunikasi, sekaligus berani keluar dari zona nyaman
Hal tersebut tergambar dalam program Special Talks Pro 2 RRI Purwokerto “Radio Day With Radio Crew” pada Rabu, (9/9/2026). Program tersebut menghadiran dua broadcaster dari Paduka FM, yakni Rara Zee dan Krisna Aje. Keduanya membagikan pengalaman mengenai awal mula terjun ke dunia radio, proses beradaptasi, hingga berbagai hal yang mereka dapatkan selama menjadi broadcaster.
Rara merupakan broadcaster yang relative baru di dunia radio. Ia mulai terjun pada tahun 2025 setelah mengikuti lomba broadcasting di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Tidak disangka, percobaan tersebut membawanya meraih juara kedua.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal awal bagi Rara untuk mencoba melamar ketika Paduka FM membuka lowongan. Menariknya, Rara mengaku dirinya merupakan seorang introvert. Keputusan untuk menjadi broadcaster justru menjadi salah satu cara baginya untuk menantang diri sendiri agar lebih berani berkomunikasi bagi banyak orang.
“Karena sebenarnya as an introvert, itu pengen challenging diri, sebenarnya bisa enggak sih jadi extrovert terus punya komunikasi yang banyak,” ujar Rara.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Aje. Ia bergabung dengan Paduka FM pada bulan Oktober 2022 dan menjalani masa pelatihan sebelum mulai siaran pada Desember di tahun yang sama. Ketertarikannya terhadap radio muncul karena ia senang berbicara, tetapi tidak terlalu menyukai tampil di depan kamera.
Menurut Aje, radio memberinya ruang untuk tetap berbicara tanpa harus selalu tampil di depan layar. Ia juga mengaku sebagai pribadi yang introvert dan menjadikan dunia radio sebagai sarana untuk keluar dari zona nyaman.
Pengalaman Rara dan Aje sekaligus menunjukkan bahwa menjadi broadcaster tidak selalu identic dengan pribadi yang ekstrovert. Keduanya membuktikan bahwa seorang introvert tetap dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dan tampil percaya diri ketika tuntutan pekerjaan mengharuskannya.
Memasuki dunia broadcasting tentu membutuhkan proses adaptasi. Aje mengaku bahwa kesan pertamanya justru membuatnya merasa bahwa dunia radio bukanlah tempat yang cocok untuknya. Berada di lingkungan yang sudah lebih dulu berpengalaman membuatnya sempat merasa minder dan kesulitasn beradaptasi.
“Awal-awal itu ngerasa, oh ternyata kayaknya bukan dunia saya deh,” kata Aje.
Ia merasa perlu memaksakan diri untuk keluar dari zona nyaman hingga akhirnya terbiasa setelah menjalani dunia broadcasting selama beberapa tahun.
Sementara itu, Rara menghadapi tantangan yang berbeda. Sebagai broadcaster yang mengikuti fast track training, ia harus mempelajari berbagai hal dalam waktu singkat. Tidak hanya berbicara di depan mikrofon, seorang broadcaster juga perlu memahami peralatan studio seperti mixer dan komputer.
Rara mengaku sempat merasa kaget karena proses pelatihan berlangsung cepat. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya belajar beradaptasi dengan berbagai perangkat dan situasi yang ada di studio. Proses pelatihan yang dijalani keduanya juga berbeda. Aje menjalani pelatihan selama sekitar dua bulan. Pada tahap awal, ia melakukan rekaman di luar studio, membuat topik, hingga mempelajari smilling voice. Setelah itu, ia mengikuti pelatihan bersama penyiar senior dan mulai mempelajari penggunaan mixer serta teknik berbicara saat siaran.
Berbeda dengan Aje, Rara menjalani fast track training selama sekitar dua minggu. Ia berlatih melalui rekaman di studio maupun menggunakan telepon seluler, kemudian mempelajari teknik penggunaan mixer sebelum akhirnya mencoba siaran bersama broadcaster lainnya.
Bagi Rara pengalaman menjadi broadcaster memberikan banyak kemampuan baru. Ia tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar membuat topik, menjaga percakapan agar tetap menarik, serta merespons lawan bicara dengan cepat.
“Belajar banyak banget ternyata ya dari siaran kayak gini. Enggak Cuma jadi gimana cara kita berkomunikasi, tapi gimana juga cara kita tuh bisa bikin topik sendiri,” jelas Rara.
Menurutnya, situasi siaran langsung juga melatih kemampuan berpikit cepat. Berbeda dengan komunikasi melalui pesan teks yang memberikan waktu untuk menyusun jawaban, siaran menuntut broadcaster untuk dapat merespons secara langsung sekaligus mengatur kata-kata agar percakapan tetap berjalan.
Bagi Aje, pengalaman selama empat tahun di radio juga memberikan keuntungan lain, terutama dalam hal relasi. Menurutnya, dunia radio membuatnya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Ia juga merasakan manfaat lain karena lingkungan radio cukup dekar dengan berbagai kegiatan dan komunitas, termasuk lingkungan kampus.
Di tengah perkembangan media digital, tantangan radio juga ikut berubah. Aje menceritakan pengalamannya ketika harus mengajak pendengar untuk berpartisipasi dalam sebuah kuis saat talkshow. Menurutnya, keterlibatan pendengar melalui WhatsApp mulai menghadapi tantangan karena sebagian audiens kini juga aktif di platform seperti TikTok dan Instagram.
Meski demikian, bagi Aje, radio tetap memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi.
“Radio itu bukan sekadar media penyiaran, bukan sekadar media informasi, tapi kita tuh juga media hiburan yang bisa tetap nemenin kamu yang lagi butuh teman, yang lagi suntuk,” ujarnya.
Rara pun berharap radio dapat terus menjadi teman bagi pendengarnya kapan pun dibutuhkan. Tidak hanya melalui siaran dan musik, pendengar juga dapat berinteraksi dengan broadcaster melalui cerita, titip salam, maupun permintaan lagu.
Pada akhirnya, pengalaman Rara dan Aje memperlihatkan bahwa dunia radio bukan hanya tentang kemampuan berbicara di depan mikrofon. Di balik sebuah siaran terdapat proses belajar, keberanian keluar dari zona nyaman, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan berpikir dan merespons dengan cepat.
Bagi mereka, menjadi broadcaster juga menjadi ruang untuk terus mengembangkan diri. Dari seorang introvert yang awalnya ragu berbicara di depan banyak orang, dunia radio justru dapat menjadi tempat untuk menemukan kepercayaan diri dan mengasah kemampuan komunikasi. Radio pun tetap memiliki ruang hadir sebagai media informasi sekaligus hiburan yang menemani pendengar di tengah perubahan zaman. (Tiara Chelsea)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....